PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 150 "


"Bibi Mei sangat menyeramkan ketika marah, hiiii..." Gumam Yan Feng seraya menyirami tubuhnya dengan air.


Sementara Yan Feng tengah mandi dikamar mandi didalam kamarnya, Jia Li membuka pintu kamarnya dan masuk seraya membawakan pakaian ganti untuk Yan Feng.


"Yan Feng, ini baju gantimu bibi letakkan diatas kasurmu.." Ucap Jia Li memberitahukan.


"Terima kasih bibi Li..." Jawab Yan Feng seraya terus mengguyur tubuhnya dengan air.


Sepuluh menit kemudian, Yan Feng kemudian menyelesaikan mandinya dan langsung memakai baju ganti yang dibawa oleh Jia Li.


"Waah! Pakaian ini terlihat sangat keren! Warna hitam dengan garis-garis emas dan lukisan naga dipunggungku membuatku terlihat seperti seorang pangeran hehehe..." Yan Feng memuji dirinya sendiri dan terkekeh senang.


Setelah itu, ia langsung pergi menemui ibunya di halaman belakang karena di sanalah biasanya mereka akan makan bersama.


"Mana makananku? Apakah sudah siap? Jangan membuatku menunggu terlalu lama!.." Ujar Yan Feng tiba-tiba dan membuat semua orang terbengong.


Melihat itu seketika membuat Yun Mei terkekeh pelan dan paham jika Yan Feng saat ini tengah memerankan seorang pangeran yang sombong dan arogan.


"Sudah pangeran... Anda hanya tinggal memakannya, mari silahkan duduk!.." Jawab Yun Mei seraya tersenyum dan menarik sebuah kursi.


"Aaahhh!!! Ternyata begitu hehehe!!!.." Batin wanita lainnya yang mengerti dengan Yan Feng yang sedang memerankan seorang pangeran.


"Apakah pangeran ingin di suapi atau makan sendiri?.." Tanya Jia Li yang bersikap layaknya seorang pelayan.


"Ummm... Aku ingin disuapi!!.." Jawab Yan Feng yang telah duduk dan tersenyum sangat senang, ia merasa bahwa ia adalah benar-benar seorang pangeran.


"Baik pangeran, aku akan menyuapi anda..." Ujar Jia Li dan mulai menyuapinya.


Sementara itu Fei Fei hanya bisa geleng-geleng kepala karena tingkah putranya itu. Sedangkan Wu Sue bertugas sebagai tukang kipas dan tertawa dalam hati.


Keempat wanita membiarkan Yan Feng mau seperti apapun dia bertingkah saat ini selama itu tidak keterlaluan. Mereka pikir tidak apa-apa membiarkan Yan Feng seperti itu karena bagaimanapun juga Yan Feng masihlah seorang bocah berusia tujuh tahun.


Dibawah pelayanan keempat wanita cantik itu Yan Feng makan dengan sangat lahap hingga perutnya kembung, Yan Feng merasa dia adalah orang yang paling bahagia saat ini. Menatap itu ibunya dan semua orang hanya tertawa saja, mereka menikmati berbagai tingkah lucu Yan Feng.


Sementara Fei Fei tertawa sangat senang sampai-sampai ia meneteskan air mata kebahagiaan. Melihat putra semata wayangnya sangat bahagia seperti itu juga membuatnya sangat bahagia. Didalam hatinya dia benar-benar sangat berterimakasih karena telah berjumpa dengan orang-orang ini, terlebih lagi kepada Tang Lian. Fei Fei tidak akan pernah menyesal karena telah mencintainya, meskipun saat ini ia masih belum menjadi istri Tang Lian, namun itu sudah cukup baginya. Tidak pernah terpikirkan sedikitpun olehnya jika dia dan putranya akan mendapatkan kebahagiaan sebesar ini seumur hidupnya.


"Geeeekkkkk!!!..." Yan Feng mengeluarkan suara angin dari mulutnya karena sangat kenyang dan membuat semua orang semakin menjadi tertawa.


"Uuaaaahhh!!! Aku sangat kenyang... Kamu pijat kakiku!.." Perintah Yan Feng pada Yun Mei dan....


"PLETAK!.."


"Bocah bau! Jangan bertingkah terlalu jauh, aku yang menjahitkan pakaian itu untukmu, lalu sekarang kau ingin aku memijat kakimu? Apakah kau ingin telingamu lepas?.." Ancam Yun Mei setelah ia menggetok kepala Yan Feng lagi.


Mendengar itu Yan Feng langsung ketakutan dan meminta maaf, dan pada akhirnya ia kembali menjadi seorang Yan Feng seperti sebelumnya. Tingkah Yan Feng itu, membuat keempat wanita itu tertawa puas pada akhirnya.


Karena kekenyangan akhirnya Yan Feng tertidur diatas pangkuan ibunya. Fei Fei menatap wajah putra semata wayangnya itu dan mengelus rambutnya lalu menyanyikan sebuah lagu dengan sangat indah dan merdu. Suara Fei Fei seolah tiada tanding, seolah suaranyalah yang paling indah didunia dan membuat putranya tertidur semakin lelap.


Setelah Yan Feng tertidur, tiba-tiba Yun Mei yang sedari tadi tersenyum bahagia seketika mengelus perutnya yang telah sedikit membesar dan wajahnya berubah sedih. Didalam wajahnya terlihat ia sangat merindukan suaminya tercinta padahal mereka berpisah barulah dua minggu lebih.


Jia Li yang paham akan hal itu kemudian memeluknya karena ia juga merasakan hal yang sama.


"Kakak Mei, aku tau apa yang kamu pikirkan. Tapi percayalah sebentar lagi suami pasti akan kembali..." Ujarnya untuk menenangkan Yun Mei.


Melihat Jia Li yang sangat perhatian padanya, membuat Yun Mei kemudian tersenyum kembali dan mengangguk. Sedangkan didalam batinnya....


"Sejak aku menyuruh Lao Hu untuk menyusul suamiku, hatiku tidak bisa tenang. Aku harap tidak terjadi sesuatu yang buruk.."


Disisi Wu Sue, dia kemudian mengeluarkan alat musik Guzheng dan memainkannya dengan indah.


Alat Musik Guzheng :



Tiap petikan dari jarinya, mengeluarkan suara indah yang menenangkan jiwa. Begitulah Wu Sue memainkannya dan menghilangkan kesedihan Yun Mei dan Jia Li perlahan-lahan.


Sementara itu, disisi Wu Min. Ia tengah berlari mengelilingi sebuah bukit yang ada dibelakang sekte elang besi. Wu Min berlari dengan sebuah batu besar seberat tiga ratus kilogram diatasnya dan Wang Long mengawasinya dari atas pucuk sebuah pohon yang tinggi.


"Wu Min! Lakukan seratus putaran lagi dan kau bisa makan siang!.." Teriak Wang Long yang terus memperhatikan Wu Min tanpa mengedipkan matanya bahkan sekali pun.


"Baik guru!!.." Jawab Wu Min penuh semangat yang membara.


Meskipun Wu Min bersemangat, tapi sejujurnya ia sudah sangat lelah dan lapar, namun karena itu adalah perintah gurunya maka ia tidak berani menolak. Setiap harinya Wu Min akan dilatih tanpa ampun oleh Wang Long karena Wu Min sendirilah yang meminta.


Sejak kepergian Tang Lian dan Zhao Yu, Wu Min merasa dirinya hanya akan menjadi beban dimasa depan bagi Tang Lian jika ia tidak segera menjadi kuat. Oleh karena itu ia memohon pada Wang Long agar bersedia menjadi gurunya dan melatih dirinya hingga dia benar-benar pantas berdiri didamping Tang Lian.


Pada awalnya Wang Long ingin menolak, tetapi setelah ia melihat keseriusan, semangat, dan tekad yang membara dimata Wu Min akhirnya ia menyetujuinya dengan syarat Wu Min harus bersumpah setia kepada Tang Lian. Syarat itu langsung saja disetujui oleh Wu Min.


Didalam hatinya Wu Min tidak ingin ada lagi penyesalan didalam hatinya, ia tidak ingin lagi orang-orang yang berharga baginya ditindas oleh orang-orang hanya karena mereka lemah. Hampir kehilangan kakak perempuannya adalah hal yang sangat memalukan bagi Wu Min, dan sekarang ia benar-benar tidak ingin itu terjadi lagi.


Wu Min tidak akan pernah menyesali karena dia mengikuti Tang Lian, karena jika bukan karenanya, maka saat ini kakaknya pasti sudah mati dan ia akan tetap berada dijalan yang salah. Berjumpa dengan Tang Lian dan menjadi salah satu bawahnya adalah salah satu kebahagiaan yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata bagi Wu Min.