PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 218 "Kera Api Vs Banteng Tanduk Perak"


Sementara disisi Tang Lian, ia terus melompat dari pohon ke pohon dan terkadang berlari ditanah diikuti oleh kera api yang telah ia tundukkan dibelakang.


Mata Tang Lian melihat sekelilingnya, seolah ia sedang mencari sesuatu. Tentu saja yang ia cari adalah binatang buas lainnya, karena kera api telah menjadi budaknya jadi ia harus mencari binatang buas lainnya untuk di jual nanti.


Tidak lama setelah itu, tiba-tiba Tang Lian merasakan tanah bergetar, lantas ia pun menghentikan langkah nya. Dari kejauhan, terlihat satu persatu pohon betumbangan. Tang Lian menyeritkan keningnya menatap kearah asal dari tanah bergetar.


Sedangkan si kera api langsung memasang kuda-kuda siap bertarung.


"Muooo!.. " Seekor banteng mengamuk meraung dan menunjukkan dirinya. Banteng itu menghentakkan kakinya ke tanah dan tanah pun bergetar.


"Banteng tanduk perak!.. " Seru Tang Lian dengan mata berbinar.


Seperti namanya, banteng itu memiliki tanduk perak dengan hawa dingin dikedua tanduknya. Tang Lian menatap itu dengan sangat bersemangat, pasalnya banteng ini adalah binatang buas tingkat lima, sama seperti kera api yang sudah ia tundukkan. Banteng ini akan menjadi barang bagus untuk dijual, pikir Tang Lian.


Ketika Tang Lian bersiap dan ingin melancarkan serangan, ia dikejutkan dengan kera apinya yang tiba-tiba maju duluan.


"Rrooooaaarrr!.. " Kera api itu meraung dan menunjukkan banteng tanduk perak.


Tinjuan kera api tepat mengenai kening banteng itu dan membuatnya mundur terpaksa beberapa meter kebelakang.


"Muooooo!!.. " Banteng itu meraung marah, lalu berlari dengan cepat kearah kera api, mengarahkan kedua tanduknya yang tajam.


"Rroooaar!.. " Kera api tidak mau kalah, ia menggunakan kedua tangannya dan menangkap kedua tanduk banteng itu lalu dilemparkan ke sembarangan arah.


Banteng yang dilemparkan mengenai pohon dan tumbang.


"Oh? Ini tontonan yang menarik!.. " Gumam Tang Lian yang tertarik dengan pertarungan kedua binatang buas di depannya.


Kera api tidak ingin membuang waktu, ia melompat tinggi untuk mendekati banteng yang masih terkapar. Kera api menginjak-injak kepala banteng itu berulang kali.


"Rroooaaarr!.. " Kera api terus meraung dan menginjak-injak banteng itu lagi dan lagi. Dimata kera api itu, terdapat sorot mata tajam yang penuh dendam.


"Aneh sekali, apa kera ini punya dendam dengan banteng itu?.. " Gumam Tang Lian yang merasa aneh dengan kera api itu.


Setelah puas menginjak-injak kepala banteng hingga babak belur, kera itu meraih kedua tanduknya. Hawa dingin langsung menyelimuti kedua tangan kera itu. Tapi kera itu adalah kera api, musuh utama dari Jawa dingin si banteng.


"Rrroooaarr!.. " Kera itu meraung dan mengalirkan apinya dikedua tangannya.


Hawa dingin banteng itu langsung musnah seketika, menggunakan kesempatan itu, kera api mematahkan tanduknya! Lalu ia cabik-cabik seluruh tubuh banteng tanpa ampun. Kera api tidak peduli bagaimana pun banteng itu meraung kesakitan. Ruangannya malah dibalas lebih keras dengan raungan kera api.


Hingga pada akhirnya, banteng itu mati dengan mengenaskan. Tapi kera api tidak berhenti disana, ia terus mencabik-cabik banteng itu menggunakan tanduk banteng itu sendiri.


Didunia kultivator ini, pembalasan dendam adalah hal biasa. Baik itu manusia ataupun binatang buas, semua akan membalaskan dendamnya jika dia disakiti dan dipermalukan.


Setelah beberapa menit, akhirnya kera api itu merasa puas. Ia bernafas dengan memburu, melemparkan tanduk perak ditangannya ke sembarang arah.


Ketika kera itu berbalik, Tang Lian melihat kera itu bermandikan darah musuhnya.


"Sudah puas?.. " Tanya Tang Lian santai.


Kera itu tidak menjawab, namun ia mengangguk lemah.


Tang Lian tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Ia menatap mayat banteng tadi dengan penasaran, sebenarnya ada dendam apa kera api itu dengan banteng ini? Pikir Tang Lian.


Tapi ya sudahlah, itu tidak penting baginya. Jadi Tang Lian melupakannya dan lebih memilih untuk mengambil inti binatang buas itu.


"Inti binatang buas ini lumayan besar juga, baguslah. Ini cukup untuk membantuku meningkatkan kultivasi ku satu tingkat.. " Gumam Tang Lian seraya memperhatikan bola besar berwarna biru didepannya.


Setelah mengambilnya, Tang Lian langsung duduk bersila untuk menyerap energi yang ada di inti binatang buas itu. Tapi baru juga Tang Lian memulainya, tidak lebih dari dua detik, inti binatang buas itu langsung berubah menjadi abu. Energinya langsung terserap habis, dan kultivasi Tang Lian pun meningkat lagi.


Kera api menatap itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Setidaknya butuh waktu dua jam untuk menyerap inti binatang buas itu, namun Tang Lian hanya melakukan itu dalam waktu dua detik! Sangat mengerikan!


Tang Lian pun membuka matanya, "Gila! Apa ini salah satu kegunaan dari tulang kaisar semestaku?.. " Gumam Tang Lian, ia sendiri juga terkejut akan hal itu.


Tapi keterkejutan itu hanya sesaat dan digantikan dengan senyuman lebar! Dengan begini, hanya memerlukan sebuah tempat yang memiliki banyak binatang buas maka kultivasi nya akan meningkat dengan cepat! Kekuatan yang hilang akan kembali seperti semula! Atau bahkan bisa lebih kuat lagi.


Memikirkan itu membuat Tang Lian semakin bersemangat, "Kau kera api, mulai sekarang aku beri nama kau Sun Hai!.. " Ujarnya setelah berdiri.


Kera api itu langsung tersadar dari keterkejutan nya. Ia mengangguk dengan cepat, dalam pikirannya, tampaknya tidak sia-sia dia mengikuti Tang Lian sebagai tuannya. Nyatanya Tang Lian bukan seorang sampah maupun manusia rendahan yang seperti ia pikirkan sebelumnya, Tang Lian ini sangat berbakat! Di masa depan ia pasti akan menjadi seorang legenda!.


"Kau bawalah bangkai banteng ini, kita akan kekota Singa Api. " Ujarnya lagi.


Kera api itupun mengangguk lagi, ia meraih kaki mayat banteng sebelumnya lalu menyeretnya dan mulai mengikuti Tang Lian dari belakang.


Seraya mengikuti Tang Lian dari belakang, kera api itu penasaran, kenapa baru sekarang Tang Lian memberikannya nama? Apa tuannya itu baru saja terpikirkan hal ini?. Dan Lagi, apa tidak masalah memasuki kota itu dengan bintang buas mengerikan sepertinya? Meskipun tidak se mengerikan Lao Hu dan Shen Long, nyatanya kera api tingkat lima sepertinya lumayan menakutkan di kota kecil seperti Kota Singa Api.


Kota Singa Api adalah kota yang paling dekat dengan tempat mereka berada sekarang. Oleh karena itu Tang Lian memilih untuk menjual mayat banteng itu disana. Terlebih lagi, ia ingin mengecek sekte Elang Besi yang ia tinggalkan tanpa berpamitan.


Tang Lian merasa bersalah akan hal itu, kerusakan di sekte Elang besi juga pastinya tidak sedikit. Sekte Elang besi adalah milik mertuanya, dan dia sudah membuat kekacauan disana, rasanya dia harus datang ke sekte itu dan meminta maaf pada Mertuanya.


Namun meskipun demikian, Tang Lian tidak akan bermalam disana, ia akan langsung meninggalkan sekte itu setelah meminta maaf.