
Setelah Tang Lian membunuh Chen Lau, dia pun kembali muntah-muntah karena masih belum terbiasa membunuh dengan sadis, namun disisi lain dia merasa ini sangat menyenangkan dan menghibur hingga memaksakan dirinya walaupun sedang muntah-muntah.
"Huek...huek...huek..."
"Suamiku, apakah kamu baik-baik saja?" Yun Mei buru-buru membantu dan mengelap bibir Tang Lian.
"Aku baik-baik saja Mei'er" Tang Lian berkata sambil tersenyum hangat kepada Yun Mei.
Kemudian Tang Lian kembali berjalan kearah dua belas orang yang tersisa berniat untuk menyiksanya juga, namun dihentikan oleh Yun Mei.
"Sudahlah suamiku, jangan memaksakan diri jika tidak sanggup" Yun Mei berkata dengan penuh kekhawatiran karena melihat Tang Lian persis seperti iblis yang sedang mengamuk ketika menyiksa orang.
Namun juga Yun Mei tidak bisa berbuat apa-apa karena ini adalah balas dendam Tang Lian, Yun Mei hanya akan menghentikan Tang Lian apa bila dia benar-benar bertranformasi menjadi iblis atau sudah memilih jalan yang salah, selebih itu Yun Mei akan tetap mendukung apapun jalan dan keputusan yang diambil oleh Tang Lian.
(Kembali ke Tang Lian.)
"Kamu tenang saja Mei'er, aku masih harus mengurus keduabelas bajingan ini!!" Tang Lian berkata dengan keras kepala dan amarah yang sangat besar ketika dia melihat orang-orang yang pernah membuatnya menderita.
Namun walaupun begitu, Tang Lian juga merasa tubuhnya bergetar dan lemas tidak bertenaga karena sudah dua kali dia muntah dan mengosongkan isi perutnya.
"Sudah kukatakan jangan memaksakan diri, apa kamu tidak mendengarkan aku!!!" Yun Mei berkata dengan sedikit marah dan menarik telinga Tang Lian ketika dia ingin melangkah lagi.
"Aduh...aduh...aduh...baik...baik...baik, aku mendengarkanmu istriku..." Tang Lian berkata sambil memegang tangan Yun Mei yang sedang menarik telinganya dengan kuat.
"Hmph!!! Jika dari awal kamu mendengarkan aku, maka aku tidak akan menarik telingamu seperti ini, lain kali jika masih tidak mendengarkan aku maka akan kutarik telingamu sampai lepas!!!" Yun Mei mengomeli Tang Lian tetapi masih menarik telinga Tang Lian juga sampai Yun Mei selesai mengomel.
"Cih, istri cantik tapi kejam kepada suami, untung saja aku yang menikahinya jika tidak orang itu pasti akan menderita seumur hidup" Tang Lian mengomel juga dengan suara pelan tetapi masih dapat didengar oleh Yun Mei dengan samar.
"Apa katamu!!? coba katakan sekali lagi!!!" Yun Mei berkata dan kembali menarik telinga Tang Lian.
"Aduh...aduh...aduh, tidak istriku aku tidak akan berani lagi..." Tang Lian berkata sambil kembali merasakan tarikan telinga oleh seorang wanita.
"Kamu tahu, aku mengatakan itu karena aku menghawatirkan kamu dan bla bla bla...." Yun Mei terus mengomel sambil menarik telinga Tang Lian hingga pada akhirnya dia melepaskan telinga Tang Lian dan terdiam cemberut menggembungkan pipinya sambil memalingkan wajahnya.
Semua orang yang sedang melihat tidak tahu harus tertawa apa menangis ketika melihat ini, beberapa saat yang lalu Tang Lian sangat kejam namun sekarang tidak lebih dari suami takut istri.( Sama seperti kamu yang sedang membaca ini takut sama istriππ.)
Sedangkan Ling Yuan hanya tertawa cekikikan ketika melihat Yun Mei memarahi Tang Lian persis seperti Ling Yuan memarahi Tang Lin.
(Kembali ke Tang Lain).
"Sudah selesai?" Tang Lian bertanya dengan bingung ketika melihat Yun Mei yang sedang bersikap seperti itu.
Namun Yun Mei tetap terdiam tanpa menjawab dan membuat Tang Lian bingung.
"Haaaah...ini merepotkan, istriku sedang merajuk..." Tang Lian menghela nafas panjang dan menggeleng kepalanya.
"Baiklah, aku tidak akan memaksakan diri lagi tetapi mereka harus tetap mati didepan mataku!!!" Sambil berkata Tang Lian membentuk segel tangan dan menggumamkan sesuatu yang membuat semua orang ternganga khususnya Tang Lin dan Ling Yuan.
"SEGEL TAHTA SANG DEWA PENGHAKIM BUKA!!!" Tang Lian menggumamkan sesuatu yang sangat familiar bagi Tang Lin dan Ling Yuan.
Setelah menggumamkan itu kemudian langit berubah menjadi hitam dan berkumpul tepat diatas Tang Lian, kemudian membentuk pusaran dan dari dalam pusaran itu sebuah kursi tahta berwarna emas turun diikuti oleh cahaya berwarna emas juga yang khusus menyinari Tang Lian dan tahtanya.
Setelah tahta itu turun kemudian Tang Lian pun duduk diatasnya dengan santai, elegan, gagah perkasa, dan berwibawa persis seperti seorang dewa.
Belum sampai disitu, disamping kanan Tang Lian tiba-tiba muncul sebuah portal dan dari sana keluar seorang pemuda yang cukup tampan menggenggam sebuah tombak berwarna perak yang diukir dengan gambar naga, rambutnya berwarna putih dan seluruh armor ditubuhnya bercorak naga.
Setelah keluar dari portal pemuda itu langsung menjatuhkan diri dengan kaki sebelah ditekuk ketanah dan mengepalkan tangan diatas kepalanya memberikan hormat pada Tang Lian.
"Tuan, hamba Zhao Yu memberikan hormat pada tuan..."
Tang Lian tentu saja bertanya-tanya dari mana Zhao Yu ini berasal dan mengapa dia memanggil Tang Lian tuan, namun Tang Lian mengesampingkan hal itu dan memutuskan untuk bertanya nanti.
Disisi lain, Tang Lin dan Ling Yuan semakin terkejut karena mereka mengenali Zhao Yu.
"Su...suamiku, bukankah itu Zhao Yu putranya Zhao Luo dan juga, tahta dewa penghakim itu adalah..."
"Kamu benar istriku, tidak salah lagi dia adalah Zhao Yu, dan juga tahta dewa penghakim itu adalah milikku sebelumnya..." Tang Lin berkata sambil memegang dagunya dan menyipitkan matanya menatap kearah arena.
"Tapi bagaimana mungkin!!! Yang menjaga tahta itu seharusnya Zhao Luo!!! Ling Yuan berkata seolah dia tidak percaya akan apa yang dia lihat.
"Tidak perlu terlalu terkejut istriku, sejak aku meninggalkan jabatan itu dan naik menjadi dewa sepenuhnya, aku mengatakan akan ada yang mewarisinya kelak dan meninggalkan tahta itu dalam jagaan Zhao Luo, ini sudah lima ratus ribu tahun berlalu tentu saja Zhao Luo mewariskan tugasnya pada putranya karena pada saat itu dia juga sudah tua.
Tapi aku tidak menyangka yang akan mewarisinya adalah putraku sendiri, karena aku juga meminta bantuan Yun Zhang saat itu untuk mencari pewaris tahta itu jadi dia memberikan tahta itu pada putraku, hehehe...Yun Zhang oh Yun Zhang sepertinya aku akan memberimu sedikit pelajaran nanti..." Tang Lin menjelaskan dan tertawa sedikit ketika melihat itu karena benar-benar tidak menyangka.
"Kamu benar suamiku, tapi bukankah ini sedikit aneh?" Ling Yuan berkata pada Tang Lin karena menurutnya ini aneh.
"Apa maksudmu istriku?" Tang Lin bertanya dengan penuh tanda tanya.
"Kamu tahu suamiku, jalan hidup putra kita hampir sama seperti jalan hidupmu dimasa lalu, mulai dari kamu berpisah dari keluargamu itu juga terjadi pada putra kita, menjalani hidup dengan penuh penderitaan itu juga terjadi pada putra kita, mendapatkan berkah seorang dewa juga terjadi pada putra kita, hingga saat ini yang dia alami semuanya hampir sama seperti dirimu dimasa lalu" Ling Yuan terus menjelaskan kecurigaannya terhadap sesuatu tetapi tidak tahu itu apa, menurutnya apakah ini hanya sebuah kebetulan?.
***BERSAMBUNG***
Halo para pembaca yang Budiman, terimakasih telah mampir di novel ini jangan lupa klik tombol like dan terus dukung author juga dengan kasi vote novel author terima kasih.....
tunggu ada yang bilang hadiah? Author mau dong π
**********SAMPAI JUMPA***************