PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 160 "Hadiah Jia Li II"


Dengan perlahan tongkat kera sakti Tang Lian membelah lembah keramat Jia Li. Meskipun Tang Lian sudah memasuki lembah keramat itu berkali-kali, tapi ia merasa lembah itu masih sangat sempit, sehingga ia mengerang kenikmatan saat memasukinya dengan perlahan


"Aaaaahhhhh~!!" Erangan nikmat Jia Li ketika ia merasakan tongkat suaminya sudah menembus lembah keramatnya sepenuhnya.


"Aku mulai!.." Bisik Tang Lian lembut, lalu mulai bergerak maju mundur dengan perlahan dan teratur.


"Aahhh~!! Aahhh~!! Aahhh~!!.."


Erangan Jia Li sedikit keras karena ia merasakan kenikmatan tiada tara saat ini. Tanpa sadar lembah keramatnya menjepit kuat tongkat kera sakti Tang Lian.


Tang Lian yang merasakan lembah keramat itu semakin menjepit, ia pun mengayunkan pinggulnya semakin kencang.


Jia Li juga tak mau kalah, lalu ia juga mengayunkan pinggulnya naik turun dan mencoba mengimbangi gerakan Tang Lian.


Suara benturan antara dua daging itu terdengar sangat keras dan Jia Li sepertinya hampir gila karena kesenangan yang ia terima. Ia pun lalu mencium bibir Tang Lian dan mencari lidahnya.


Tang Lian tentunya tidak akan menolak Jia Li yang ganas, ia bahkan terlihat lebih senang dan bernafsu.


Selama sepuluh menit mereka dengan posisi itu, akhirnya Tang Lian merasakan sesuatu telah menumpuk dibawah perutnya, lalu ia mempercepat gerakannya.


"Aaaahhh~!! Aaaahhh~!! Aaaahhh~!!.."


Erangan Jia Li semakin keras dan merasakan sebentar lagi ia sampai, ia pun lalu semakin memeluk dan menjepit Tang Lian, ia seolah-olah ingin menyatu dengan Tang Lian.


Tang Lian yang merasa lembah keramat Jia Li semakin menyempit, kemudian mengerang keras dan detik berikutnya ia menembakkan jus cintanya yang kental didalam lembah keramat Jia Li.


Jia Li juga menjerit sangat kenikmatan dan semakin menjepit tongkat kera sakti Tang Lian, ia mengigil beberapa kali dan menikmati sisa-sisa jus cintanya yang baru saja menyembur.


Tapi Tang Lian sepertinya belum puas, lalu ia meletakkan Jia Li dilantai dan menyuruhnya nungging. Dan Jia Li pun menurut saja karena pikirannya saat ini sedang kosong.


Dengan posisi itu, Tang Lian menatap tubuh indah istrinya tanpa berkedip, lalu detik berikutnya ia kembali menginvasi lembah keramat istrinya itu.


Tang Lian kali ini merasa seperti lembah keramat istrinya itu semakin menyempit, lalu ia mempercepat gerakannya seraya menarik kedua tangan Jia Li.


"Plak... plak... plak... plak...!!"


Suara benturan paha Tang Lian dan Jia Li terdengar semakin keras. Sedangkan Jia Li merasa sepertinya ia akan gila, hingga ia menjulurkan lidahnya keluar dan air liurnya meluncur dari sudut bibirnya. Kenikmatan seperti ini terlalu besar untuk ia terima.


Jia Li mengerang dan terus meracau tidak jelas karena sangat kenikmatan.


"Lihat? Kamu terlihat sangat cabul!!.." Goda Tang Lian lalu mencari bibir Jia Li dan menciumnya. Sementara tangannya saat ini memijat gunung kembar Jia Li dari belakang.


"Mmmphhh~!! Mmmphhh~!! Mmmphhh~!!.." Erangan Jia Li terdengar semakin keras dan bernafsu.


"Gila! Rasanya aku tidak ingin berhenti!!.." Gumam Tang Lian yang terus menggenjot dari belakang.


Jia Li lalu meraih tongkat kera sakti suaminya itu dan memasukkannya kedalam mulutnya. Dengan begitu ia menghisap kuat milik suaminya itu.


Tang Lian yang awalnya terheran-heran, kini kembali mengerang kenikmatan. Tongkat kera saktinya yang awalnya sudah tenang, kini bangun kembali.


"Li'er... Kamu masih belum puas?.." Tanya Tang Lian seraya mengerang.


Namun Jia Li menghiraukan pertanyaan itu lalu melepaskan mulutnya dari tongkat kera sakti Tang Lian. Ia kemudian naik kepangkuan Tang Lian, ia memegang tongkat itu dan memposisikannya dengan lembah keramatnya. Dan detik berikutnya, ia menjatuhkan pinggulnya dan bergerak naik turun dengan ganas.


Tang Lian yang tidak mau didominasi, kemudian mencium bibir Jia Li dan mencari bibirnya, ia lalu menggerakkan pinggulnya seirama dengan gerakan Jia Li.


"Aaaahhhmmm~~" Erangan menggoda Jia Li terdengar berkali-kali bersahutan dengan suara tamparan pantatnya dan paha Tang Lian.


Dengan posisi itu mereka terus melakukan aksinya tanpa sadar jika Fei Fei mengintip mereka sedari tadi dari balik dinding. Tang Lian juga tidak tau karena ia terlalu fokus untuk menikmati aktivitasnya dengan istrinya Jia Li.


Sementara Fei Fei yang melihat itu juga kini sudah mulai basah, ia merasa tubuhnya sekarang memanas dan ia mulai bernafas berat. Sebagai seorang wanita, ia sudah bertahun-tahun menjanda. Tentunya ia juga merindukan belaian dari seorang pria. Tetapi karena mengingat ia belum menjadi istri Tang Lian, ia tidak berani menunjukkan dirinya sekarang.


Namun pemandangan dimana Jia Li dibuat gila oleh Tang Lian dan juga tongkat kera sakti pria itu dia lihat sangat jelas, membuatnya tidak tahan lagi dan mulai menggunakan jarinya untuk memuaskan hasratnya seorang diri.


Setelah itu satu jam lagi berlalu dengan cepat, dan Tang Lian mengajar lembah keramat istrinya itu tanpa ampun dan mengubah posisi mereka berkali-kali hingga Jia Li pingsan. Namun meskipun ia pingsan tetapi senyuman kepuasan dan bahagia terpampang jelas diwajahnya.


Sementara Fei Fei, ia sudah kembali ke kamarnya sejak tiga puluh menit yang lalu. Ia tidak bisa melihat itu terlalu lama karena ia takut akan ketahuan dan akhirnya ia pergi. Sebenarnya ia bisa saja bergabung dengan Tang Lian dan Jia Li, namun setelah mengingat jika tangan Tang Lian hilang karena ia melakukan itu bukan kepada istrinya, jadi ia mengurungkan niatnya.


Disisi Tang Lian, ia kini menggendong Jia Li yang pingsan ala tuan putri dan ingin membawanya kembali kekamar mereka. Namun sebelum itu Tang Lian menatap sekelilingnya dan melihat jika halaman belakang itu sudah dipenuhi oleh bau s3ex mereka.


"Sepertinya aku harus membersihkannya sebelum pagi tiba.." Gumam Tang Lian sebelum melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya dengan Jia Li digendongannya.


Sesampainya didalam kamarnya, Tang Lian membaringkan Jia Li dengan hati-hati karena tidak ingin ia terbangun. Tang Lian tau karena aktivitas mereka barusan, istri keduanya itu pasti kelelahan. Oleh karena itu Tang Lian tersenyum dan mencium kening istrinya itu dengan penuh cinta.


Kemudian Tang Lian yang masih telanjang, ia ingin membersihkan bekas *33** dirinya dan Jia Li, namun sebelum ia pergi, Yun Mei bangun hingga duduk, ia menatap suaminya itu dengan tatapan rindu.


"Suami, kamu sedang apa?.."


"Ah!! Mei'er kamu bangun? Maaf jika aku mengganggu tidurmu.." Ucap Tang Lian meminta maaf dengan tulus.


Yun Mei menggelengkan kepalanya lalu menepuk sebelahnya dan menyuruh Tang Lian duduk disana. Tang Lian yang mengerti itu tentunya menurut.


"Ada apa istriku? Apakah kamu menginginkan sesuatu?.." Tanya Tang Lian dengan lembut.


"Apakah aku sudah tidak menarik lagi dimatamu suamiku?.."


Sebuah pertanyaan tiba-tiba yang sangat mengejutkan Tang Lian hingga terdiam beberapa saat. Tang Lian tidak menyangka jika ia akan mendapatkan pertanyaan seperti itu.