PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 205 "PERPISAHAN.."


Setelah sang ayah melepaskan pelukannya, Tang Lian pun langsung berbalik. Ia memberikan kode kepada Yun Mei dan Jia Li untuk segera memapahnya.


Kedua istrinya itu pun langsung bergerak dengan cepat.


"Kita pergi..." Ucap Tang Lian dengan suara gemetar. Tampaknya ia sedang menahan tangisnya.


Wang Long menyadari apa yang terjadi pada tuannya, ia pun memilih untuk berubah bentuk menjadi naga emas. Lalu membawa Tang Lian dan semua orang yang mengikutinya keatas kepalanya dan pergi dengan cepat.


Secepat kilat, Wang Long langsung menghilang dari sana.


Sementara itu Jia Kun dan para tetuanya sangat bingung apa yang sebenarnya terjadi? Bahkan membuat Tang Lian dan semua kekasihnya tidak berpamitan ketika pergi, itu menjadi beban pikirannya.


Ia sangat ingin tahu, tapi kepada siapa ia harus bertanya? Ia terlalu takut untuk bertanya pada Tang Lin dan dua orang lainnya.


Ia ingin mengejar, tetapi Tang Lian dan para kekasihnya itu sudah menghilang entah kemana. Jadi dia hanya bisa pasrah dan berharap Tang Lian dan para kekasihnya itu baik-baik saja.


Setelah beberapa saat, Tang Lin pun bertanya pada Shen Long dan Yun Zhang,


"Apa putraku sudah pergi?.." Ia bertanya tanpa berbalik sedikit pun. Masih terdapat kesedihan dan ketidak relaan di dalam kata-katanya.


"Sudah yang mulia.." Jawab Shen Long sopan, sementara Yun Zhang sedang mengobati Lao Hu.


Mendengar itu Tang Lin pun berbalik, ia berjalan kearah bola darah yang beberapa langkah darinya. Tang Lin berlutut perlahan dan mengambil bola darah itu, detik berikutnya, ia menjerit sangat keras tanda dia sangat sedih. Ia menjerit dengan air mata yang mengalir membasahi wajahnya.


"Putraku!! Maafkan ayah!!... Kuharap dimana pun kamu berada, hidup lah dengan tenang.." Tangisnya sambil memeluk bola darah itu.


Bola darah itu adalah darah putra kandungnya, tetu hanya itu yang bisa ia lakukan untuk melampiaskan rasa rindunya pada putranya.


Tentu saja, Tang Lin yang tiba-tiba seperti itu sangat mengejutkan semua orang dari sekte elang besi. Mereka semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Sang Penguasa menangis?


Wajar saja jika orang-orang dari sekte elang besi itu bertanya-tanya, mereka sampai saat ini masih belum tau jika Tang Lian yang mereka sebut sebagai Sang Penghakim adalah anak dari Sang Penguasa.


Hanya Jia Kun seorang diri yang tahu itu, dan karena melihat adegan terakhir itu, ia kemudian dapat memastikan permasalahan nya. Namun meskipun demikian, ia tidak berniat menceritakannya pada siapapun.


Apa yang ia lihat, adalah aib bagi sang penguasa. Ia tidak mau mati tersiksa jika menceritakan apa yang ia lihat.


Tentu saja Jia Kun juga akan memperingatkan para murid dan tetuanya untuk merahasiakan apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar.


Sementara itu, ada hal yang tidak diketahui oleh Tang Lin. Yaitu putranya yang sebenarnya enggan untuk berpisah setelah ia memeluknya. Ayahnya yang meminta maaf padanya, itu sebenarnya menggetarkan hatinya, oleh karena itu ia cepat pergi dari sana agar tidak ketahuan jika ia sudah menangis.


Wang Long adalah orang pertama yang menyadari itu, karena itulah ia mengambil tindakan cepat dengan membawa semua orang menjauh.


......................


Saat ini Wang Long sedang terbang dengan cepat diatas awan, selain ingin menjauh dari sekte elang besi, ia juga harus buru-buru sampai ke istana kekaisaran Long. Atau dalam waktu tiga hari Tang Lian tidak mendapatkan darah baru, maka ia akan mati.


"Wang Long, turun kebawah sebentar..." Ucap Tang Lian dengan lemasnya.


"Tuan, kita sedang buru-buru. Jadi untuk apa turun?.." Jawab Wang Long.


"Benar suami, apa kamu ingin beristirahat dengan tenang?.." Sambung Jia Li.


"Kalau memang benar, suami istirahatlah di pangkuanku.." Ucap Yun Mei dengan senyuman manisnya.


"Baiklah tuan.."


Wang Long pun akhirnya turun ditengah tengah hutan belantara.


"Mari suami, biarkan aku membantumu.." Ujar Jia Li yang turun duluan.


Tang Lian mengangguk, dan ikut turun juga dengan bantuan para kekasih dan istrinya.


Jia Li membawa Tang Lian ke balik sebuah pohon besar.


"Disini saja suami, lagi pula hanya ada kita disini, tidak ada yang perlu dipermalukan.." Ucap Jia Li dan tanpa permisi ia membuka celana Tang Lian.


Tang Lian terlalu lemah untuk melawan, dan akhirnya ia hanya bisa membiarkan apapun yang dilakukan oleh istri keduanya itu.


Pada saat itu, Jia Li memegang tongkat kera sakti suaminya tanpa jijik ataupun malu.


Sementara Tang Lian membatin, "Tolong jangan bangun tongkatku! Tolonglah... aku sedang terluka dan lemah sekarang.."


Sebagai pria mesum, ia ternyata masih bisa bernafsu ketika tangan indah Jia Li menggenggam tongkat nya meskipun ia sedang terluka. Sungguh pria yang sangat langka.


Sementara ia sedang menahan tongkatnya agar tidak berdiri, Jia Li menatapnya dengan heran.


Sebenarnya tongkatnya itu tidak akan bisa berdiri, karena ia sedang tidak memiliki darah, yang mengalir di pembuluh nya saat ini adalah energi qi. Benar, energi Qi digunakan sebagai pengganti darah untuk sementara.


Perasaan tongkat nya yang ingin berdiri, itu hanya pikiran Tang Lian saja. Yah, harus dimaklumi, ia seorang pria mesum dan ia sendiri mengakui itu.


Setelah beberapa saat, akhirnya Tang Lian sudah selesai dengan kencingnya. Jia Li kembali memakai kan pakaian suaminya hingga rapi, lalu ia memapahnya kembali ke Wang Long dan yang lainnya sedang menunggu.


"Huh.... Hampir saja tongkatku berdiri..."


Batin Tang Lian seraya menghembuskan nafas lega.


Jia Li menatap itu kembali dengan heran, "Suami apa yang kamu pikirkan?..." Tanyanya.


"Anu... um... itu... Apa kamu tidak malu menemaniku pipis? Terlebih lagi kamu memegang itu ku..." Tanya Tang Lian.


Entah kenapa ia meras malu menanyakan itu. Sungguh aneh pertanyaan nya itu, bukankah istrinya itu juga sudah pernah menghisapnya?


"Pertanyaan macam apa itu? Tidak berguna sama sekali!.."


"Ya... Aku hanya penasaran saja.." Ujar Tang Lian dengan nada pasrah.


"Dengar ya suami mesum! Aku ini istri mu, jadi kenapa aku harus malu? Bukankah aku sudah pernah merasakannya didalam lembahku?..." Ujar Jia Li kembali dengan suara lembut dan tenang. Tapi suaranya itu terdengar sangat menggoda, benar... ia sedang menggoda Tang Lian.


Jia Li harap, dengan ia menggodanya maka suaminya itu akan melupakan permasalahannya dengan ayahnya. Meskipun Tang Lian mengatakan ia ingin berpisah dari keluarga ayahnya, nyatanya ia merasa seakan tidak rela setelah ayahnya melepaskan pelukan terakhirnya.


"Kamu ini ya... Sedang menggodaku!..." Gemas Tang Lian, ia benar-benar ingin menghukum istri penggoda ini setelah ia mendapatkan darah nanti.


"Biarlah! Karena kamu suamiku maka suka-suka hatiku saja... Hehehe..." Jawab Jia Li dan terkekeh.


Mereka berdua terus bercengkrama dan saling menggoda dengan lucu, hingga akhirnya sampai juga setelah berjalan selama lima jam, eh salah.. Maksud author lima tahun, eh salah lagi... sebenarnya maksud otor itu Lima abad, eh sekali lagi salah, maksud author itu lima menit...