PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 177 "Yan Feng Hilang, Sekte Dan Kota Gempar!"


Sudah satu jam lamanya Yan Feng menyusuri seluruh kedalaman goa itu hanya untuk harta Karun yang ia pikir ada, namun ia tidak menemukan apapun selain menemukan ayahnya yang sedang berlatih. Dan akhirnya ia kembali ke sisi ayahnya yang sedang bermeditasi. Dengan lemas, cemberut dan kecewa ia kemudian duduk disamping ayahnya.


Lima menit ia duduk disamping ayahnya, ia merasa sudah lima tahun ia disana karena sangat bosan. Dan karena ia sangat bosan, akhirnya ia mengajak ayahya berbicara.


"Ayah, kapan ayah akan menyudahi meditasi Ayah?.."


"...."


Tang Lian terdiam tidak menjawab karena ia memang tidak mendengarnya. Seandainya ia bisa mendengar dan tau jika anaknya ada disampingnya, ia pasti sudah menyudahi latihannya dan mengantar Yan Feng pulang.


"Ayah dengar apa tidak sih?.." Ujarnya lagi seraya melambaikan tangannya di hadapan wajah ayahnya.


Melihat ayahnya yang tidak merespon sama sekali, ia pun berdiri dihadapan ayahnya lalu membuat wajah jelek dan mengejeknya. Ia terus melakukannya beberapa kali dan terkadang melempari ayahnya dengan batu kecil, jika batu besar jelas ia tidak berani. Namun meskipun demikian, ayahnya tak kunjung merespon juga.


"Cuh... Ayah membosankan!!.." Ujarnya lagi dan kembali duduk, tapi kali ini ia duduk dipangkuan Tang Lian.


Lama kelamaan akhirnya Yan Feng menguap dan mengantuk dan akhirnya ia berbaring di pangkuan ayahnya. Dengan tubuh kecilnya ia meringkuk disana.


Mengingat jika dia bukan anak kandung Tang Lian, tidak tau entah dari kapan dia berani bertingkah manja seperti itu. Tapi yang jelas, ketika ia bersama Tang Lian, ia merasakan kehangatan yang tidak pernah ia dapatkan dari sosok seorang ayah. Semenjak Tang Lian mengangkatnya menjadi anaknya, ia tidak tau mengapa ia juga tiba-tiba merasa Tang Lian itu adalah benar-benar ayah kandungnya. Mungkin saja semenjak Tang Lian membunuh orang dengan kejam hanya karena memberi sedikit tamparan waktu itu barulah ia merasakan kasih sayang seorang ayah yang tidak ingin putranya ditindas oleh siapapun..... Mungkin.


Detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu, kini matahari sudah condong kebarat, sementara Yan Feng masih tertidur pulas di pangkuan ayahnya. Sedangkan sekte elang besi sudah ribut karena Yan Feng tidak kunjung pulang dari siang. Tidak ada yang tau jika hari ini Yan Feng pergi mancing. Karena biasanya jika ingin pergi memancing maka ia akan izin terlebih dahulu, namun entah apa yang dipikirkan bocah kecil itu sehingga ia tidak izin sama sekali.


Tidak hanya sekte elang besi, bahkan kota singa api juga digemparkan dengan menghilangnya putra sang Penghakim. Semua orang berbondong-bondong mencari Yan Feng kesana kemari, baik itu warga kota maupun murid sekte elang besi. Namun pada saat matahari hampir tenggelam, Yan Feng juga masih belum ditemukan.


"Feng'er!!.. Dimana kamu nak, tolong jangan buat ibu takut! hiks... hiks... hiks...!" Tangis Fei Fei karena anaknya tak kunjung ditemukan.


Para saudarinya menatap itu dengan tatapan sedih juga. Mereka sungguh tidak tega melihat Fei Fei seperti itu, bahkan mereka juga hampir menangis. Bagaimana tidak, sebentar lagi mereka semua akan memiliki satu suami yang sama, jadi anaknya Fei Fei para saudarinya menganggap bahwa Yan Feng adalah anak mereka juga.


"Saudari Fei, mohon tenanglah... Kami yakin sebentar lagi Yan Feng akan ditemukan..." Ujar Jia Li menenangkan dengan lembut.


"Benar saudari Fei, bahkan sampai ke ujung dunia pun pasti akan kita cari.." Sambung Long Xia Shi.


Mendengar itu, Fei Fei bukannya tenang tapi justru semakin menangis, "Feng'er adalah satu-satunya putraku yang sangat kucintai! Bagaimana aku bisa tenang dia tiba-tiba menghilang begini... Hiks... Hiks... Hiks..."


Mendengar itu para saudarinya hanya bisa diam tanpa bisa berkata-kata lagi, yang mereka lakukan kini hanya memeluk Fei Fei bersamaan. Fei Fei adalah seorang ibu, bagaimana ia tidak takut akan putranya yang tiba-tiba menghilang.


Disisi Jia Kun, ia melihat adegan menyedihkan itu dan tanpa sadar ia menitiskan air matanya pelan. Hal ini secara tidak sengaja mengingatkan dirinya akan almarhum istrinya dulu yang sangat mencintai anaknya.


Jia Kun pun menggenggam erat tangannya hingga berdarah, "Perintahkan semua orang yang ada di sekte ini untuk kembali mencari cucuku!! Tidak ada yang boleh kembali sebelum ia ditemukan!!!.." Perintahnya kepada para tetuanya yang juga ada disana. Jia Kun sangat kesal, siapa yang begitu berani menculik Yan Feng di area sektenya.


Sedangkan Liu Mingyan juga memerintahkan seluruh pasukan kota benteng besi agar mencari Yan Feng sampai ketemu. Sore itu, semua orang dengan khawatir mencari keberadaan Yan Feng kesemua tempat. Mengingat jika Yan Feng adalah putranya sang Penghakim, orang-orang takut jika Ayahnya akan marah besar ketika tau ini.


Dan bodohnya semua orang itu adalah, mereka tidak mencari ke wilayah belakang sekte yang terdapat sebuah bukit dan air terjun, hal itu dikarenakan itu dianggap sebagai tempat suci. Jadi pikiran mereka yang dangkal dan bodoh tidak sampai kesana.


Pada saat yang bersamaan, Tang Lian telah menyelesaikan seluruh pelatihannya. Kini di lautan pengetahuannya sudah habis semua jurus untuk di pelajari. Kemudian ia pun membuka matanya dengan perlahan, dan seketika ia terheran-heran karena Yan Feng tidur di pangkuannya.


"Apa dia kesepian di sekte lalu datang kemari? Tapi dari mana dia tau aku disini?.. Ah sudahlah sebaiknya aku tanyakan padanya saja..." Gumam Tang Lian lagi lalu mengelus kepalanya lembut dan perlahan membangunkannya.


"Feng'er... Bangun nak, kita akan pulang... Hari sudah hampir malam ini.."


Yan Feng yang tidurnya terganggu, kemudian membuka matanya dengan malas.


"Hoooooaaaaammmm...! Biarkan aku tidur sebentar lagi ayah..." Ujarnya malas.


"Ini sudah hampir malam, ibumu pasti sedang mengkhawatirkanmu karena tak kunjung pulang..." Ucap Tang Lian seraya tersenyum dan mengelus kepala putranya lembut.


Ayahnya mengelus kepalanya dengan lembut dan hangat, jadinya dia semakin tertidur.


Tang Lian menggelengkan kepalanya lalu dengan sigap ia membawa Yan Feng berdiri. Yan Feng yang tiba-tiba diangkat berdiri tentunya langsung bangun meskipun matanya masih menyipit karena baru bangun.


Tang Lian membiarkannya diam dan menunggu hingga kesadarannya pulih sepenuhnya setelah itu barulah ia bertanya.


"Sudah sadar belum?.." Tanya Tang Lian.


"Sudah Ayah..." Jawab Yan Feng masih malas.


Tang Lian sekali lagi menggelengkan kepalanya lalu mengangkatnya seperti karung goni dan membawanya ke mulut goa.


"Ayah, aku bisa jalan sendiri..." Ujar Yan Feng berontak namun masih sangat malas.


"Jalan sendiri kentutmu! Lihat itu matamu saja tidak mau terbuka..." Ujar Tang Lian seraya terus berjalan.


Bukannya melek tapi Yan Feng justru tiba-tiba mendengkur. Tang Lian yang sudah sampai dimulut goa hanya bisa menghembuskan nafas menyedihkan. Setelah itu ia menampung air terjun yang menetes menggunakan Tangannya lalu mengusapkannya ke wajah Yan Feng.


"Uwaahhh!!...."


Yan Feng terkejut dan melek seketika karena merasakan dinginnya air diwajahnya.


"Sudah sadar sepenuhnya sekarang?.."


"Sudah Ayah..." Jawab Yan Feng yang memang benar-benar telah melek.


"Kau anak nakal! Apa yang membawamu kemari? Bahkan sampai merepotkanku?.." Ujar Tang Lian merepet.


Kemudian Yan Feng mengatakan semuanya dari awal ia kesal dengan ikan yang tidak satupun dia bisa pancing hingga akhirnya ia menemukan goa dan masuk kesana.


Tang Lian tertawa puas mendengar cerita anaknya itu karena sangat lucu bagaimana ia meludahi tempat ia biasa memancing.


Yan Feng menggaruk pipinya yang tidak gatal dan merasa malu, kemudian ia tertawa cengengesan.