PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 165 "Yan Feng Di Tampar"


Yang Yan Feng lihat saat ini adalah, ujian tahap terakhir para calon murid sebelummya. Saat ini, dari 2595 orang yang ingin menjadi murid disekte elang besi, kini hanya menyisakan 1000 orang sampai pada tahap akhir.


Dan Yan Feng yang sedang duduk diatas pundak seorang gadis muda yang cantik, ia tersenyum sangat senang. Ditambah lagi pemandangan dimana pertarungan satu lawan satu itu terlihat sangat sengit dimata Yan Feng.


Hingga sore hari telah tiba, pertarungan satu lawan satu juga belum selesai sepenuhnya. Dan pada akhirnya Jia Kun mengatakan ujian akan dilanjutkan lagi besok pagi. Setelah itu kerumunan orang yang sebenarnya adalah para murid dari sekte elang besi akhirnya bubar dan kembali kekamar mereka masing-masing.


"Terima kasih banyak kakak Ning Ning!!.." Teriak Yan Feng seraya melambaikan tangannya kepada wanita yang ia duduki pundaknya sebelumnya.


"Sama-sama adik kecil, besok jika kamu ingin menonton lagi maka temui kakak ya!.." Teriak Ning Ning lagi dengan senyuman mengambang lebar diwajahnya. Ia sangat senang karena ia bisa dekat dengan anaknya Sang Penghakim.


Setelah itu Yan Feng berbalik dan kembali ke kediamannya. Namun pada saat ia berjalan, tiba-tiba ia ditabrak oleh seorang pria botak yang bertubuh kekar dan membawa pedang besar.


"Aduh!!..." Yan Feng terjatuh seketika, lalu ia menggosok kepalanya yang sedikit sakit dan berdiri setelahnya.


"Hmm? Anak kecil? Bagaimana bisa ada anak kecil didalam sekte elang besi ini?..." Batin si pria botak.


"Bocah! Kau mau cari mati atau kuremukkan tulangmu!?.." Ancam pria botak itu yang tidak senang ketika ia ditabrak barusan.


Yan Feng yang masih menggosok kepalanya lalu seketika memandang keatas, dan alangkah terkejutnya dia karena yang ia tabrak itu adalah salah satu peserta yang masuk ke ujian tahap akhir.


"Dia kan yang mengalahkan lawannya dengan satu serangan didalam pertarungan itu!?.." Batin Yan Feng yang terkejut.


"Maafkan aku kakak, tapi aku tidak sengaja..." Ucap Yan Feng langsung meminta maaf dengan sopan.


Setelah itu Yan Feng berbalik dan pergi, entah kenapa perasaanya tidak enak sehingga ia tidak ingin berlama-lama bicara dengan pria botak itu.


Pria botak yang menyadari jika Yan Feng sedang ketakutan itu lalu menyunggingkan senyum licik yang menyeramkan, lalu ia melemparkan pedang besarnya kelangit.


"BAAMM!!.."


"Huaaaa!!.." Yan Feng berteriak sangat keras karena ia terkejut pedang itu menancap ditanah tepat satu jengkal didepan wajahnya.


"Bocah! Aku tidak bilang kau boleh pergi setelah kau menabrakku." Ujar pria botak itu seraya berjalan mendekat kearah Yan Feng dengan perlahan.


Yan Feng merinding dan merasa bulu kuduknya berdiri, perasaannya benar-benar tidak bagus kali ini. Yan Feng ketakutan hingga ia tidak sadar jika ia melangkah mundur, tapi sayangnya pedang besar menghalanginya.


"K--kakak... A--aku benar-benar tidak sengaja, tolong maafkan aku..." Ujar Yan Feng meminta maaf dan dengan tubuh yang gemetar.


"Omong kosong! Memangnya kau tidak punya mata!!." Ujar pria botak itu seraya menyeringai licik lalu menampar Yan Feng hingga tersungkur ketanah. Pria botak itu tidak tau jika namanya sudah bersanding dengan kematian karena dia baru saja menampar Yan Feng.


"Aku sudah meminta maaf!.." Teriak marah Yan Feng seraya menatap pria botak itu dengan tatapan tajam.


Pada saat yang sama, seorang murid laki-laki yang sering berlatih didekat Yan Feng, ia dengan tidak sengaja melihat dari kejauhan jika Yan Feng sedang ditindas oleh calon murid baru. Perasaan murid itu seketika menjadi buruk ketika ia melihat pria botak itu menampar Yan Feng, lalu ia bergegas mendekat kearah Yan Feng dan pria botak itu.


"Hey! Apa yang kau lakukan pada Yan Feng!?.." Teriak murid itu setelah mendekat.


Yan Feng yang juga mengenal murid itu, ia segera berlari dan bersembunyi dibalik punggung murid itu.


"Kakak, pria botak itu sungguh kejam! Dia menamparku barusan..." Ujar Yan Feng mengadu.


"Kau menampar Yan Feng? Apa kau tidak tau siapa dia ha!?.." Ucap murid itu dengan marah. Murid itu marah karena ia takut jika ini diketahui oleh Sang Penghakim maka habis lah sudah.


"Kau mau sok jadi pahlawan? Dengar! Siapapun anak kecil itu aku tidak peduli. Aku menamparnya karena ia menghalangi jalanku..!." Teriak pria botak itu dan menyeringai sombong. Ia terlihat tidak takut dengan ancaman dari murid itu.


"Kau sangat sombong! Jika bukan karena aturan sekte yang tidak boleh menindas calon murid baru maka aku pasti akan mematahkan kakimu!!.."


Pria botak itu hanya mengorek telinganya malas seraya berkata, "Bacot... Bacot... Bacot... Bilang saja kau tidak berani bertarung denganku hahahaha..."


Murid itu yang merasa diremehkan, kemudian amarahnya meledak dan ia tidak peduli lagi dengan aturan sekte. Sekarang ia hanya ingin mematahkan semua tulang-tulang pria botak itu.


Namun sebelum ia sempat bergerak, Yan Feng memegang tangannya. Murid itu lalu menoleh dan ia melihat Yan Feng menggelengkan kepalanya.


Yan Feng tidak ingin pertumpahan darah terjadi hanya karena dirinya seorang. Lagi pula Yan Feng bukanlah murid dari sekte elang besi dan ia merasa malu jika ia dibela habis-habisan oleh murid itu.


Murid yang tau jika Yan Feng tidak ingin adanya pertarungan, lalu menghela nafas berat. Detik berikutnya ia menatap calon murid baru itu dengan tatapan tajam lalu mengangkat jari telunjuknya.


"Kau! Ingatlah untuk berhati-hati setelah hari ini. Kau telah menyakiti putranya. Dan ketika dia mengetahui ini kau pasti akan menyesal seumur hidup!." Ancam murid itu lalu menarik tangan Yan Feng dan mengantarnya pulang.


"Cih... dasar pengecut! Aku adalah calon murid paling kuat dan paling berbakat tahun ini. Aku ingin lihat siapa yang akan berani menggangguku setelah aku menjadi murid sekte elang besi besok hari." Gumam pria botak itu dan menyeringai sombong.


Pria botak itu sangat yakin dengan kemampuan dirinya dan ia juga yakin jika besok dia pasti akan lulus ujian. Ia pikir ia adalah orang yang paling kuat dan jenius karena pada saat pertandingan tadi ia mengalahkan lawannya dengan satu pukulan.


Ia berpikir pasti ayah dari anak itu hanya seorang dekan di sekte ini, dan karena itulah murid sebelummya mengancam. Namun meskipun demikian, pria botak itu tidak terlihat takut sama sekali. Karena ia percaya ayah dari anak itu akan berlutut meminta maaf dibawah kakinya setelah ia menunjukkan kejeniusan dirinya.


Entah apa yang membuat pria botak itu berpikir demikian dan ia tidak sadar jika kematiannya akan segera tiba.


Disisi Tang Lian, ia menyudahi latihannya untuk sesaat karena ia merasa sangat lapar. Sudah hampir dua minggu semenjak ia memulai pelatihannya, dan kali ini ia menyudahinya hanya karena lapar.