
Rasa cemburu akan perlakuan orang tua yang berada terhadap putra dan putrinya membuat ketiga putri kembar itu mengatakan sesuatu yang membuat Ling Yuan merasa sedih dan sakit hati ketika mendengarnya. Disisi lain perkataan Tang Yue sebelumnya berhasil membuat Tang Lin marah.
"Drrrttt....Drrrrttt...Drrrrttt...!!."
Petir merah berderak-derak diatas awan, dan itu adalah pertanda jika sang penguasa tengah marah. Tang Yue menatap kearah petir yang berderak-derak dan menggelegar sangat keras itu dan berteriak.
"Apa!? Ayah marah karena semua perkataan kami!? Tapi bukankah itu benar!?.." Tang Yue berteriak seraya memandang petir merah itu dengan tatapan kesal. Dan perkataannya barusan berhasil membuat petir merah itu mereda yang menandakan jika Tang Lin tengah memikirkan sesuatu.
"Mengapa diam? Ayo jawab aku ayah! Ayo jawab! Aku rasa bahkan seandainya kami mati ayah dan ibu juga tidak akan peduli!!."
"DDDUUUUUAAAAARRRRRR!!!..."
"Kyaaaa!!."
Petir merah menyambar keras dihadapan Tang Yue dan itu hampir saja membunuhnya dan membuat Tang Yue berseru kaget dan terjatuh kebelakang.
Ling Yuan seperti merasa dirinya sendirilah yang tersambar petir itu, jantungnya serasa berhenti ketika dia melihat bagaimana petir itu hampir membunuh salah satu putrinya.
"Yue'er apa kamu tidak apa-apa!?.." Ling Yuan bertanya dengan kekhawatiran besar dan ingin membantunya berdiri kembali.
"Makanya lain kali jangan membuat ayahmu marah.." Ujar Ling Yuan seraya ingin mengangkat tubuh putrinya.
Sedangkan disisi Tang Yue, matanya memerah menandakan dia sangat sedih dan ingin menangis ketika dia melihat bagaimana ayahnya hampir membunuhnya, dan ketika dia merasa tangan ibunya menyentuhnya Tang Yue menepisnya.
"Menjauh dariku!! Aku bisa berdiri sendiri!!.." Tang Yue berteriak keras dan terlihat dia sudah tidak bisa membendung air matanya lagi dan akhirnya dia menangis lalu pergi meninggalkan semua orang dan berlari menjauh.
"Yue'er!!.." Ling Yuan berteriak memanggil nama putrinya itu dengan perasaan yang sangat sedih. Namun Tang Yue tidak memperdulikannya dan tetap berlari menjauh.
"Kalian bukan orang tua kami..." Tang Yui berbicara tiba-tiba dengan air mata yang juga telah membasahi pipinya. Dua dengan jelas melihat bagaimana petir itu yang hampir menyambar dan membunuh kakaknya.
"Yui'er, apa yang kamu katakan nak? ini tidak seperti itu... Ayahmu itu pemarah dan kamu tau itu.." Ucap Ling Yuan dengan mata yang mulai memerah.
Mendengar itu Tang Yui hanya menggelengkan kepalanya lalu berkata sekali lagi sebelum akhirnya dia juga pergi meninggalkan ibunya, "Aku bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan pertanyaan kami yang mempertanyakan orang tua kandung kami karena perlakuan kalian yang berbeda pada kami. Dan sekarang semuanya terlihat jelas..."
Ling Yuan yang masih berusaha memahami semuanya tidak dapat mengatakan apapun dan dia hanya bisa menatap punggung putrinya yang menjauh. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya pada Tang Yua yang menunduk seperti memikirkan sesuatu.
"Y-Yua'er, tolong bantu ibu menjelaskan semuanya pada kedua kakakmu, katakan pada mereka bahwa apa yang mereka pikirkan itu benar.." Ling Yuan berkata dengan gagap karena dia takut putrinya yang satu ini juga berpikir seperti kakaknya.
Tang Yua mendengar perkataan Ling Yuan dengan jelas namun dia hanya diam dan tidak mengatakan apapun, dia hanya terus menunduk dan menatap tanah dan akhirnya air matanya mengalir deras perlahan-lahan membasahi pipinya dan tanah.
"Yua'er, katakan sesuatu nak ibu mohon!.."
"P-pada awalnya aku berpikir tidak mungkin jika ayah dan ibu tidak mencintai kami seperti adik laki-laki kami, namun sekarang aku sadar jika apa yang aku pikirkan itu salah. Didepan mataku sendiri kakak Yue hampir dibunuh oleh ayah sendiri. Dan seharusnya meskipun ayah sangat marah tapi tidak seharusnya sampai seperti ini..." Tang Yua berkata seraya menangis sesenggukan.
"Yua'er, ibu bisa menjelaskannya!.."
"Maaf, tapi kejadian barusan membuatku percaya jika kalian bukan ayah dan ibu kandung kami!.." Setelah mengatakan itu Tang Yua juga menyusul kedua kakaknya.
Tang Yua adalah orang yang rapuh dan sangat rapuh, dia melihat kakaknya hampir dibunuh oleh ayahnya sendiri itu membuatnya sangat sedih melebihi siapa pun itu, hatinya terasa seperti di iris kecil-kecil dengan sebuah pisau yang tajam.
"Yua'er dengarkan dulu penjelasan ibu! Yua'er!!.."
Meskipun Tang Yua mendengar teriakan ibunya namun sama seperti kedua kakaknya, dia tidak memperdulikannya sama sekali.
"A-apa yang telah kulakukan? Apakah aku telah membuat kesalahan besar? Apakah itu tidak bisa dimaafkan?.." Ling Yuan bertanya-tanya dan akhirnya dia juga menangis sangat sedih.
Ketiga putri kembar itu tentu saja dia lahirkan dari rahimnya sendiri, namun kenyataan jika dia dan suaminya lebih memperhatikan Tang Lian dari pada ketiga putrinya itu benar, dia tidak bisa menyangkal itu. Karena sulitnya untuk memiliki anak laki-laki dan karena itu pula Ling Yuan dan Tang Lin secara tidak sadar melakukan perlakuan berbeda terhadap putra dan putrinya.
Disisi Tang Lian, dia juga dengan jelas melihat petir itu dan dia tau jika itu adalah ayahnya yang marah, jadi dia dan Zhao Yu bergerak lebih cepat menuju tempat ibunya.
Sedangkan dialam atas, Tang Lin tersadar dengan apa yang dia lakukan, dia hampir membunuh salah satu putrinya dan dia merasa sangat menyesal dan sangat menyesal, oleh karena itu dia meninggalkan pekerjaannya dan bergegas pergi ke alam bawah dan meminta maaf pada putrinya.
Didalam portal ruang dan waktu berkali-kali Tang Lin memaki dirinya sendiri yang sangat mudah marah, dan karena itu dia hampir membunuh putrinya sendiri. Dan dia sadar jika perlakuannya pada putrinya selama ini itu sudah sangat salah, Tang Lin berpikir apa bedanya dia dengan ayah kandungannya dulu? Dan apa bedanya dia dengan Zhao Luo?.
Disisi lain, Tang Lin dan Ling Yuan benar-benar mencintai semua putra dan putrinya sama rata, namun karena perlakuan mereka akhirnya membuat ketiga putri kembar itu terluka karena merasa terabaikan. Tang Lin juga kemudian berpikir apa yang salah dengan keinginan ketiga putrinya yang ingin dimanja oleh ayah dan ibunya? terlebih lagi mereka itu kembar, seharusnya dia merasa bersyukur karena telah dikaruniai oleh langit tiga putri kembar karena itu juga sangat langka dan bahkan hampir tidak ada, seharusnya dia bahagia dengan itu namun penyesalan selalu datang terlambat karena sekarang telah "Bersambung..."