
Seketika amarah delapan tetua tidak terbendung lagi ketika mendengar prajurit penjaga itu menghina mereka.
"Sangat bagus sekali! Bahkan seorang prajurit penjaga sekarang telah berani menghina! Matilah!!.." Tetua kedelapan, sudah tidak tahan lagi, ia meraung sangat marah lalu bergerak secepat kilat mengayunkan pedangnya ke leher prajurit penjaga itu.
Prajurit penjaga itu hanya tersenyum penuh arti. Ia seolah-olah melihat dengan jelas serangan tetua kedelapan, mengangkat tangannya prajurit penjaga itu menangkap serangan tetua kedelapan dengan mudah, hingga menciptakan suara dentingan yang cukup keras. Bahkan percikan api sekilas terlihat akibat benturan pedang tetua kedelapan dan tangan prajurit itu. Tangan prajurit itu seolah-olah lebih keras dari baja sekalipun.
"Trank!!!.."
"Tidak Mungkin!!?.." Tetua kedelapan berteriak tidak percaya dengan apa yang dia lihat, begitu pula dengan tetua lainnya, mereka tertegun seperti orang bodoh yang baru saja melihat pertunjukan sulap.
Detik berikutnya, prajurit penjaga itu mengalirkan energi ke telapak tangannya dan menggenggam pedang tetua kedelapan dengan erat, "Anjing bodoh memang benar hanyalah anjing bodoh! Heh... Apa kau lupa dimana tempatmu berdiri sekarang ini!?.."
Tertegun, dan semuanya terdiam. Mereka hampir melupakan dimana mereka berada saat ini, semua tetua itu tidak bisa berkata apapun.
Melihat tetua kedelapan yang masih tertegun seolah sedang memproses apa yang sebenarnya terjadi, prajurit itu pun mengambil kesempatan. Prajurit itu, mengumpulkan energinya kembali di telapak tangannya, lalu memukul dada tetua kedelapan dengan keras seraya berkata, "Kau sedang berada di pulau melayang buatan Yang Mulia!! Setiap orang yang datang kesini, meskipun kau adalah tetua kedelapan istana Penghakim juga harus tunduk dengan aturan disini!!.."
"Baaam!!.."
Telapak tangan prajurit itu mengenai dada tetua kedelapan dan membuatnya terhempas cukup keras kebelakang. Beruntung tetua lainnya dengan cepat menangkapnya atau jika tidak ia pasti akan jatuh kebawah karena posisi mereka saat ini seperti sedang di pinggir jurang.
Kejadian barusan membuat tetua kedelapan malu sekaligus sangat marah. Bagaimana tidak? Ia adalah seorang tetua kedelapan, dan seharusnya ia adalah yang paling berkuasa saat ini karena tetua kesembilan dan pemimpin istana tidak ada. Namun alih-alih di hormati ia malah di hina dan dipermalukan.
"Para tetua semuanya!! Apa yang kalian tunggu!? Ayo kita beri prajurit penjaga ini pelajaran!!.." Ujar Tetua kedelapan yang sangat marah. Ia terlihat tidak memperdulikan harga dirinya lagi, yang dia inginkan saat ini hanyalah membunuh prajurit penjaga itu.
Para tetua lainnya yang dari awal sudah terpancing amarah, menganggukkan kepalanya lalu melesat dan menyerang bersamaan. Namun sebelum mereka sempat menyentuh prajurit penjaga itu, sebuah suara terdengar...
."Siapa yang berani membuat onar di pulau melayang sang Penghakim!!.." Ujar seseorang seraya melancarkan serangan telapak tangan raksasa.
Kedelapan tetua tidak sempat menghindari itu, kemudian terhempas kebelakang dan terjatuh bersamaan.
Masing-masing tetua, berusaha untuk bangun dan menatap ke arah sumber suara. Seketika delapan tetua itu hanya bisa menggertakkan giginya kesal, karena sekeras apapun mereka berjuang, orang yang menyerang mereka barusan masih bisa mengalahkan mereka dengan sedikit berusaha lebih keras.
"Lin Xue!! Lihatlah prajurit penjaga mu itu! Dia sudah lancang menghina kami! Kami ingin penjelasan darimu!!.." Teriak tetua kedelapan dengan berusaha menahan amarahnya.
Bagaimana pun juga, orang didepannya bukanlah orang sembarangan. Orang yang didepan mereka itu ialah Lin Xue, seorang wanita yang terlihat masih sangat muda dan sangat cantik, namun nyatanya Lin Xue sudah berumur ribuan tahun.
"Memangnya apa yang dikatakan oleh prajuritku?.." Ujarnya santai. Terlihat jelas, jika Lin Xue tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh tetua itu, karena sebenarnya ia juga sudah tau semuanya. Dari awal ia sudah menonton pertunjukan ini dari kejauhan.
Mendengar itu, seketika Lin Xue tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha!! Bukankah itu memang benar? Atau kalian yang memang tidak sadar jika kalian adalah anjing bodoh!? hahaha!!.." Lin Xue bukannya memberikan penjelasan ataupun permintaan maaf tapi justru ikutan menghina mereka.
Wajah delapan tetua seketika berubah menjadi gelap dan jelek ketika mendengar itu, mereka ingin sekali memukuli wanita itu dan prajuritnya, tapi mereka tidak punya kemampuan. Sementara itu, prajurit sebelumnya hanya diam dan memperhatikan apa lagi yang akan terjadi selanjutnya.
"Lin Xue!! Beginikah cara kalian memperlakukan rekan seperjuangan kalian sekarang!?.." Ujar tetua kedelapan lagi
"Ya, aku memperlakukannya seperti ini memangnya kenapa!? Jika kau keberatan maju ke hadapanku dan kita akan bertarung sampai mati!!.." Balas Lin Xue sengit.
Delapan tetua merasa tidak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan, mereka hanya ingin bertanya tentang pewaris tahta Sang Penghakim yang tidak kunjung datang, namun apa yang mereka dapatkan justru Lin Xue menantangnya bertarung hidup dan mati. Hal ini membuat mereka semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Lancang sekali kau Lin Xue! Apa kau tidak malu dengan apa yang kau katakan!? Kita semua sama-sama adalah pengikut Yang Mulia! Kita adalah rekan seperjuangan, tapi kau memperlakukan kami seperti ini!... Kau tidak pantas menjadi pengikut Yang Mulia Tang Lin!!.." Teriak tetua ketujuh sementara semua tetua lainnya mengangguk dan membenarkan perkataannya.
Setelah tetua ketujuh berkata demikian, pandangan Lin Xue berubah menjadi tajam, jika pandangan itu bisa membunuh, maka tetua ketujuh rasanya sudah mati ribuan kali.
"Berbicara tentang pengikut Yang Mulia Tang Lin, seharusnya kalian bertanya pada diri sendiri tentang apa yang sudah kalian perbuat! Jangan kira aku tidak tau bahkan Dewa Naga saja mengutuk kalian! Dan sekarang kalian masih berani mengatakanku tidak pantas menjadi pengikut Yang Mulia? Hahaha... Lelucon yang bagus!.." Ujar Lin Xue seraya tertawa semakin menghina kepada delapan tetua itu.
"K-kau!?.. Dari mana kau tau jika dewa naga mengutuk kami!?.." Mulut tetua ke enam bergetar ketika bertanya demikian.
Delapan tetua itu sungguh tidak menyangka jika Lin Xue mengetahui apa yang mereka alami sebelumnya.
Lin Xue tersenyum misterius lalu menjawab, "Terserah dari mana, aku tidak berencana untuk memberi tahukanmu..."
Semua tetua sungguh sangat kesal dengan Lin Xue ini, mereka benar-benar sangat ingin memukuli Lin Xue dan prajuritnya itu. Namun sayangnya mereka tidak akan mampu melawannya. Sebagai salah satu penjaga dari tahta Dewa Sang Penghakim, tentu kekuatannya tidak main-main.
Oleh karena itu, delapan tetua hanya bisa menahan amarahnya dan memilih untuk melupakan masalah ini untuk sementara, setidaknya sampai mereka tau tentang dimana pewaris Sang Penghakim berada sekarang.
Awalnya itu memang adalah tujuan mereka, namun karena sikap Lin Xue dan prajurit penjaga itu yang tidak bersahabat, akhirnya membuat semua tetua itu emosi.
Di tambah lagi dengan semua kata-kata Lin Xue dan prajurit penjaga itu membuat mereka semakin bingung, sebenarnya apa yang telah terjadi? Dewa Naga mengutuk mereka, dan sekarang penjaga pulau melayang juga memandang mereka seolah-olah mereka adalah musuh, padahal seharusnya mereka adalah rekan seperjuangan.
Hal ini membuat mereka sadar, jika mereka lebih mementingkan harga diri mereka, maka mereka tidak akan pernah tau apa yang sebenarnya terjadi dan membuat dewa naga murka.
Satu-satunya harapan delapan tetua itu untuk mengetahui adalah Lin Xue, jadi dengan terpaksa tetua kedelapan merendahkan diri dan bertanya, "Baiklah Nona Lin Xue, kamilah yang bersalah barusan. Maka untuk itu aku secara pribadi meminta maaf..." Ujarnya seraya menangkupkan kedua tangannya.