PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 102 "Didekat Api Unggun"


"Grrrrrr..."


Lao Hu menggeram dan menunjukkan taringnya kepada kelima serigala itu.


Kelima serigala itu terlihat sangat ketakutan seperti anak anjing kecil, hingga menurunkan ekor dan telinganya dan mundur perlahan.


"Grrrrrrr...!"


Lao Hu menggeram lagi seolah-olah dia sedang bertanya mengapa menghalangi jalanku?.


"K-kami hanya sedang mengejar makanan siang kami. Kami tidak bermaksud menghalangi jalan yang mulia..." Serigala itu menjawab dengan takut-takut menggunakan bahasa binatangnya.


Setelah itu, entah apa yang Lao Hu katakan kemudian kelima serigala itu lari terbirit-birit dan menghilang ketengah hutan.


"Lao Hu, apa yang kau katakan pada para serigala itu?." Tang Lian bertanya dengan penasaran.


"Aku hanya bilang kebetulan aku sedang lapar, tapi tidak tahu mengapa tiba-tiba mereka lari.." Lao Hu menjawab dengan ekspresi tidak berdosa sedikitpun.


Mendengar itu, Tang Lian hanya bisa menggelengkan kepalanya, sedangkan Jia Li dan Yun Mei terkekeh-kekeh. Setelah itu kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka, tujuan mereka sudahlah jelas yaitu kembali ke istana kekaisaran. Namun sebelum itu, mereka akan singgah di kota singa api atas permintaan Jia Li. Jia Li berkata dia merindukan ayahnya, mendengar itu tentunya Tang Lian menurutinya.


Kemudian dua minggu telah berlalu dengan cepat, pada saat ini ketika hari menjelang malam, Tang Lian sedang membersihkan area sekitarnya untuk membangun tenda tempat mereka beristirahat. Sebenarnya Tang Lian dan para bawahannya bisa saja tidak beristirahat hingga sampai dikota singa api, namun tidak dengan Yun Mei yang sedang mengandung dan Jia Li yang kultivasinya masih terbilang rendah.


Tang Lian juga membawa semua wanitanya adalah karena dia tidak yakin bisa meninggalkan mereka tanpa perlindungan dikota benteng besi itu, terlebih lagi dia sudah membuat keributan besar disana. Pastinya pada saat ini banyak kekuatan besar yang sedang mengincar Tang Lian, mereka akan memaksa Tang Lian agar menjadi salah satu pengikut mereka, mereka akan berkata akui aku sebagai tuanmu atau mati?.


Tang Lian tentunya tidak mau mengambil resiko untuk meninggalkan wanitanya dikota yang sedang gempar tentang dirinya. Tang Lian merasa dia lebih baik kehilangan mansion itu dari pada kehilangan semua kecantikan yang dia miliki.


Disisi lain, Tang Lian berpikir bahwa berkelana kesana kemari dengan seorang diri itu tidak menyenangkan, terlebih lagi dia sudah memiliki istri, jadi mengapa dia harus meninggalkannya?.


Pada saat ini tengah malam telah larut, Tang Lian dan para bawahannya beserta istrinya juga telah memasuki tenda dan beristirahat. Tenda yang dibangun itu dalam satu tenda cukup untuk empat orang, dan Tang Lian membangun tiga tenda. Tentunya Tang Lian satu tenda dengan kedua istrinya tapi tidak dengan kedua wanita yang dia selamatkan sebelumnya.


Meskipun sebenarnya Tang Lian mesum, dia juga bukan pria bajingan yang meniduri wanita sebelum menikahinya.


Kemudian ditengah malam, Tang Lian terbangun dan melihat dikanan kirinya kedua istrinya memeluknya sambil tidur. Kemudian dengan perlahan Tang Lian melepaskan pelukan kedua istrinya dan pergi keluar tenda. Setelah dia keluar, Tang Lian melihat Wu Sue yang duduk termenung didekat api unggun.


"Nona Wu Sue, apa yang sedang kamu pikirkan?." Tang Lian bertanya seraya berjalan kearahnya.


"Tidak ada, aku hanya tidak mengantuk saja.." Wu Sue menjawab.


Mendengar itu kemudian Tang Lian tersenyum misterius lalu duduk disamping Wu Sue dan tiba-tiba mengangkatnya kepangkuanannya.


"Kyaa!!." Wu Sue berteriak terkejut dengan Tang Lian yang tiba-tiba mengangkatnya kepangkuaanya.


"P-pria mesum apa yang ingin kamu lakukan!?." Wu Sue bertanya dengan malu-malu.


Mendengar itu kemudian Tang Lian menjilat bibirnya sendiri kemudian berkata, "Coba tebak apa?."


Mendengar perkataan Tang Lian membuat Wu Sue berpikir kearah hal-hal yang mesum, dan itu membuatnya semakin malu.


"Apanya yang tidak boleh? Memangnya apa yang ingin aku lakukan?."


"Itu... Itu..." Wu Sue tidak bisa menjawab apapun.


"Apa jangan-jangan kamu berpikiran itu?."


"T-tidak!!." Wu Sue langsung menyangkal, tetapi pipinya sangat merah karena menahan malu.


Ekspresinya ini sangat imut dimata Tang Lian, hingga dia terus menatapnya tanpa berkedip dan seraya tersenyum.


"A-apa yang kamu lihat.." Wu Sue bertanya dengan semakin malu atas tatapan Tang Lian padanya.


Tang Lian tidak menjawabnya, kemudian hanya menjilat kembali bibirnya sendiri seraya menatapi Wu Sue yang malu-malu diatas pangkuannya.


"M-mesum..."


"Kamu selalu menyebut aku mesum, jadi kali ini aku akan benar-benar menjadi mesum!."


Setelah berkata demikian Tang Lian kemudian mencium bibir Wu Sue. Wu Sue sangat terkejut dengan ini, sebenarnya dia sudah menebak ini pasti akan terjadi, namun dia tetap saja terkejut.


Disisi Tang Lian, dia terus menciumi bibir Wu Sue, kemudian memasukan lidahnya dan mencari lidah Wu Sue. Disisi Wu Sue, dia berpikir bagaimanapun juga sepertinya dia tidak bisa lolos lagi dari ini, kemudian dia membalas ciuman Tang Lian. Apa yang mengejutkan adalah Wu Sue yang tiba-tiba mengalungkan tangannya di leher Tang Lian dan menciuminya dengan lebih ganas.


Tang Lian tentunya sangat senang dengan ini, kemudian dia meletakkan satu tangannya dipunggung Wu Sue dan satu lagi dia menggenggam gunung kembar Wu Sue yang disebelah kanan. Tang Lian meremasnya dan sesekali memilin buah cerinya.


Tubuh Wu Sue bergetar ketika Tang Lian memilin buah cerinya. Meskipun begitu, dia tidak melepaskan ciumannya dan terus menempelkan bibirnya pada bibir Tang Lian.


"Aku lihat bagaiman kamu tiba-tiba berubah menjadi sangat cabul, hehehe..." Tang Lian berkata.


"D-dan ini salah siapa?." Jawab Wu Sue malu-malu.


"Tentu saja ini salahmu nona Wu Sue, siapa suruh kamu terlihat sangat cantik dan imut!!." Tang Lian berkata dan kembali mencium Wu Sue.


Mendengar itu membuat Wu Sue semakin malu lagi lalu dia juga membalas ciuman Tang Lian. Setelah dua menit akhirnya mereka berdua melepaskan ciumannya. Terlihat seutas benang air liur terhubung diantara kedua bibir mereka yang sekarang terengah-engah.


"Pria mesum, aku ingin!!." Wu Sue berkata dan menatap wajah tampan Tang Lian dengan penuh nafsu.


Mendengar itu kemudian Tang Lian menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Tidak sekarang sayangku, aku menunggu agar kita menikah terlebih dahulu...".


Jawaban Tang Lian barusan membuat Wu Sue memasang ekspresi kecewa. Melihat itu Tang Lian merasa kasihan kemudian berkata, "Tapi aku akan membantumu melampiaskan nafsumu..."


Setelah berkata demikian Tang Lian kemudian kembali mencium Wu Sue dan tangan Tang Lian yang merayap kearah lembah keramatnya. Kemudian erangan-erangan yang penuh nafsu dan kenikmatan terdengar samar-samar.


BERSAMBUNG


Kasih like, komen, dan votenya dong kak, bang, om, tante, atau apalah itu😣😣😣