PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 131 "Penyesalan Ketiga Putri Kembar"


Tang Lian menatap ibunya yang hanya menyentuh makanannya saja namun tidak memakannya satu suap pun sedari tadi sedangkan makanannya dan Long Xia Shi sudah hampir habis. Melihat itu Tang Lian menghela nafas panjang seraya menggelengkan kepalanya lalu menepuk lembut rambut Long Xia Shi.


Long Xia Shi tau apa artinya ini, jadi dia dengan enggan bangun dari pangkuan Tang Lian dan pindah kekursi sebelahnya. Sedangkan Tang Lian pindah kesamping ibunya lalu meraih dua sumpit yang ada ditangan ibunya.


"Bayi kecilku, ibu bisa makan sendiri.." Ling Yuan berkata seraya memaksakan kembali senyumannya.


"Ibu, biarkan kali ini aku menyuapi ibu.." Tang Lian berkata dengan senyuman tulus. Tang Lian berpikir jika dia menyuapi ibunya maka kesedihannya akan terlupakan untuk sementara.


"Ayo buka mulut dan katakan, Aaaaaaa..." Tang Lian menyodorkan makanan itu tepat didepan mulut Ling Yuan. Tang Lian juga memperlakukan ibunya persis seperti seorang anak kecil yang makan saja sangat repot mengurusnya.


"Jika kamu memaksa maka baiklah, Aaaammm..."


Setelah Ling Yuan menerima dan mengunyah makanan itu, dia tidak bisa menahan tawanya karena menurutnya ini sangat lucu dan aneh ketika putranya memperlakukan ibunya seperti anak kecil yang manja.


"Apa yang ibu tertawakan? Ayo lagi, aaaa..." Tang Lian berkata dan kembali menyodorkan makanannya.


Melihat itu Ling Yuan semakin ingin tertawa. Dan akhirnya Ling Yuan benar-benar melupakan kesedihannya saat ini, dan meskipun itu hanya sementara tapi sangat melegakan bagi Tang Lian. Karena menurutnya, tidak ada yang lebih indah dari dunia dan seisinya selain melihat tawa ibu yang bahagia.


Zhao Yu yang melihat ini merasa sangat senang sehingga dia tersenyum sendiri ketika menatap pemandangan ini. Tapi disuatu sisi dia juga menginginkan situasi seperti ini terjadi padanya, situasi dia juga menyuapi ibunya dan tertawa bersama, dan akan lebih indah lagi jika ayah dan kakaknya juga disana dan mereka semua tertawa bahagia bersama. Namun kenyataan tidaklah seindah khayalan karena ibu dan kakaknya Zhao Yu sudah tidak ada lagi, ditambah bahwa dimasa lalu ibu dan ayahnya tidak pernah menganggapnya sama sekali. Itu membuat hatinya sedikit sakit.


Tapi dia sudah berjanji pada Tang Lian bahwa dia tidak akan bersedih lagi, jadi Zhao Yu hanya bisa tersenyum penuh arti meskipun disudut matanya berair.


Sedangkan Long Xia Shi, dia juga ingin diperlakukan seperti itu. Tapi mengingat bahwa itu adalah ibunya Tang Lian dia harus rela berbagi dengannya. Sedangkan para pelanggan lain yang juga berada di restoran itu dan melihat bagaimana keluarga kecil itu tertawa, mereka berpikir bahwa keluarga kecil itu sangat bahagia. Mereka tidak bisa untuk tidak membayangkan bahwa itu adalah mereka.


Suara tawa bahagia Ling Yuan terus terdengar karena tingkah putranya yang terus mengundang gelak tawa, bahkan beberapa pelanggan lainnya kadang juga ikut tertawa karena cara Tang Lian menghibur ibunya itu sungguh lucu.


Sedangkan disisi lain, didalam sebuah kamar Tang Yue berbaring diatas kasur, Tang Yui duduk disebuah kursi dan Tang Yua yang berdiri disebuah jendela dan menatap kearah bulan purnama yang ditemani oleh jutaan bintang yang bersinar sangat terang disekelilingnya.


Saat ini mereka merasakan perasaan yang sama yaitu penyesalan. Entah itu karena perasaan ibu dan ayahnya yang bocor melalui ikatan jiwa atau itu adalah penyesalan setelah tidak mengakui Tang Lin dan Ling Yuan sebagai ayah dan ibu mereka, yang pasti rasa penyesalan itu benar-benar sangat dalam.


Mereka pikir mereka telah melakukan kesalahan besar sekarang, mereka tau ayahnya itu pemarah namun mereka masih mengatakan kata-kata kurang ajar dan melewati batas.


Kata-kata yang mengatakan bahwa jika mereka mati maka ayahnya juga tidak akan peduli, bagaimana bisa Tang Lin tidak mengamuk ketika mendengarnya? Sedangkan mereka itu benar-benar anak kandung dari Tang Lin dan Ling Yuan.


Jika benar ayah dan ibunya tidak mencintai mereka, bagaimana mereka masih bisa tinggal diistana kekaisaran terkuat dialam atas dan menyandang nama tuan putri sampai sekarang? Jika benar ayah dan ibunya bukanlah orang tua kandung mereka, bagaimana bisa nama mereka dipanggil oleh keduanya dengan sangat akrab dan penuh kasih sayang? Jika memang apa yang mereka pikirkan itu benar, bagaimana bisa mereka semua memiliki aura yang hampir sama semuanya?.


Lalu hanya karena perlakuan berbeda dari ibu dan ayahnya pada mereka bertiga dan adik laki-laki mereka dan itu membuat ketiga putri kembar itu cemburu? Bukankah ini sungguh bodoh dan konyol? Mereka cemburu pada adiknya sendiri sedangkan dimasa depan mereka bertiga akan menjadi istri dari adiknya itu, apa yang lebih tidak konyol dengan kecemburuan yang tidak berguna itu?. Memikirkan itu, kemudian ketiga putri kembar itu tertawa bersama menertawakan kebodohan mereka bertiga.


"Seharusnya kita tidak mengatakan sesuatu yang membuat ayah murka dan ibu sedih.." Tang Yue berkata setelah dia selesai tertawa dan berkata dengan penyesalan.


"Heh... Bagaimana ayah bodoh itu tidak marah ketika kakak Yue mengatakan kata-kata yang tabu.." Tang Yui menyambung dan tersenyum kecut.


"Kita bertiga tau jika ayah adalah orang yang kejam dan sangat mudah marah, tapi disuatu sisi dia juga penyayang. Dan setiap dia marah selalu bersamaan dengan aura dan niat membunuh yang pekat, namun kali ini ketika memarahiku sebelumnya ayah tidak memiliki niat membunuh.." Ucap Tang Yue.


"Memiliki niat membunuh atau tidak, tetap saja kakak hampir mati sebelumnya!.." Tang Yui sedikit berteriak karena dia masih kesal.


Mendengar itu Tang Yue menggelengkan kepalanya lalu kembali berkata, "Aku hanya hampir mati saja, dan nyatanya aku masih hidup sekarang.."


Perkataan Tang Yue itu sangatlah benar dan membuat semuanya terdiam. Hingga beberapa menit kemudian Tang Yua membuka suara.


"Hei kakak, bukankah seharusnya kita meminta maaf pada ibu?.."


"Maksudmu adik Yua, kita datang ke restoran dan meminta maaf disana begitu?.." Ucap Tang Yui bertanya.


"Benar.." Tang Yua juga mengangguk seraya tersenyum.


"Tapi bukannya itu hanya menunjukkan jika kau sedang sangat lapar adik Yua?.." Tang Yui berkata dan menggoda adiknya yang lapar.


"A-apa yang kakak Yui pikirkan? Aku benar-benar tulus ingin meminta maaf, dan juga..." Tidak sempat Tang Yua menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Tang Yue ikut-ikutan menyambung.


"Dan juga meminta makanan karena sangat lapar?.."


"Kakak..... mengapa kalian selalu mengerjai ku?.." Tang Yua bertanya dengan ekspresi yang sangat lucu dan malu, karena apa yang dikatakan kakaknya itu juga benar, karena dia juga sebenarnya lapar.


"Hahahaha...."


Tang Yue dan Tang Yui tertawa bersamaan ketika melihat ekspresi Tang Yua yang menggemaskan.


"Adik Yua, jangan bersedih seperti itu, kamu sebagai adik tentunya akan terus mendapatkan ejekan dari kami karena itulah cara kami menunjukkan kasih sayang kami.." Ucap Tang Yue menjelaskan.


"Ini tidak adil!.. Dan bagaimana dengan adik Lian? Bukankah dia seharusnya lebih di tindas dari pada aku?.." Tang Yua bertanya karena merasa ini tidak adil.


"Yah... Dia jarang bersama kita jadi itu tidak mungkin..." Kali ini Tang Yui menyahut sedangkan Tang Yue mengangguk.


"Tapi ya.... Seharusnya kita sekarang BERSAMBUNG..."