PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 63"Hal Sepele Yang Memancing Kemarahan"


Disisi Tang Lian yang mendengar perkataan Zhao Yu seketika teringat akan masa lalunya yang suram tentang bagaimana dia ditindas, dihina, dan direndahkan hanya karena tidak memiliki kekuatan, dan pada saat yang bersamaan Tang Lian juga berubah menjadi marah. Karena bagaimanapun juga itu adalah hal yang tidak akan dapat Tang Lian lupakan.


"Zhao Yu, apakah kau menghinaku atau kau sengaja ingin membuatku marah?." Tang Lian berkata dengan pelan sambil memejamkan matanya namun energi besar seketika terkumpul disekeliling Tang Lian menandakan bahwa dia sedang marah.


Energi besar terkumpul, aura penindasan, tanah bergetar seperti gempa bumi. Semua itu dikarenakan Tang Lian sedang marah besar. Masa lalu Tang Lian yang suram kini teringat kembali, bergetarnya tanah membuat seluruh isi sekte elang besi itu berhamburan keluar.


Disisi pemimpin sekte yang merasakan getaran tanah yang kuat dan enegi besar yang terkumpul diwilayah sektenya menjadi panik.


"Apakah ada seseorang yang menyerang?." Pemimpin sekte elang besi yang namanya adalah Jia Kun bergumam pelan kemudian dia ikut keluar juga.


Pada saat ini orang-orang yang ada didekat Tang Lian tidak dapat bergerak sama sekali dan bahkan Lao Hu dan Wang Long juga ikut tertekan, namun mereka berdua hanya bisa diam karena takut akan terkena imbasnya juga.


"Tu...Tuan, ma...maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu..." Zhao Yu berkata dengan susah payah dan ketakutan yang besar.


"Lalu apa maksudmu?."


"Aku...Aku hanya tidak ingin...Ahk.." Zhao Yu ingin menjelaskan namun dia semakin susah untuk berbicara karena tekanan Tang Lian semakin kuat kearahnya, dan itu membuat Zhao Yu sekarang berlutut ditanah.


"Berbicaralah dengan jelas Zhao Yu.." Tang Lian berkata dengan pelan namun tekanannya semakin kuat.


Didalam tekanan Tang Lian, Jia Li yang juga telah ada disana juga tidak berani berkata apapun, dia takut jika dia berbicara maka dia juga akan terkena imbasnya karena ini berawal dari murid sekte ayahnya yang memandang orang dengan sebelah mata.


Disisi murid sebelumnya dia bahkan sudah terkencing dicelana dan wajah yang sudah pucat pasi. Dia merasa menyesal telah menyinggung Tang Lian, namun rasanya penyesalan itu tidak akan menolongnya.


Pada saat ini hanya Yun Mei lah yang dapat bergerak dengan bebas dan sambil menggelengkan kepalanya Yun Mei kemudian memeluk Tang Lian dari belakang.


"Suamiku, sudahlah sebelumnya ini juga hanya masalah sepele jadi lupakan saja, lihatlah kamu membuatnya takut..." Yun Mei berusaha menenangkan Tang Lian dan menunjuk kearah Jia Li yang memang ketakutan.


"Memikirkan kesetiaanmu padaku maka aku akan melupakannya kali ini, namun tidak untuk kedua kalinya, karena ketika kedua kalinya itu tiba maka aku tidak peduli siapa kau.." Amarah Tang Lian akhirnya mereda karena merasakan Yun Mei memeluknya dan berbicara lembut padanya.


"Terima kasih tuan, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.." Zhao Yu berterima kasih dengan masih bersujud walaupun Tang Lian telah menghilangkan aura penindasannya, energi besar dan gempa yang dilakukan olehnya.


Kesetiaan Zhao Yu bukanlah tanpa sebab, karena dimasa lalu jasa Tang Lin sang penguasa sangatlah besar kepada keluarganya. Jika sebelumnya tahta dewa penghakim ini diwarisi oleh orang lain maka Zhao Yu juga tidak akan sebegitunya setia terlebih lagi bersujud dihadapannya.


Namun karena yang mewarisinya adalah putra dari orang yang sangat keluarganya hormati maka Zhao Yu telah memutuskan bahwa dia akan mengabdikan hidupnya dijalan ini bahkan jika dia harus mati juga tidak akan menyesal.


Kira-kira jasa seperti apakah yang ditinggalkan oleh Tang Lin sehingga membuat keluarga Zhao Yu sampai sangat setia seperti itu? Kita akan tahu dikemudian hari.


(Kembali ke Tang Lian).


"Maaf apa aku menakutimu?." Tang Lian bertanya lembut kepada Jia Li.


"Maakan aku..." Tang Lian yang melihat ekspresi Jia Li juga telah paham dan meminta maaf sekali lagi kemudian mencium lembut keningnya.


"Tidak apa-apa, ayo kita jumpai ayah saja.." Jia Li berkata kemudian memegang tangan Tang Lian dan ingin menuju kediaman ayahnya namun ayahnya tiba-tiba muncul bersama empat tetua bersamanya.


"Siapa yang begitu lancang menyerang sekteku!." Jia Kun berteriak marah.


"Pemimpin sekte tolong, ada monster!!." Murid penjaga sebelumnya tanpa sadar berlari kemudian bersembunyi dibelakang ayahnya Jia Li dan meminta tolong karena dia sangat ketakutan sekarang.


"Monster?." Jia Kun berkata dengan bingung lalu melihat kearah yang ditunjukkan murid itu.


"Tu...Tuan muda!!." Jia Kun berkata dengan mata terbelalak dan mulut ternganga karena terkejut.


Kemudian pemimpin sekte itu juga melihat kearah samping Tang Lian, dan tanpa sadar dia meneteskan air matanya dan menatap itu dengan tidak percaya.


"Ayah!!!." Jia Li berkata sambil menangis kemudian berlari dan memeluk ayahnya.


"Put...Putriku...Apakah kamu benar-benar putriku Jia Li!?."


"Ini benar-benar aku ayah, apakah ayah sudah melupakan aku? Hiks...hiks...hiks.." Jia Li berkata sambil menangis terisak-isak.


"Tidak nak, ayah tidak mungkin melupakan putri satu-satunya yang ayah punya.." Jia Kun juga kemudian membalas pelukan putrinya dengan erat dan juga menangis bahagia.


Para murid yang sebelumnya berhamburan keluar karena ulah Tang Lian pada awalnya juga sangat ketakutan namun ketakutan itu berganti dengan air mata yang menetes karena haru. Jia Li dan ayahnya sudah berpisah selama tiga bulan lamanya. Tiga bulan yang lalu Jia Li sedang berbelanja di kota singa api, namun diperjalanan Jia Li tiba-tiba ditangkap oleh pemimpin kota singa api, kemudian pemimpin kota menyampaikan kabar palsu kepada ayahnya Jia Li bahwa putrinya sudah dibunuh oleh anggota dari orang-orang aliran hitam.


Pada awalnya ayah Jia Li tidak percaya namun setelah dia melihat giok jiwanya Jia Li benar-benar hancur akhirnya dia percaya tanpa menyelediki ternyata giok jiwa yang hancur itu palsu.


Diposisi Tang Lian yang melihat itu hanya diam saja karena dia paham akan perasaan kedua ayah dan anak itu, Tang Lian berpikir bahwa dia juga pernah ada diposisi yang sama.


Kemudian setelah beberapa menit akhirnya Jia Li dan ayahnya sudah puas untuk melepaskan rindu kemudian melepaskan pelukannya.


"Putriku, apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu? Jika kamu selamat dari orang-orang aliran hitam itu mengapa tidak kembali?." Jia Kun bertanya dengan bingung.


"Ceritanya panjang ayah, aku akan menjelaskan setelah kita masuk dan berbicara diruangan ayah.." Jia Li berkata kemudian berlari kearah Tang Lian lalu memegang tangannya.


"Ayah, aku perkenalkan ini adalah kekasihku..." Jia Li memperkenalkan Tang Lian dengan senyum yang lebar namun senyum itu digantikan dengan ekspresi wajahnya yang sangat terkejut.


"Ah...Tuan muda maafkan aku, aku terlalu bahagia karena telah bertemu kembali dengan putriku sehingga melupakan keberadaan anda.." Jia Kun meminta maaf sambil bersujud karena dia masih ingat dan takut kepada Tang Lian.


***BERSAMBUNG***