PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 104 "Sampai Dikota Singa Api."


Begitu Tang Lian dan orang-orangnya sampai didepan gerbang, para prajurit penjaga itu memperlakukannya dengan sangat hormat, disetiap kata-katanya mereka memastikan bahwa mereka tidak mengatakan hal yang buruk.


"Tuan sang penghakim, silahkan..."


"Hm? Apa sekarang tidak perlu membayar koin emas lagi?." Tang Lian bertanya dengan penasaran.


"Sebenarnya masih tuan sang penghakim, namun jika itu anda kami tidak berani, karena takutnya nyonya Liu Mingyan akan menghukum kami..." Prajurit penjaga gerbang itu berkata dengan sangat hormat.


Mendengar itu kemudian Tang Lian menggelengkan kepalanya. Lalu kemudian mengeluarkan dua puluh keping emas dan memberikannya pada prajurit penjaga itu.


"Sebagai pengunjung aku tidak ingin diperlakukan berbeda dengan yang lainnya.." Tang Lian berkata seraya menyerahkan koin emasnya.


"T-tapi tuan, ini terlalu banyak..." Prajurit penjaga itu berkata dengan tergagap dan tangannya yang gemetaran menerima koin emas itu. Bagaimana tidak? Pasalnya satu koin emas saja setara dengan seribu koin perak, dan satu koin perak setara dengan seribu koin perunggu.


Kehidupan orang-orang dikota singa api ini mayoritas hanya mengeluarkan biaya hidup sebesar lima ratus koin perak perbulannya perkeluarga. Dan itu tidak dihitung dengan biaya sumber daya yang akan mereka gunakan untuk berkultivasi, jika dihitung dengan biaya sumber daya kultivasi mereka maka rata-rata mereka mengeluarkan satu keping emas perorangnya, orang-orang pada umumnya akan lebih memilih memberikan sumber daya pada anaknya dari pada dirinya sendiri.


Itu akan berbeda lagi dengan keluarga-keluarga dari kalangan atas yang biasanya disebut dengan bangsawan.


Kembali ke cerita :


"Tapi tuan, kami takut nyonya Liu Mingyan akan marah..."


"Aku yang akan menjamin bahwa dia tidak akan marah, dan juga ambil saja lebihnya untuk kalian..." Tang Lian berkata kemudian berjalan memasuki kota kecil itu dengan santai.


"Terima kasih banyak tuan sang penghakim!!."


Mendengar kata itu Tang Lian hanya tersenyum. Setelah itu, Tang Lian dan orang-orangnya kemudian langsung saja menuju sekte elang besi. Tang Lian dan orang-orangnya berjalan dengan santai hingga satu jam kemudian mereka telah sampai di depan gerbang sekte elang besi.


Murid-murid sekte elang besi menyambut kedatangan Tang Lian dan tuan putri mereka dengan sangat bahagia.


"Ayah!! Aku merindukanmu!!.." Jia Li berlari dan langsung memeluk ayahnya.


"Begitu kah? Ini hanya beberapa bulan setelah kalian pergi..." Jia Kun berkata dan membalas pelukan anaknya.


"Tapi tetap saja aku merindukan ayah..."


Mendengar itu Jia Kun hanya tersenyum senang.


"Ayah mertua, bagaimana kabarmu?." Tang Lian bertanya seraya berjalan mendekat dan membungkuk memberikan hormat.


"Seperti yang kamu lihat, ayah mertuamu ini meskipun sudah tua tetapi jiwaku masih muda.."


Mendengar itu Tang Lian dan semuanya tertawa bahagia bersama, kemudian satu persatu orang baru yang dibawa oleh Tang Lian memperkenalkan diri hingga yang terakhir adalah Wu Min.


"Hm? Bukankah kau perampok waktu itu?." Jia Kun bertanya dengan curiga dan ternyata dia mengenal Wu Min.


"B-benar tuan pemimpin sekte, tak kusangka tuan pemimpin sekte masih mengenaliku..." Wu Min menjawab dengan tergagap.


"Bagaimana aku bisa melupakanmu? Sedangkan kau dan kelompokmu waktu itu ingin menculik muridku waktu mereka menjalankan misi dihutan itu?."


"Hehehe..." Wu Min memaksakan tawanya.


"Waktu itu aku mengampuni nyawamu dan kelompokmu dan sekarang kau berani menginjakkan kaki di sekteku? Apa kau tidak sayang nyawa?." Jia Kun berkata dan mengeluarkan aura membunuh yang pekat.


"Ayah mertua, sudahlah, sekarang dia adalah salah satu bawahanku..." Tang Lian berkata seraya memegang pundak Jia Kun.


Karena Tang Lian telah bertindak maka Jia Kun dengan sedikit enggan menghentikan aksinya.


"Karena menantuku telah berkata demikian maka aku akan melupakan apa yang pernah terjadi sebelumnya..."


"T-terima kasih tuan pemimpin sekte..." Wu Min berkata seraya menangkupkan tangannya.


"Sudahlah, lupakan saja, karena itu juga sudah lama, terlebih lagi karena menantuku telah memilihmu sebagai pengikutnya maka aku tidak ada pilihan lain selain percaya dengan keputusannya..."


Mendengar itu kemudian Tang Lian tersenyum lagi. Sedangkan Wu Min membatin 'G-gila!! Jika bukan karena tuanku mungkin aku sudah jadi debu sekarang!!'.


"Oh ya, ayah mertua aku ingin bertanya tentang sesuatu, bisakah kita berbicara berdua?." Tang Lian berkata.


"Baiklah menantuku, kita akan berbicara diruanganku.." Jia Kun berkata dan merasa sepertinya ini penting bagi Tang Lian.


Setelah itu kemudian Jia Kun memipin jalan dan Tang Lian yang mengikutinya dari belakang hingga sampai diruangan pribadi Jia Kun.


"Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan menantu?."


"Begini, setelah kepergian kami beberapa bulan yang lalu apakah ayah mertua kedatangan tamu penting?."


"Ya, aku kedatangan kaisar Long Tian dan keluarganya, katanya mereka mencarimu tetapi kamu sudah pergi..."


Tang Lian sudah menebak ini, tetapi dia masih ingin bertanya untuk memastikan. Kemudian Tang Lian bertanya lagi, "A-apakah tuan putri ikut juga?."


Dengan sedikit takut akan jawaban Jia Kun selanjutnya Tang Lian bertanya seraya sedikit tergagap.


"Tuan putri? Ah... Dia bukan hanya ikut, tetapi dia juga menangis dan berteriak sedih setelah tau jika kamu telah pergi, dan juga waktu itu dia ingin menyusulmu tetapi kaisar dan ratu tidak mengizinkan. Haihh... kupikir dia itu sangat mencintaimu menantuku..."


Mendengar ini membuat Tang Lian terdiam seribu bahasa dan tidak tau harus berkata apa, dan kenyataan tentang pikirannya selama ini ternyata salah dan itu membuat perasaan yang menyesal sangat dalam bagi Tang Lian.


"Terima kasih ayah mertua, hanya itu yang ingin aku tanyakan..." Tang Lian berkata setelah beberapa detik kemudian.


"Menantuku, apakah diantara kita masih perlu berterima kasih? Ingat bahwa kamu adalah menantuku..." Jia Kun berkata seraya memegang pundak Tang Lian.


"Tapi menantuku, kepulangan kalian hari ini apakah berkaitan dengan pernikahan tuan putri?." Dengan penasaran Jia Kun bertanya.


"Benar..... Kepulangan kami hari ini adalah untuk mengacaukan hari pernikahan itu! Jika aku tidak bisa memiliki Long Xia Shi maka jangan harap siapapun yang bisa memilikinya!!." Tang Lian berkata dengan mata yang membara.


"Tetapi menantuku, ini terlalu berbahaya! Orang yang melamarnya adalah tuan muda dari sekte pedang cahaya dan sekte itu adalah salah satu pilar kekaisaran ini. Dan juga, sembilan puluh tahun yang lalu kakek dari yang melamar itu telah mencapai ranah saint tingkat menengah, sejak saat itu dia melakukan kultivasi tertutup, aku tidak tau apakah sekarang dia telah keluar, aku takut kamu...." Jia Kun berkata dengan khawatir.


"Ayah mertua, kamu tidak usah khawatir, terlebih apakah ayah mertua lupa siapa aku? Mereka hanya sebuah sekte apakah pantas untuk aku pandang?." Tang Lian berkata dengan tersenyum sombong.


Mendengar ini Jia Kun kemudian terdiam dan membelalakkan matanya, dia baru ingat jika menantunya ini bukanlah menantu sembarangan.


"Kamu benar menantuku, kamu adalah sang penghakim, aku yang terlalu banyak berpikir.."


BERSAMBUNG


Kasih like, komen, dan votenya dong kak, bang, om, tante, atau apalah itu.