
Disisi Lain, diatas pucuk sebuah pohon yang menjulang sangat tinggi, Zhao Yu duduk disana ditemani dengan sinar bulan sabit dan jutaan bintang yang bersinar indah. Zhao Yu memainkan serulingnya dengan pelan dan lembut. Nada demi nada ia mainkan, membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa jiwanya tentram.
Wang Long yang mendengar itu, seketika ia melata keluar dari dalam sebuah goa dengan senyuman diwajahnya. Meskipun ia tersenyum, tetapi ia penasaran mengapa kali ini tidak ada kesedihan di dalam permainan serulingnya Zhao Yu.
"Biasanya setiap kali Zhao Yu bermain suling maka terdengar seperti menyayat hati, tidak tau mengapa kali ini justru membuat hati tenang.." Gumam Wang Long seraya memandang ke tempat dimana Wang Long berada.
Wu Min yang baru pertama kali mendengar permainan seruling Zhao Yu, kemudian tersenyum misterius. Ia yang sebelumnya mendengar Wang Long bergumam, kemudian keluar dari mulut goa seraya berkata, "Guru, anda akan mendengar yang lebih menenangkan sebentar lagi hehehe.."
Wang Long bingung dan penasaran tentang apa yang dikatakan muridnya itu. Ia memandang muridnya yang berjalan melewatinya kemudian melompat ke samping pohon Zhao Yu.
"Apa yang akan dilakukan oleh bocah bau ini?.." Gumam Wang Long penasaran.
Detik berikutnya, Zhao Yu mengeluarkan alat musik Guzheng. Kemudian ia memetiknya beriringan dengan seruling Zhao Yu. Perpaduan antara kedua alat musik yang dimainkan itu terdengar semakin menentramkan jiwa. Wang Long menatap itu dengan tatapan tidak percaya.
Zhao Yu yang menyadari jika Wu Min mengiringi permainan serulingnya, kemudian tersenyum lalu meningkatkan nada serulingnya ketingkat tinggi.
Wu Min tersenyum melihat itu. Kemudian ia berkata, "Senior, aku mungkin kalah dalam hal kekuatan dengan anda. Tetapi jika kamu menantang ku dalam permainan musik, aku tidak lebih buruk dari mu.."
Setalah berkata demikian, Wu Min juga meningkatkan nada Guzheng nya ketingkat tinggi. Sementara Wang Long melongo melihat itu, ia terlalu tenggelam kedalam permainan musik kedua orang itu.
Selama sepuluh menit kemudian kedua pemuda itu bermain dengan indah akhirnya berhenti juga.
"Junior, permainanmu sangat bagus, kamu hampir mengalahkan ku..." Ujar Zhao Yu dengan senyuman mengambang.
"Senior terlalu memuji, jika bukan anda yang menahan diri, kurasa aku tidak ada apa-apanya..." Jawab Wu Min merendah.
Zhao Yu hanya terkekeh pelan mendengar itu. Ia berpikir, setelah mendengar sebuah pujian ternyata orang ini tidak lupa diri.
"Jika boleh tau, dari mana junior belajar?.." Tanya Zhao Yu kemudian.
"Aku belajar bersama kakakku, tetapi tentang dimana kami belajar itu...." Wu Min menghentikan kata-katanya dan terlihat matanya memerah, "Terlalu menyakitkan untuk diingat..." Ujarnya kemudian dengan memaksakan senyuman.
Namun meskipun demikian, Zhao Yu masih bisa melihat bahwa sudut mata Wu Min itu mengalir air mata yang hampir tidak terlihat. Detik itu Zhao Yu menyadari jika Wu Min juga menyimpan cerita kelam yang menyedihkan.
Disisi Fei Fei, ia sedang menemani putranya dikamar seraya mengelus kepalanya dengan lembut.
"Suatu saat nanti, kamu harus bangga dan berteriak jika kamu adalah putraku..." Gumam Yan Feng seraya mengingat apa yang ayahnya katakan di pinggir sungai.
"Hm?.." Fei Fei kebingungan mendengar itu.
"Apa yang kamu katakan Feng'er?.." Tanya Fei Fei yang penasaran.
Yan Feng kemudian bangun dan duduk berhadapan dengan ibunya, "Ayah yang berkata seperti itu ibu. Dan bukan itu saja, ayah berkata jika aku adalah harta karun miliknya.." Ucap Yan Feng dengan senyuman mengambang.
Fei Fei tersentak mendengar itu, beberapa detik kemudian ia meneteskan air matanya. Ia pun membawa putranya kedalam pelukannya. Entah kenapa ia merasa sangat bahagia mendengar itu.
"Jika begitu, maka dimasa depan kamu harus berusaha agar tidak mengecewakannya. Dan ingat pesan ibu, apapun yang kamu lalui nanti kamu tidak boleh menjadi orang sombong, kamu harus menjadi pria rendah hati dan suka membantu mereka yang lemah mengerti?.." Ujar Fei Fei lembut.
"Aku mengerti ibu.."
Beberapa menit kemudian, akhirnya ia menemukan Tang Lian sedang duduk di halaman belakang seraya menegak anggur dari kendi seorang diri.
Tang Lian tentunya menyadari kehadiran Fei Fei lalu bertanya, "Kucing pemalu oh bukan, Janda cantik kamu belum tidur?."
Wajah Fei Fei berubah merah karena itu, namun ia menggelengkan kepalanya. Dengan senyuman yang lebar, ia datang dan duduk langsung di pangkuan Tang Lian.
"Janda cantik, kamu... Mmpphh~."
Belum sempat Tang Lian menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba bibirnya disumbat oleh bibir merah Fei Fei. Ia tentunya sangat terkejut dengan keberanian Fei Fei, karena sebelumnya ia hanyalah seekor kucing pemalu yang bahkan bicara saja sangat jarang.
Tetapi Tang Lian memilih untuk mengesampingkan itu, ia saat ini lebih memilih untuk membalas ciuman itu dan menikmatinya.
Fei Fei mengalungkan tangannya di leher Tang Lian dan memperdalam ciumannya. Tang Lian juga meletakkan tangan kirinya dipunggung Fei Fei dan mengelusnya. Detik demi detik berlalu, kedua pasangan itu bersilat lidah, keduanya mencari lidah lawannya dan melilitnya dengan lidahnya.
Semenit kemudian kedua pasangan itu mengakhiri ciumannya dan terengah-engah bersama. Terlihat seutas benang air liur terhubung dikedua bibir mereka.
"Terima kasih .." Ujar Fei Fei yang masih terengah-engah dan meletakkan kepalanya didada Tang Lian.
Tang Lian mengelus rambutnya dan bertanya kembali, "Terima kasih untuk apa?.."
"Feng'er sudah menceritakan semuanya padaku.."
"Termasuk tentang harta karun?.."
"Ya.."
Tang Lian memegang dagu Fei Fei dan mengangkatnya hingga Fei Fei dan dia bertatap wajah langsung. Tang Lian membelai bibir merah Fei Fei dengan jari jempolnya seraya berkata, "Bukankah aku adalah calon suamimu?.."
Fei Fei mengangguk dengan wajah yang memerah, rasanya ia tidak tahan melihat karena setiap kali ia memandang wajah tampan itu, jantungnya berdegup kencang.
"Jadi tidak usah berterima kasih padaku karena sebagai ayah, itu adalah yang harus aku lakukan.." Ujar Tang Lian lembut.
Fei Fei tersenyum sangat senang mendengar itu, kemudian ia meletakkan kembali kepalanya didada Tang Lian. "Kamu tau, selama kamu tidak disini aku benar-benar sangat merindukanmu.." Ujar Fei Fei jujur.
"Sekarang aku sudah disini.." Ucap Tang Lian seraya mengelus rambut Fei Fei dengan penuh kasih sayang.
"Tapi meskipun kamu disini, kamu hampir tidak ada waktu untukku. Kadang aku berpikir, apakah sebenarnya aku sudah tidak menarik bagimu, mengingat jika semua istri dan kekasihmu yang lain itu lebih cantik dariku.." Ungkap Fei Fei dengan suara yang hampir menangis. Itu adalah yang sebenarnya ia rasakan tetapi tidak pernah mengatakannya kepada siapapun karena ia adalah orang pendiam.
Tang Lian menatap Fei Fei yang bercerita dengan perasaan bersalah didalam hatinya. Ia berpikir sepertinya ia harus segera menikahi semua kekasihnya untuk menyingkirkan pemikiran seperti itu. Tang Lian meletakkan tangannya kembali didagu Fei Fei.
"Maaf..."
Hanya itu yang keluar dari mulut Tang Lian kemudian detik berikutnya ia langsung ******* kembali bibir Fei Fei.
Fei Fei juga membalas ciuman itu, mereka bersilat lidah dengan sengit. Namun pada saat bersamaan Fei Fei merasakan ada sebuah benda keras seperti baja yang menyentuh lembah keramatnya, Benda apakah itu?..