
Sementara itu di sisi Mao Gu, ia tidak ingin ketinggalan, ia bertarung di tempat dimana ia bertarung sebelumnya. Mao Gu memiliki temperamen yang sangat buruk, ia tidak rela dikalahkan. Di kalahkan oleh seseorang adalah penghinaan terbesar baginya, ia merasa seolah-olah harga dirinya telah di injak-injak.
Menatap pasukan istana Penghakim dengan tatapan benci dan penuh dendam, Mao Gu menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya erat dan berkata, "Pasukan setengah iblis dengarkan perintah !!.. Bentuk barisan dan hancurkan semua pasukan musuh !!.." Teriaknya memberikan perintah.
Dalam sekejap, sepuluh ribu orang pasukan kekaisaran Zhang langsung memisahkan diri dan membentuk barisan mereka sendiri. Mao Tzu menatap itu dengan tatapan tidak percaya, dalam situasi seperti ini bisa-bisanya harimau bodoh itu mementingkan ego dan harga dirinya. Dia seolah tidak sadar jika dia hanya akan mempercepat kematiannya.
"Dasar harimau bodoh sialan !! Tidak pernah sekalipun dia mendengarkan aku !! " Mao Tzu berpaling muka dari Mao Gu dengan ekspresi tidak peduli lagi, "Jika itu yang kau inginkan maka jangan salahkan aku yang tidak peduli dengan hidup dan mati mu!! Lakukan saja sesukamu !! " Ujar Mao Tzu yang marah dan kecewa pada harimau hitam itu.
Sementara itu peperangan terus berlanjut hingga tiga puluh menit kemudian, tetapi pasukan kekaisaran Zhang tetap tidak bisa menerobos kepungan satu jengkal pun. Bahkan ketika para panglima iblis angin telah maju ke Medan Perang terkecuali sang naga kegelapan, ia masih terlihat tenang dan santai.
Para panglima iblis angin itu memang bisa membunuh puluhan hingga ratusan orang pasukan istana Penghakim, namun setiap pasukan istana Penghakim yang tumbang maka akan langsung digantikan oleh pasukan baru yang sama kuatnya.
Hal itu membuat para panglima iblis angin perlahan-lahan menjadi kewalahan dan terpojok. Tubuh para panglima iblis angin itu kini terlihat sudah memiliki luka di beberapa bagian tubuhnya. Namun meskipun demikian, para panglima iblis angin itu tidak menyerah sama sekali. Mereka berjuang dengan gigih sementara pasukannya terus menerus berjatuhan. Para panglima iblis angin terus mengayunkan pedangnya, luka-luka di tubuh mereka seolah-olah tidak ada apa-apanya bagi mereka.
Sementara disisi Mao Gu, ia justru berada di posisi yang lebih menyedihkan sekarang. Akibat memindahkan diri dari pasukan utama, kini dia dan pasukannya jauh semakin terdesak. Pasukan setengah iblis nya kini hanya tersisa lima ribu orang dalam waktu lima belas menit.
Apa yang dilakukan oleh Mao Gu adalah sebuah kebodohan yang sebenarnya. Ia terlalu mementingkan ego dan harga dirinya, lalu memerintahkan pasukan untuk membentuk barisan sendiri tanpa memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu. Sekarang hanya masalah waktu dan mereka akan mati juga pada akhirnya di medan perang ini.
Tetapi juga apa yang di lakukan oleh Mao Gu tidak sepenuhnya juga salah. Karena dia melakukan itu akhirnya pasukan utama bisa tenang untuk sementara karena dari belakang mereka tidak akan ada yang mengejar. Atau pun ketika mereka telah berhasil menembus kepungan maka pasukan pengejar istana Penghakim akan di perlambat karena harus berhadapan dengan pasukan Mao Gu terlebih dahulu.
Para tetua dari istana Penghakim tentu saja sudah memikirkan kemungkinan ini, jadi mereka membuat keputusan agar tidak berlama-lama dalam perang ini. Mereka ingin secepatnya menyelesaikan perang ini, maka dari itu para tetua pun akhirnya memutuskan untuk terjun ke medan perang sekarang.
Meskipun sebenarnya mereka tau jika mereka pasti akan menang walau pun mereka tidak maju, tetapi untuk mengurangi jumlah korban dari pihak mereka ini juga adalah keputusan yang tepat. Tetapi ketika mereka ingin terjun, tiba-tiba saja mereka di hambat oleh sang naga kegelapan. Naga kegelapan melesat seperti kilat hitam dan berdiri seorang diri dihadapan delapan tetua istana Penghakim.
"Kalian mau kemana? Tidak ada satu pun dari kalian yang bisa lewat dari garis ini..." Ujar Sang naga kegelapan dengan suara berat dan membuat garis di tanah.
Mengangkat tangan sebelah kedepan dan sebelah kebelakang, sang naga kegelapan kemudian berkata, "Terlalu banyak omong kosong, kalian bisa maju satu persatu. Tapi untuk menghemat waktu kalian maju saja semuanya sekali gus.." Ujarnya santai dan terlihat tidak peduli dengan kata-kata para tetua sebelumnya
"Hmph!! Kau terlalu sombong!!.." Tetua pertama istana Penghakim sangat kesal dengan kata-kata sang naga kegelapan, dan akhirnya ia bergerak maju secepat kilat dan mengayunkan pedangnya ke arah leher musuhnya.
Sang naga kegelapan terlihat biasa saja seolah-olah dia tidak menyadari serangan itu. Tetapi satu inci sebelum pedang tetua pertama menyentuh lehernya, telapak tangan sang naga kegelapan tiba-tiba menghantam dada tetua pertama.
Tetua pertama terlambat menyadari itu, ia terlempar kembali kebelakang seperti peluru. Semua tetua menatap itu dengan tidak percaya, jelas-jelas mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri jika pedang tetua pertama sedikit lagi akan memotong leher naga kegelapan.
Disisi tetua kedua, ia dengan sigap langsung menangkap tubuh tetua pertama yang dikirim kembali kebelakang dan memuntahkan seteguk darah, "Tetua pertama kamu baik-baik saja!?.." Tanya tetua kedua dengan perasaan khawatir dan membantunya berdiri.
"Aku baik-baik saja, ini hanya luka ringan.." Ujar tetua pertama seraya memegang dadanya yang sakit.
"Bajingan!!.." Tetua kedua tersulut emosi ketika dia melihat wajah pucat tetua pertama yang kesakitan, ia melepaskan tubuh tetua pertama dan bergerak dengan cepat menyerang naga kegelapan.
Dengan amarah yang membara tetua kedua melapisi pedangnya dengan energi qi yang cukup besar, lalu ia mengayunkannya beberapa kali dengan posisi yang berbeda-beda. Sebuah siluet biru seperti sabit melesat membelah angin ke arah sang naga Kegelapan.
Sang Naga Kegelapan menatap itu dengan ekspresi datar, "Tehnik sampah.." Ujarnya seraya mengibaskan tangannya dan langsung menghancurkan siluet biru itu dengan mudah.
Para tetua menatap itu dengan mata terbelalak dan mulut terbuka menganga. Karena hanya dengan mengibaskan tangannya saja serangan tetua kedua terlihat tidak berguna sama sekali.
Ekspresi tetua kedua bahkan jauh lebih jelek, ia sangat marah melihat serangannya dapat ditahan dengan mudah. Di bawah kemarahan yang menguasai dirinya, tetua kedua memegang pedangnya erat-erat dengan kedua tangannya, ia mengangkatnya tinggi-tinggi hingga di atas kepala lalu berteriak keras...
"Aku tidak percaya kau juga bisa menahan ini!! Niat Pedang!!.." Tetua kedua mengayunkan pedangnya kebawah, dan sinar biru yang panjang dengan aura mendominasi membelah apapun yang di lewatinya mengarah pada Naga kegelapan.