PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 176 "Mandi Di Air Terjun"


Sementara semua istri, kekasih, dan para bawahan Tang Lian melakukan aktivitas rutin mereka masing-masing. Didalam ruang kerjanya di kediaman pemimpin kota, Liu Mingyan saat ini terlihat menggerakkan kuasnya untuk menandatangani banyaknya berkas yang menumpuk di mejanya. Wajahnya juga terlihat sangat kesal.


"BRAAKK!!!.."


Liu Mingyan tiba-tiba menggebrak mejanya dan berteriak sangat kesal, "Sial!! Kekasihku sudah kembali, tetapi aku bahkan tidak bisa menemuinya karena pekerjaan yang tidak ada habisnya ini!!.."


Beberapa pelayan yang menemani terdiam seraya seraya tersenyum kecil. Mereka terlihat sangat menikmati bagaimana Liu Mingyan begitu tidak sabaran untuk berjumpa dengan kekasihnya saat ini.


Liu Mingyan yang menyadari itu, kemudian menatap tajam ke arah mereka dan bertanya dengan nada memarahi, "Apa yang kalian tertawakan ha!? Apa kalian sedang mengejekku!!?.."


"Ah!! Tidak nyonya... Mohon maafkan kami...!" Para pelayan itu meminta maaf, tetapi sebenarnya tidak merasa bersalah sama sekali.


Liu Mingyan yang menyadari jika ekspresi wajah bersalah para pelayannya itu hanyalah bohongan, lalu ia mendengus dan menunjuk satu persatu para pelayan itu, "Humph!! Aku tau permintaan maaf kalian itu tidak tulus! Lihat saja, aku akan mengadukan ini pada kekasihku!!.."


Ujarnya marah-marah lalu meninggalkan ruangan itu. Kini ia terlihat tidak peduli sama sekali dengan pekerjaannya, yang dia inginkan hanyalah segera bertemu kembali dengan kekasihnya itu. Semenjak Tang Lian menjadikan dia sebagai salah satu kekasihnya, Liu Mingyan yang sebelumnya terlihat berwibawa dan tegas, sekarang tidak lain hanyalah seorang gadis yang ingin dimanja oleh kekasihnya.


Disisi Yan Feng, saat ini matahari sudah tepat di atas kepala, dan dari pagi ia hanya duduk memancing dipinggir sungai yang lumayan besar. Yang Feng saat ini sedang memasang ekspresi wajah yang jelek, karena sudah siang dan dia juga sudah lapar dan ingin makan siang tetapi tidak satupun ikan ia dapatkan.


Ia ingin pulang dan meminta ibunya atau bibi Mei nya untuk memasakkan ayam panggang kesukaannya. Namun mengingat jika jarak yang ditempuh untuk kembali ke sekte itu lumayan lama, ia jadinya mengurungkan niatnya. Karena ia pikir ia akan mati kelaparan jika berjalan pulang.


"Haih!! Apa-apaan sih ikan disini! Perasaan kemaren aku masih bisa dapat ikan besar yang banyak disini, tapi hari ini kok tidak ada sama sekali ya!?.." Gumam Yan Feng yang akhirnya kesal sendiri.


Setelah tiga puluh menit lagi berlalu, ia juga masih tak mendapatkan seekor ikan pun. Dan itu membuatnya sangat kesal hingga berdiri dan berteriak, "Ingat ya! Ini tempat memancing yang sial! Tuan Muda ini hanya meminta seekor ikan kecil untuk makan siang! Tapi yang kudapatkan dari tadi hanyalah ranting pohon itu!.." Teriak Yan Feng yang kesal sendiri karena kelaparan seraya menunjuk kearah tumpukan ranting pohon yang ia dapatkan pada saat memancing.


"Cuih!! Aku tidak akan mau lagi mancing ditempat ini !!.." Ujarnya lagi dan meludahi tempat ia memnacing itu. Yan Feng terlihat seperti seorang gila beneran.


Setelah meludahi tempat itu, ia pun mencari tempat memancing lain. Ia mengikuti dari berlawanan dengan arus air sungai. Biasanya dia hanya memancing di satu tempat saja, dan ini adalah kali pertamanya dia mencari tempat lain untuk memancing.


Awalnya Yan Feng takut-takut untuk memancing disini karena tempat ini dikelilingi oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi, namun anehnya dibawah pohon itu tidak ada rumput sama sekali dan itu hanya tanah saja. Meskipun demikian, Yan Feng masih takut kalau ada hewan buas disini, namun apa yang membuatnya kini berani adalah, bahwa Jia Kun bilang tempat ini tidak memiliki hewan buas sama sekali. Karena tempat ini adalah tempat dimana biasanya Jia Kun berlatih seorang diri.


Awalnya Jia Kun sangat terkejut ketika Yan Feng datang padanya dan tiba-tiba memanggilnya kakek. Dua detik setelah ia terkejut, kemudian berubah menjadi sangat senang dan berteriak-teriak seraya melompat-lompat kegirangan. Fakta bahwa Yan Feng kecil yang imut itu memanggilnya kakek, ia bahkan tidak peduli itu anaknya siapa, karena selama ini ia sudah sangat kepingin cucu.


Ia yang sudah kepanasan karena teriknya matahari, langsung saja membuka bajunya dan menceburkan diri dan mandi dibawah air terjun itu. Ia bahkan sesekali berenang kesana kemari karena merasakan betapa segarnya air itu bahkan sampai-sampai ia melupakan rasa laparnya.


"Byuuurrr!!.."


"Kurasa aku sudah cukup mandi. Nanti bisa-bisa ibu sudah tidak mengenalku lagi karena semakin tampan akibat mandi terlalu lama hahaha.." Tawa Yan Feng renyah dan ingin pergi ketepi sungai.


Namun sebelum itu, isi sekali lagi ingin merasakan air terjun itu menimpa dirinya, jadi ia pun melakukannya. Tepat ketika itu, ia membuka matanya dan memandang keatas dan tidak sengaja melihat goa dibalik air terjun itu.


"Apa itu goa? Tidak menyangka di balik air terjun ini ada goa..." Gumam Yan Feng seraya terus memandang ke atas. Detik berikutnya ia tiba-tiba memiliki niat untuk memasuki goa itu.


"Coba ku panjat dan masuk ah! Siapa tau ada harta Karun disana hahaha.." Gumam Yan Feng lagi lalu mulai memanjat dengan tangan dan kaki kecilnya.


Memanjat dinding dibalik air terjun itu tidaklah susah bagi Yan Feng karena banyaknya batu-batu tumpul yang lonjong disana, dan bentuknya persis seperti Tangga. Terlebih lagi goa itu tidaklah terlalu tinggi.


Hanya butuh lima menit bagi Yan Feng untuk memanjat lalu kemudian sampai di dalam goa dengan selamat.


"Fiuh!! Lumayan letih juga..." Gumam Yan Feng seraya tidur terlentang di dekat mulut goa. Meskipun goa itu tidak terlalu tinggi, tetapi ia tetaplah seorang bocah yang mudah letih.


Setelah merasa letihnya hilang, ia pun berdiri dan berjalan pelan memasuki goa itu.


"Hu..hu..hu .. Semakin dalam semakin dingin saja goa ini!.." Yan Feng menggigil kedinginan seraya terus masuk kedalam gelapnya goa itu. Yah, wajar saja ia kedinginan karena tadi juga ia sudah cukup lama bermain di air terjun.


Sampai saat dimana ia menemukan ada cahaya dari kedalaman goa, ia pun semakin bersemangat karena mengira disanalah tempatnya harta Karun yang ia cari. Namun setelah ia sampai ditempat itu, ia malah berdiri diam seperti patung, karena apa yang dia lihat adalah Ayahnya yang sedang duduk bersila disana. Dan sumber cahaya itu berasal dari atap goa yang memliki lubang yang cukup besar diatas.


"Ternyata disini tempat ayah berlatih.." Gumamnya lagi lalu berjalan mendekat kearah ayahnya.


Ayahnya yaitu Tang Lian tidak tau jika anaknya sedang ada disana dan ia tidak menyadarinya sama sekali. Sedangkan Yan Feng, ia masih penasaran lalu memeriksa seluruh area goa itu, karena ia masih berusaha mencari harta Karun yang ia pikir memang ada. Jika saja Jia Kun mengetahui ini, maka ia pasti tertawa sampai terpingkal-pingkal karena orang yang dia anggap sebagai cucunya itu sangat lucu. Bagaimana ia tidak tertawa, sedangkan goa itu memang tidak ada harta Karun. Goa itu hanyalah tempat untuk berlatih dan bermeditasi dengan tenang dan tanpa gangguan.