PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 40"Pedang Darah Penghakim"


Pada posisi Tang Lian saat ini, dia sudah lumayan puas untuk menyiksa kedua belas orang yang tersisa. Kemudian Tang Lian berjalan kearah Zhao Yu dan berniat untuk meminjam tombaknya untuk mengakhiri hidup kedua belas orang itu.


"Zhao Yu bisakah aku meminjam tombakmu untuk mengakhiri hidup mereka?" Tang Lian bertanya sambil menunjuk kedua belas orang itu.


"Maafkan aku tuan, dari pada memakai tombakku lebih baik tuan memakai pedang tuan sendiri saja" Zhao Yu menolak karena merasa tombaknya terlalu rendah untuk digunakan oleh Tang Lian.


"Tapi aku belum memiliki senjata" Tang Lian mengatakan demikian karena dia memang benar-benar tidak memiliki senjata.


"Oh iya, maafkan aku tuan sebelumnya aku lupa menyerahkan ini..." Zhao Yu berkata sambil mengeluarkan sebuah pedang dari dalam cincin penyimpanannya.


(Cincin penyimpanan adalah sebuah cincin yang dimana memiliki ruang tertentu dan terbatas didalamnya, cincin itu biasanya digunakan untuk menyimpan sebuah benda atau mahluk yang sudah mati.)


Setelah Zhao Yu mengeluarkan pedang itu dia langsung menyerahkannya kepada Tang Lian. Pedang itu terlihat sangat indah, pedang itu juga memiliki panjang tiga meter dan berwarna merah juga seperti darah. Pedang itu juga sebelumnya adalah pedang Tang Lin ketika dia masih menjabat sebagai sang penghakim dan sekarang diwariskan lagi kepada putranya.


Pedang itu juga bukan sembarang pedang, pedang itu telah dibentuk dengan intisari dari keristal merah yang sangat langka dan ditempa sendiri oleh Tang Lin dimasa lalu, kemudian Tang Lin memberikan nama pada pedang itu adalah PEDANG DARAH PENGHAKIM.


Nama itu diberikan karena Tang Lin juga meneteskan beberapa tetes darahnya ketika dia menempa pedang itu, jadi warna pedang itu persis seperti merah darah.


Selanjutnya setelah Zhao Yu menyerahkan pedang darah penghakim kepada Tang Lian, dia langsung saja mengambil pedang itu tanpa basa-basi lagi. Setelah Tang Lian mengambil pedang itu, pedang itu seolah-olah mengenal Tang Lian sebagai tuannya dan langsung saja menyatu dengan jiwanya dan itu membuat Tang Lian bingung karena setelah menyatu dengan jiwanya pedang itu langsung menghilang.


Pedang darah penghakim telah ditempa dengan campuran darah Tang Lin, jadi tidak akan ada yang bisa menggunakannya kecuali keluarganya atau jika Tang Lin mengizinkannya, jadi karena Tang Lian adalah putranya Tang Lin maka pedang darah penghakim itu langsung saja menyatu dengan jiwanya.


Pedang jiwa itu seperti memiliki kesadaran jiwa, pada masa lalu pedang itu tiba-tiba ditinggalkan oleh Tang Lin, kemudian sekarang Tang Lian telah muncul dan pedang itu seakan-akan telah merindukan tuannya sangat lama hingga pedang itu langsung menggabungkan jiwanya dengan Tang Lian karena tidak ingin berpisah lagi.


Karena itu untuk sesaat Tang Lian terdiam dan bingung karena pedangnya menghilang namun dia merasakan sesuatu yang menyentuh jiwanya, kemudian tanpa pikir panjang lagi Tang Lian mencari didalam otaknya tentang pengetahuan seperti ini, karena Yun Zhang sebelumnya sudah memberikan pengetahuan yang luas pada Tang Lian maka tentu saja itu ada.


Setelah beberapa saat Tang Lian terdiam akhirnya dia sudah paham, pedang darah penghakim itu bisa dipanggil dengan sesuka hatinya dan akan langsung muncul.


"Pedang darah penghakim..." Tang Lian memanggil dan pedang itu langsung muncul ditangannya, melihat itu Tang Lian hanya tersenyum kemudian meletakkan pedangnya diatas pundaknya dan berjalan kearah kedua belas orang yang tersisa dan langsung saja memenggalnya.


Sebenarnya Yun Mei ingin menghentikannya tetapi Tang Lian berkata dia ingin cepat terbiasa dengan membunuh karena dia adalah sang penghakim dan karena itu Yun Mei akhirnya paham dan membiarkannya saja.


Setelah Tang Lian memenggal kedua belas orang yang tersisa dia kemudian menyimpan kembali pedang darah penghakim itu kedalam jiwanya lalu tiba-tiba Tang Lian muntah lagi karena dia melihat potongan kepala, telinga, tangan, kaki dan berbagai macam tubuh manusia berserakan dimana-mana dan arena juga telah dipenuhi dengan banjir darah.


"Huek...huek...huek..." Tang Lian muntah lagi kemudian jatuh pingsan karena terlalu lemas.


Sebelum Tang Lian terjatuh ketanah Yun Mei langsung menangkapnya dan menggendongnya kembali kekamar mereka sambil mengomel-ngomel tidak jelas.


"Hmph...sudah kubilang jangan memaksakan diri tapi masih saja keras kepala, jika kamu sedang tidak pingsan maka akan kutarik telingamu dan bla..bla..bla.." Yun Mei terus berjalan menuju kamar sambil mengomel.


Sekarang eksekusi dan balas dendam Tang Lian telah selesai orang-orang pun telah kembali kerumah mereka masing-masing, namun walaupun demikian masih ada juga yang merasa merinding ketika mengingat kekejaman Tang Lian sebelumnya dan mungkin mereka tidak akan bisa tidur untuk beberapa hari kedepan.


Setelah itu sore hari telah tiba dan Tang Lian akhirnya terbangun dan melihat Yun Mei juga tidur disampingnya sambil memeluk dan meletakkan kepalanya di dada Tang Lian. Ketika Tang Lian melihat itu dia langsung saja mencium dan membelai lembut pipi istrinya.


Ketika Tang Lian mencium lembut bibir Yun Mei, sontak dia terbangun karena merasakan sesuatu menyentuh bibirnya, namun sesaat setelah dia bangun dia pun sadar bahwa yang menciumnya adalah suaminya.


"Selamat sore istriku, apakah aku mengganggu tidurmu?" Tang Lian bertanya dengan tersenyum dan mengelus lembut kepala Yun Mei.


"Tidak suamiku..." Yun Mei menjawab dan ingin kembali melanjutkan tidurnya, namun Yun Mei tidak bisa karena merasakan sesuatu menyentuh lembah surganya.


Dan ketika Yun Mei melihat kebawah dia melihat tongkat kera sakti milik Tang Lian telah keluar dari sarangnya dan telah siap menginvasi lembah surga Yun Mei.


Melihat itu Yun Mei membelalakkan matanya tidak percaya, dia berfikir apakah suaminya itu normal? Hampir setiap hari dia menginvasi lembah surga itu bahkan jika orang-orang di alam dewa saja tidak akan sanggup jika setiap hari.


Ketika Yun Mei tenggelam didalam pikirannya tiba-tiba Tang Lian mengangkat sebelah kaki Yun Mei dan tanpa izin langsung menginvasinya. Yun Mei yang mendapatkan perlakuan seperti itu dengan spontan dia mengeluarkan teriakan yang menggoda dan keras.


"Aaaahhh....uuuhhh...Ti-Tidak..." Yun Mei terus berteriak dan membuat Tang Lian semakin bersemangat dan semakin kencang memacu kudanya.


"Aaahhh....Ap...apakah kamu normal suamiku?" Yun Mei berteriak sambil bertanya dengan suara yang kurang jelas diiringi dengan suara tempat tidur yang berderit.


"Hehehe...Normal atau tidak normal kamu menyukainya kan?" Tang Lian kembali bertanya sambil terus memacu kudanya semakin cepat.


"Ya...ya kamu benar suamiku ak...aku menyukainya...yah...terus seperti itu...!!! sangat dalam!!!" Yun Mei terus berbicara tidak jelas.


Disisi Tang Lian yang melihat itu dia merasa semakin bersemangat kemudian membalikkan istrinya, dan untuk sesaat Yun Mei bingung mengapa Tang Lian tiba-tiba berhenti, namun detik berikutnya dia merasa dirinya akan gila jika ini terus berlanjut karena sekarang Tang Lian memacu kudanya dari belakang.


"Ooohhh....gi...gila, aku akan gilaaaaa.... terlalu dalam juga....iyaaaahhh...lebih...lebih kuat lagi suami..." Yun Mei terus berkata tidak jelas karena dia seperti sedang terbang melintasi langit.


***BERSAMBUNG***


Halo para pembaca yang Budiman, terimakasih telah mampir di novel ini jangan lupa klik tombol like dan terus dukung author juga dengan kasi vote novel author terima kasih.....


tunggu ada yang bilang hadiah? Author mau dong 😁


**********SAMPAI JUMPA***************