PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 215 "Berburu Kera Api!.. "


Tang Lian berlari dengan cepat, ditengah hutan belantara ia melompat dari pohon kepohon lainnya. Tujuannya saat ini adalah, makam ibu harimaunya yaitu Ling Zhi.


Sesampainya disana, Tang Lian mengelus batu nisannya seraya berpamitan. Ibu harimaunya ini sudah mengorbankan nyawa untuk menyelamatkannya, jadi tidak mungkin ia memutuskan hubungan dengannya. Tang Lian menceritakan segalanya dimakam Ling Zhi tanpa ada yang ditutup-tutupi, namun Tang Lian tidak tahu jika arwah gentayangan Ling Zhi mendengar semua ceritanya, hal itu membuat Ling Zhi sedih. Ia sangat ingin memeluk Tang Lian, namun apa lah saya karena ia hanya hantu gentayangan, ia tidak akan pernah bisa.


Tidak lama Tang Lian disana, setelah itu ia langsung pergi meninggalkan makam Ling Zhi. Seraya berlari dan melompat kesana kemari, Tang Lian sedang berpikir bagaimana caranya ia bisa mengembalikan kekuatannya dengan cepat. Satu-satunya yang terpikirkan adalah, berburu binatang buas dan sumber daya langka.


Binatang buas memiliki inti di dalam tubuhnya yang mengandung banyak energi dan sangat membantu pertumbuhan kultivasi seseorang. Selama ini Tang Lian tidak pernah mengambil intinya karena ia sudah kuat, jadi itu tidak berguna baginya. Namun sekarang berbeda, ia sangat membutuhkan itu. Inti binatang buas juga memilki berbagai macam ukuran dan warna, itu akan membedakan jumlah energi yang terkandung didalamnya. Semakin besar inti binatang buas itu maka akan semakin bagus pula.


Namun dimana letak binatang buas yang banyak Tang Lian tidak tahu, jika di hutan merah ini itu terlalu sedikit, karena sudah banyak orang yang berburu disana.


Mau sekeras apapun Tang Lian berpikir, ia tidak akan pernah tahu, jadi dia memilih untuk mengunjungi kota terdekat dan mencari informasi disana, siapa tahu ada yang menarik. Oh ya, omong-omong Tang Lian tidak membawa sepeserpun uang, jadi dia harus berburu sesuatu yang berharga dan menjualnya. Pasalnya uang itu akan digunakan untuk menginap, makan, dan yang lebih penting adalah untuk memasuki sebuah kota, membutuh beberapa uang sebagai pajak masuk.


Seraya berlari Tang Lian mengedarkan pandangannya dan berharap menemukan sesuatu yang dapat ia jual nanti, dan tidak lama ia menemukan seekor kera api.


Kera api tampilannya hampir sama seperti singa api yang memiliki api menyala di kepalanya, hanya yang membedakan adalah tubuh kera api lebih besar dan terkesan suka seorang diri. Tidak seperti singa api yang berkelompok.


"Ketemu!.. " Tang Lian berhenti diatas dahan pohon, ia menatap kera api yang belum menyadari kehadirannya. Kera api itu sedang memakan sesuatu sambil malas-malasan.


Sebelum memulai aksinya untuk membunuh kera api ini, Tang Lian menyelidiki tingkat kultivasi nya terlebih dahulu. Pasalnya saat ini kultivasi Tang Lian baru meningkat sampai dengan jendral perunggu tingkat awal. Itupun karena keberadaan tulang kaisar semestanya, jika tidak, ia tidak akan mencapai tanah ini begitu cepat.


Setelah di selidiki, ternyata kultivasi kera api itu telah mencapai tingkat lima atau setara dengan prajurit emas tingkat puncak, satu tingkat dibawah Tang Lian. Tang Lian tersenyum smirk, betapa beruntungnya dia karena langit membantunya.


Tang Lian ingin mengeluarkan pedangnya, namun ia baru saja ingat jika ia bukan lagi Sang Penghakim. Jadi tidak mungkin pedang darah Penghakim mau menurutinya. Namun ini aneh, karena pedang darah Penghakim tidak mau keluar dari jiwanya meskipun Tang Lian sudah membuang darahnya. Seharusnya pedang itu juga ikut terbuang kan? Tapi mengapa pedang itu tidak mau keluar dari jiwanya? Dan lebih aneh lagi, pedang itu tidak merespon panggilan Tang Lian, padahal pedang itu tinggal di dalam jiwanya.


Tang Lian tidak tahu, jika pedang itu seperti memiliki jiwa dan kesadaran, jadi saat ini dia sedang ngambek dan kecewa karena Tang Lian membuang darahnya.


Tang Lian menghembuskan nafas tidak berdaya, terpaksa ia bertarung dengan tangan kosong kali ini, mengandalkan kultivasi nya yang lebih tinggi dan elemen es yang baru saja ia bangkitkan. Lagi pula ini bagus untuk mencoba sekuat apa tulang kaisar semesta dan elemen es yang ia miliki.


Tang Lian membentuk segel tangan, pisau-pisau es yang tajam muncul di belakangnya dan berputar membentuk lingkaran.


"Pisau es!.. " Gumamnya dan pisau itu melesat dan menusuk kearah kera api.


"Lumayan juga, kau tidak selemah yang aku bayangkan.. " Gumam Tang Lian tersenyum senang. Pasalnya kera api ini cocok dijadikan teman berlatih.


Kera api menatap kearah tempat dia bermalas-malasan sebelum nya, itu sudah berubah menjadi tanah es yang dingin. Kera api meraung marah seraya memukul-mukul dadanya, ia mencari siapa yang menyerangnya.


Detik selanjutnya, Tiba-tiba dari atas pohon muncul pisau es lainnya dan lebih banyak lagi daripada yang sebelumnya. Kera api itu sekali lagi melompat kebelakang untuk menghindar. Kera api itu menatap kearah asal serangan, disana ia melihat Tang Lian yang melompat dengan gaya dan berdiri beberapa meter darinya.


Melihat jika Tang Lian hanya memiliki satu tangan, membuat kera api menjadi sombong, jika ia bisa tertawa maka ia pasti sudah tertawa keras.


"Hai monyet, maaf aku mengganggumu. Tapi aku harus membunuhmu dan menjual dagingmu untuk uang.. " Sapa Tang Lian seolah-olah dia memberi hormat, tapi sebenarnya itu adalah penghinaan.


Kera api lagi-lagi meraung marah karena penghinaan ini, ia mencabut pohon di sampingnya dengan mudah lalu melemparkannya pada Tang Lian.


Tang Lian melotot tidak percaya! Seekor kera yang hampir sama besarnya dengannya, bisa dengan mudah mencabut pohon besar lalu melemparkannya begitu saja? Tenaga kera itu mengerikan juga.


Tang Lian melompat dan menginjak pohon yang dilempar menggunakan itu sebagai batu loncatan selanjutnya, "Rasakan tinjuku!" Teriak Tang Lian seraya menunjuk kebawah.


Kera api meraung dan membalas tinju itu dengan tangan kirinya. Kera itu ingin menggunakan tangan satunya lagi untuk meninju Tang Lian, namun tiba-tiba tangan kirinya berbunyi nyaring karena tulangnya retak!


Kera itu langsung menarik tangannya dan melompat mundur menjaga jarak, ia memegangi tangan kirinya yang tidak bisa lagi digunakan. Menahan rasa sakit di tangan kirinya, kera api itu menatap Tang Lian dengan tatapan membunuh.


Jika kera api hebat dengan tenaganya, maka Tang Lian tidak kalah hebat dengan kerasnya tulang kaisar semestanya!.


Tang Lian tersenyum bangga, ternyata tulang kaisar semestanya sangat keras! Oleh karena itu, rasanya tidak perlu lagi ia meningkatkan kekerasan tulangnya karena pukulan barusan pun hanya pukulan biasa.


"Ayolah kera jelek, aku punya satu tangan dan kau juga satu, bukankah ini adil?.. " Ejek Tang Lian.


Kera api sangat marah kali ini, seolah ia paham dengan ucapan Tang Lian, ia berlari menuju Tang Lian seraya mengumpulkan energi Qi yang cukup besar dan berwarna oranye di tangan kanannya, Tang Lian juga demikian, ia berlari seraya mengumpulkan energi Qi di lengan kirinya.


Beberapa detik setelah itu, keduanya berteriak seraya beradu pukulan. Namun apa yang mengejutkan adalah tiba-tiba bersambung...