
Sementara itu di alam atas tepatnya di istana kekaisaran Tang. Tang Lin sedang duduk di ruangan pribadinya dan menandatangani sejumlah berkas yang menumpuk di mejanya, kemudian Tang Yue mengetuk pintu.
"Tok...Tok...Tok..."
"Ayah, ada orang yang ingin bertemu denganmu.." Tang Yue berkata setelah dia mengetuk pintu.
"Yue'er, katakan pada orang itu jika aku sedang sibuk.." Tang Lin berkata seakan tidak peduli dan terus menandatangani berkasnya.
"Tapi ayah, dia mengatakan ini sangat penting.." Tang Yue berkata lagi.
Ketika Tang Lin mendengar perkataan putrinya dia langsung tenggelam dalam fikirannya 'Sangat penting? Mungkinkah ini berkaitan dengan raja iblis yang menyerang empat belas tahun lalu?'
"Baiklah, suruh dia masuk.."
"Baik ayah..." Tang Yue berkata dan pergi dari sana dan memanggil orang yang dimaksudkan.
Sekitar lima menit Tang Lin menunggu didalam ruangannya kemudian Tang Yue datang bersama orang yang dimaksudkan.
"Ayah, aku telah membawa orangnya.." Tang Yue berkata seraya membuka pintu.
Disisi orang yang dibawa oleh Tang Yue dia begitu terkejut ketika gadis cantik itu memanggil Tang Lin dengan sebutan ayah.
'Aku tidak menyangka aku telah memiliki keponakan perempuan..' Orang itu membatin dan menatap Tang Yue dengan tatapan sedih. Orang itu ingin membelai kepala Tang Yue dan memanggilnya keponakanku, namun sebelum tangannya sampai dikepala Tang Yue, Tang Lin menahannya.
"Ternyata kau..." Tang Lin berkata dengan dingin dan membuat orang itu menghentikan tindakannya yang ingin mengusap rambut Tang Yue.
"Ya, ini aku ad-." Orang itu ingin mengatakan adik namun langsung dipotong oleh Tang Lin.
."Yue'er, suruh pelayan menyiapkan teh.."
"Baik ayah.." Tang Yue menjawab namun dibatinnya dia bertanya-tanya 'Mengapa ayah tiba-tiba bersikap dingin? Dimata ayah aku bisa melihat kesedihan dan rasa marah yang besar, apakah karena orang itu? Jika benar siapa dia?'. Tang Yue bertanya-tanya dalam batinnya sambil berjalan keluar dari ruangan ayahnya.
Sementara itu disisi Tang Lin, dia menatap pria paruh baya yang ada dihadapannya dengan tatapan tajam dan seperti ingin menerkamnya kapan saja.
"Apa tujuanmu kemari San Li?." Tang Lin bertanya dengan nada dingin.
"Apa aku tidak bisa mengunjungi adikku sendiri?." Pria paruh baya yang namanya San Li itu menjawab.
"Adik? Setelah apa yang kau lakukan padaku dulu, masih berani memanggilku adik?." Tang Lin berkata semakin dingin.
"Adikku San Lin, aku benar-benar menyesal karena kejadian itu, namun aku tidak akan membahas hal itu sekarang.." San Li berkata dan menyebut nama Tang Lin dengan nama San Lin.
"Langsung kepada intinya saja San Li, tidak usah ber basa-basi denganku, dan lagi margaku Tang, bukan lagi San.." Tang Lin berkata seakan amarahnya hampir meledak, namun Tang Lin masih berusaha menahannya.
San Li yang melihat Tang Lin sepertinya sangat membencinya kemudian hanya bisa menghela nafas berat dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu kamu marah kepadaku dan ayah, tetapi ayah sedang sakit parah dan tidak bisa disembuhkan hingga sekarang. Ayah berpesan padaku agar menyuruhmu pulang, bahkan jika hanya sedetik saja ayah ingin melihat wajahmu adik..." San Li berkata dan berekspresi sangat sedih.
Namun walaupun begitu, Tang Lin tidak memperdulikannya dan justru itu membuatnya hampir lepas kendali akan kemarahannya yang besar.
"Enyahlah..." Tang Lin berkata dan giginya berderak menahan amarah sambil memejamkan matanya.
"Apa?." San Li berkata seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Aku bilang enyahlah!". Tang Lin berkata lagi dan suaranya sedikit meninggi.
"San Lin! Bagaimana kau begitu kejam dan tega terhadap ayah kandungmu sendiri!!!." San Li berkata dengan kesal karena perkataan Tang Lin sebelumnya.
"Seburuk apapun ayah, dia tetaplah ayahmu San Lin!!!." San Li berkata dan semakin kesal .
"AKU KATAKAN ENYAHLAH DARI HADAPANKU BAJINGAN!!!!!." Akhirnya Tang Lin lepas kendali karena amarahnya.
"BAM..."
"Aaahhkk..."
Sambil berteriak marah Tang Lin memukul wajah San Li hingga menghancurkan pintu ruangan itu. Namun, meskipun Tang Lin sedang marah dia juga masih menahan kekuatannya agar tidak membunuh San Li.
Pada saat yang sama juga semua orang di istana kekaisaran Tang itu mendengar teriakan marah dari Tang Lin dan seketika tidak ada yang berani bergerak dari tempatnya, dan bahkan untuk bernafas saja semua orang hanya bisa bernafas pelan. Terkecuali dengan Ling Yuan dan ketiga putrinya, ketika mereka mendengar teriakan marah Tang Lin, mereka langsung bergegas ketempat Tang Lin.
"Suamiku, apa yang terjadi?." Ling Yuan langsung bertanya ketika dia sampai diasana dan disusul oleh ketiga putri kembarnya.
"Ayah, mengapa ayah marah?." Tang Yua bertanya dan mewakili kedua kakaknya yang ingin bertanya juga.
Walaupun Tang Lin mendengar pertanyaan istri dan putrinya, tetapi dia seakan tidak peduli dan terus berjalan kearah San Li yang tertimpa reruntuhan pintu yang terbuat dari perak.
"Ka... Kau... Uhuk... Uhuk..." San Li terbatuk-batuk sambil berusaha bangkit.
Disisi Ling Yuan, ketika dia melihat San Li menjadi paham apa yang membuat Tang Lin marah. Sedangkan disisi Tang Yue dia sudah merasa dugaannya benar, ternyata ayahnya memiliki kesedihan dan kemarahan yang besar kepada pria paruh baya itu. Berbeda dengan kedua putri Tang Lin yang lain, mereka berdua berpikir 'Siapa bajingan ini? Apa dia tidak mengenal ayahku dan membuatnya marah?'
"San Li dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan pernah kembali ketempat itu, TIDAK AKAN PERNAH!!.." Tang Lin berkata dan meraih kerah baju San Li kemudian melepaskannya lagi.
"Antar dia keluar..." Tang Lin berkata kepada putrinya dan meninggalkan tempat itu.
"Baik ayah.." Ketiga putri kembar Tang Lin menjawab serempak.
Setelah itu Tang Yue meraih kaki San Li dan menyeretnya keluar dan diikuti oleh dua saudarinya dari belakang. Disisi San Li dia ingin berbicara namun dia tidak sanggup karena selain tangannya tidak ada yang bisa dia gerakkan.
"Dengar, aku tidak tahu siapa kau dan begitu berani membuat ayah kami marah. Namun kau harusnya bersyukur karena ayah tidak membunuhmu..." Tang Yue berkata dengan dingin.
"Itu benar, dari sifat ayah yang sebenarnya dia tidak akan melepaskanmu..." Tang Yui menyahut.
"Sudahlah kakak, ayah menyuruh kita untuk mengantarnya keluar, bukan menceramahinya..." Tang Yua berkata dan mengeluarkan sebuah pil dari cincinnya.
"Ini minumlah..." Tang Yua menyodorkan pil itu kepada San Li yang terbaring menyedihkan didepan gerbang istana.
Disisi San Li dia berpikir keponakannya yang satu ini ternyata berbeda dengan dua keponakannya yang kejam. Karena pil yang ada di tangan Tang Yua adalah pil penyembuh tingkat lima.
"Terima kasih..." San Li berkata dan membuka mulutnya, berharap Tang Yua akan memasukkan pil itu kedalam mulutnya namun...
"Hey!! Aku tidak berniat menyuapkanmu pil ini dasar laki-laki mesum!!." Tang Yua berkata kemudian meraih kerah baju San Li lalu melemparkannya bersama dengan pil itu.
"Untuk memakannya kau harus berusaha!!!." Tang Yua berkata seraya melemparkan San Li yang menyedihkan.
"Tidaaaaaakkkk...." San Li berteriak sambil terbang menjauh dari istana sejauh satu kilo meter.
"Hehehe.... Adik, aku kira kamu benar-benar ingin menyuapinya tadi.." Tang Yui berkata sambil cekikikan.
"Cuih... Sampai langit runtuh pun aku tak akan sudi!!!." Tang Yua meludah dan berkata.
***BERSAMBUNG***