
Orang-orang yang melempari Tang Lin sebelumnya menelan ludah kasar. Seorang iblis wanita ular baru saja di congkel matanya oleh Tang Lin. Selanjutnya bisa jadi adalah giliran orang-orang itu.
Takut? Jangan ditanya, mereka tentu saja sangat ketakutan. Tapi apa yang bisa mereka lakukan? Tidak ada, selain menunggu kematian mereka.
Iblis wanita ular itu kini kembali ke bentuk aslinya, kenyataan ini membuat orang-orang yang melempari dan mencemoh Tang Lin sangat menyesal. Rasa takut akan pembalasan Tang Lin membuat mereka berkeringat dingin.
Tang Lin hanya akan bertanya tiga kali, jika ia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, maka ia akan terus menyiksa target nya sampai ia berbicara.
Seperti saat ini, Tang Lin memotong telinga iblis itu yang panjang dan runcing. Namun iblis itu masih tidak mau bicara juga. Kini darah ungu iblis itu membasahi wajah seluruh wajahnya sendiri. Darah iblis itu terlihat sangat kental dan menjijikkan.
Tang Lin yang masih belum mendapatkan apa yang ia inginkan, kini menggores wajah jelek iblis itu. Darah busuk iblis itu semakin berceceran, ia terus berteriak kesakitan sangat keras. Namun siapa yang akan peduli padanya? Siapa suruh dia memprovokasi Tang Lin.
Tang Lin bosan dengan wajah iblis itu yang sudah tidak berbentuk, kini ia meraih lengan iblis itu dan memotong satu persatu jari-jarinya. Hingga seluruh jari-jarinya terpotong iblis itu terus menjerit dan menjerit, namun ia masih tidak mau membuka mulutnya.
Pemandangan yang dilihat semua orang adalah pemandangan yang sangat kejam dan sadis! Ini mengerikan! Tidak ada ampun bagi para iblis, Tang Lin terus saja menyiksanya.
Rakyat Kekaisaran Yu semakin ketakutan melihat itu, cepat atau lambat giliran mereka akan segera tiba.
Sementara para prajurit Tang Lin, mereka menatap itu dengan biasa. Mereka sudah tidak asing dengan pemandangan seperti ini.
Setelah tiga puluh menit berlalu, iblis itu juga masih tidak mau bicara dan akhirnya berhasil memanggil seluruh sisi sadis Tang Lin keluar. Padahal darah iblis itu sudah mengalir bagaikan sungai, ia bisa mati kapan saja karena kehabisan darah, tapi Tang Lin tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Berikan padaku cairan penyiksaan!.. " Perintah Tang Lin pada prajuritnya dengan kesal.
Salah satu prajuritnya langsung melesat kearahnya dengan sangat cepat, rasanya hanya sekejap mata ia telah sampai dihadapan Tang Lin.
Tang Lin mengambil cairan penyiksaan dari tangan prajuritnya, kemudian ia menatap iblis wanita ular itu sangat tajam, "Mari kita lihat, apakah kau masih bisa diam setelah ini!"
Cairan penyiksaan, itu adalah sebuah cairan yang lumayan langka. Biasanya cairan itu akan digunakan untuk menginterogasi tahanan. Efek yang akan diberikan tidaklah main-main, jika cairan itu di tetes kan ke dalam luka maka akan meningkatkan rasa sakitnya hingga seratus kali lipat. Itu adalah efek dari cairan penyiksaan biasa, lain lagi dengan yang dimiliki Tang Lin. Efeknya jauh diatas yang biasa.
Menatap botol merah di tangan Tang Lin, iblis itu kini gemetaran. Niatnya yang tidak akan pernah mengatakan dimana rekan-rekannya bersembunyi langsung runtuh seketika.
"Aku penasaran, bagaimana teriakan indahmu.. " Tang Lin menyeringai menyeramkan.
Tang Lin menyiramkan cairan penyiksaan itu ke mata iblis yang sudah ia congkel.
"AAAARRRRGGGGHHH!!.. " jerit nya sangat keras. Rasa sakit ini ribuan kali lipat dari rasa sakit yang ia rasakan sebelumnya.
"Hahahaha.. Ternyata teriakanmu tidak buruk juga hahaha.. !" Tawa menyeramkan Tang Lin. Ia seolah-olah menikmati apa yang ia lakukan saat ini.
Tidak berhenti disana, Tang Lin kembali menyiram iblis itu di tubuhnya yang sudah dicabik-cabik oleh Tang Lin.
"AAAARRRRGGGHHH!!.. Hentikan! Aku mohon hentikan!.. " Jerit iblis itu tidak tahan lagi.
"Apa kau memerintah ku? Betapa beraninya! " Bentak Tang Lin dan kembali menyiram iblis itu dengan cairan penyiksaan.
"AAAARRRGGGHHH!! Akan aku katakan! Tolong hentikan!.. " Ujar iblis itu menjerit sangat menyedihkan. Dia akhirnya menyerah karena sudah tidak tahan lagi. Dia ingin secepatnya mati, namun Tang Lin tidak akan membiarkan nya.
Meskipun iblis itu berkata sudah menyerah dan akan mengungkap dimana rekan-rekannya bersembunyi, namun Tang Lin masih tidak berhenti. Tang Lin mengoleskan cairan penyiksaan ke pisau pendeknya.
Pisau itu ia arahkan mata iblis yang satunya lagi. Menatap itu, iblis itu meronta-ronta ketakutan! Jika bisa, ia sangat ingin lari dan bersumpah tidak akan mau lagi memprovokasi Tang Lin, atau setidaknya bunuhlah dirinya sekarang.
Ketika pisau itu hampir sampai dimatanya, barulah iblis itu berbicara yang sebenarnya, "Di ibu kota Kekaisaran!" Teriaknya sangat keras dan memejamkan matanya.
Tang Lin berhenti dan membuat iblis itu membuka matanya.
"Katakan lagi.. " Ujar Tang Lin dingin.
"Ibu kota Kekaisaran Yu, kota angin timur. Lima ribu pasukan iblis kami yang tersisa bersembunyi disana. Bahkan istana Kekaisaran Yu ini sudah dikendalikan oleh kami.. " Jawabnya jujur, ia tak mau lagi merasakan penyiksaan Tang Lin. Itu sangat sadis! Lebih sadis dari pada iblis itu sendiri.
"Kalian mendengar itu!? Cepat ke kota angin timur dan sebagian ikut aku ke istana! Bantai habis para iblis ini! Berikan mereka kematian dengan putus asa!.. " Perintah Tang Lin pada prajuritnya.
""Perintah dilaksanakan Yang Mulia!!.. "" Jawab seluruh prajuritnya serempak. Sebagian dari mereka langsung pergi dengan cepat ketempat yang sudah disebutkan. Sementara sebagian lagi menunggu Tang Lin Dan akan mengikutinya ke istana Kekaisaran Yu.
"Aku sudah mengatakan yang kau ingin dengar, sekarang tolong lepaskan aku atau bunuh aku dengan cepat.. " Ujar iblis itu lelah dan lemas. Nyawanya sudah diujung tanduk namun ia tidak mati, ini adalah penyiksaan yang sebenarnya.
"Melepaskanmu? Apa aku menjanjikan itu?.. " Ucap sinis Tang Lin.
Iblis itu seketika mendongak dan menatap Tang Lin dengan penuh ketakutan. "K-kau... Aaaarrrrggghhh!!.. "
Sebelum iblis itu sempat berbicara, pisau Tang Lin sudah sampai dimatanya dan mencongkelnya keluar. Iblis itu terus berteriak dan mengoceh tidak jelas. Tang Lin geram dengan ocehannya yang tidak jelas, kemudian membuka mulut iblis itu dan menarik lidahnya secara pakasa keluar.
Kini iblis itu tidak bisa melihat, mendengar dan berbicara. Ia hanya bisa berteriak dan menyesali perbuatannya. Sungguh ia sangat menyesal mengikuti perintah pemimpin para iblis. Jika ia memiliki kesempatan kedua untuk hidup, ia bersumpah tidak akan pernah menyinggung Tang Lin lagi.
Iblis? Apa itu iblis? Di hadapan Tang Lin mereka bukanlah apa-apa! Mereka hanya sekelompok nyamuk pengganggu yang mati jika ditepuk. Dewa? Apa itu dewa? Dihadapan Tang Lin, bahkan pemimpin para dewa saja bersujud dibawah kakinya dan memanggilnya tuan!