PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 231 "Minta Cium!"


Saking dalamnya jurang itu, butuh waktu satu jam untuk sampai kedasarnya. Saat ini, Tang Lian berjalan paling depan dengan wajah yang masam. Pasalnya ia masih kesal dengan Shie Long yang tiba-tiba menariknya begitu saja kedasar jurang.


Sementara Shie Long sebagai pelaku senyum-senyum sendiri karena berhasil mengerjai Tang Lian. Sedangkan Sun Hai mengekor dari belakang. Ia merasa bulu kuduknya berdiri, ia merinding ketakutan karena dasar jurang itu sangat gelap dan menyeramkan. Tidak sedikitpun dasar jurang itu ditembus oleh cahaya.


Tang Lian juga sebenarnya tidak tahu harus berjalan kemana. Jika bertanya pada Shie Long, Tang Lian merasa enggan karena masih kesal. Hingga akhirnya Tang Lian terpaksa berhenti karena terdapat dua jalan berbeda didepannya. Tang Lian pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Shie Long menatap tuannya itu seraya terkekeh, ia merasa lucu dan gemas dengan wajah tampan Tang Lian ketika ngambek seperti saat ini. Pada akhirnya, Shie Long pun memutuskan untuk berbicara lebih dulu.


"Pilih jalan yang sebelah kanan tuan, jalan sebelah kiri adalah jalan buntu.."


"Aku tahu itu, tidak usah kau beritahu!" Jawab Tang Lian ketus. Ia tidak mau kelihatan kebingungan saat ini.


Shie Long pun semakin terkekeh dan gemas sendiri dengan wajah Tang Lian yang menurutnya semakin menggemaskan.


"Ayolah tuan, kamu masih marah padaku?" Ujar Shie Long memelas kemudian, rasanya tidak enak juga jika terus menerus didiamkan oleh orang yang dicinta.


"Apanya? Siapa yang marah? Aku hanya sedang malas bicara" Jawab Tang Lian masih ketus. Ia mengelak tidak mengakui.


"Baiklah, baiklah... Aku minta maaf, aku hanya bercanda saja sebelumnya" Shie Long merengek meminta maaf didepan Tang Lian seraya berjalan mundur.


Tang Lian awalnya enggan untuk memaafkan, namun wajah Shie Long yang sedang memelas itu meruntuhkan semua egonya.


"Huffft... Baiklah, aku memaafkanmu. Tapi lain kali jangan diulangi lagi!" Ujar Tang Lian memaafkan pada akhirnya dan membuat Shie Long berjingkrak senang.


"Yeeey! Cium!" Pinta Shie Long tiba-tiba dan membuat Tang Lian melotot terkejut.


Sejak kapan Shie Long memiliki keberanian seperti ini? Pikir Tang Lian.


Namun Tang Lian juga tidak munafik, diminta ciuman oleh gadis secantik Shie Long siapa yang tidak mau?


Tang Lian pun menarik Shie Long kepelukannya dan...


"Cup!"


Ia pun mengecup kening Shie Long. Shie Long pun tersenyum bahagia dan melompat-lompat seraya mulai memimpin jalan didepan.


Tang Lian pun menggeleng seraya tersenyum. Kemudian ia pun mengikuti dari belakang. Sedangkan Sun Hai hanya menjadi nyamuk saja disana.


......................


Ditempat lain tepatnya diistana kekaisaran Long. Yan Feng atau sekarang yang disebut Tang Feng, sedang berlatih dengan Zhao Yu sebagai gurunya.


Keringat membasahi seluruh tubuh Tang Feng. Rasa lelah melanda seluruh tubuhnya, ingin sekali rasanya ia beristirahat dan meminum sesuatu yang dingin. Namun tidak ada ampun dari Zhao Yu sebagai pelatih. Tidak sedetikpun ia mengizinkan Tang Feng untuk beristirahat.


"P-paman, izinkanlah aku untuk beristirahat!" Pinta Tang Feng dengan tubuh gemetar. Pasalnya saat ini ia sedang memundak batu seberat lima puluh kilo diatas kepalanya dan lutut yang ditekuk setengah.


"Lima belas menit lagi adalah jam makan siang, bertahanlah!" Ujar Zhao Yu tidak sedikitpun berbelas kasihan.


Mau tidak mau, Tang Feng pun terpaksa menurut.


Lima menit kemudian tersisa, selama sepuluh menit berlalu sebelumnya, Tang Feng menjalani itu seperti sepuluh tahun. Namun tidak sedikitpun ia mengeluh, karena ia berjanji ingin menjadi seperti ayahnya. Ia ingin menjadi sekuat Tang Lian.


Ketika satu menit tersisa, Tang Feng sudah terengah-engah hampir pingsan.


"Bruuk!"


Tang Feng pun terjatuh pingsan. Beruntung Wu Min tiba tepat waktu dan dengan cepat ia menangkap batu besar yang hampir menimpa Tang Feng.


"Apa kau tidak terlalu keras padanya?" Ujar Wu Min bertanya seraya melemparkan batu itu menjauh dan menggendong Tang Feng yang telah pingsan.


"Aku rasa tidak, karena jika tidak demikian ia tidak akan bisa menjadi seperti ayahnya." Jawab Zhao Yu penuh keyakinan.


"Terserahlah Yu, aku harap ayahnya tidak akan marah ketika mengetahui ini." Ujar Wu Min pasrah.


"Oh ya, kau sangat jarang datang kemari jika tidak ada kepentingan, kali ini ada apa kau kemari?" Tanya Zhao Yu mengalihkan pembicaraan.


"Ah! Aku baru ingat, didepan gerbang istana ada dua orang yang mengaku sebagai suruhan tuan. Kau lebih mengenal tuan dari pada aku, jadi aku ingin kau mengkonfirmasinya."


"Baiklah, kau antarkan Feng kepada ibunya. Aku akan kegerbang untuk memeriksanya."


Dua orang itu kemudian berpisah ditempat.


Sedangkan didepan gerbang istana, dua orang pemuda sedang adu mulut dengan penjaga gerbang.


"Tolonglah! Izinkan kami berdua masuk, kami benar-benar orang suruhan kakaknya tuan muda Zhao Yu!" Ujar salah satu pemuda itu terus memohon, kemudian pemuda satunya lagi pun menimpali...


"Benar sekalin tuan penjaga! Kami bahkan disuruh untuk bertemu dengan Wu Min yang adalah bawahannya!" Ujarnya untuk semakin meyakinkan.


"Tolong hargai juga kami sebagai penjaga tuan! Kami hanya menjalankan perintah disini, istana kekaisaran tidak sembarangan orang boleh masuk! Kami bahkan memiliki wewenang untuk mengusir kedua tuan jika terus memaksa!" Ujar penjaga itu kesal karena kedua pemuda itu sangat keras kepala.


"Tapi tuan penjaga..."


"Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Zhao Yu langsung begitu ia tiba dan melihat keributan.


"Ah! Tuan muda Zhao Yu, kedua pemuda ini mengaku sebagai orang suruhan tuan muda Lian dan terus memaksa masuk, tapi mereka tidak punya bukti yang kuat!" Ujar penjaga itu tiba-tiba melembut.


Zhao Yu pun mengalihkan pandangannya pada kedua pemuda itu, dan ternyata kedua pemuda itu telah kehilangan tangan kanan.


"Kalian orang suruhan kakakku!?" Tanya Zhao Yu menyelidik.


"Anda pasti Tuan muda Zhao Yu kan? Benar sekali, kakak tuan muda menyuruh kami kemari dan mencari anda juga Wu Min.." Jawab pemuda itu dengan mata berbinar senang.


"Ada perihal apa kakakku menyuruh kalian kemari?" Tanya Zhao Yu penuh selidik, ia penasaran juga mengapa kedua tangan pemuda ini buntung sama seperti kakaknya. Hal ini pasti ada hubungannya dengan kakaknya yang menyuruhnya kemari.


"Anu... Tuan muda, bisakah kita berbicara didalam? Ini adalah masalah pribadi..." Ujar pemuda itu lagi seraya menggaruk kepalnya yang tidak gatal.


Zhao Yu pun menatap kedua pemuda itu tanpa menjawab dan membuat kedua pemuda itu berkeringat dingin takut akan Zhao Yu yang tidak percaya.


"Baiklah, ikuti aku!" Ujar Zhao Yu setuju pada akhirnya karena ia melihat kejujuran dimata kedua pemuda itu.


"Tuan muda Zhao Yu tapi ini...." Penjaga gerbang khawatir akan sesuatu, namun Zhao Yu mengangkat tangannya.


"Aku yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu."


Penjaga gerbang itu pun akhirnya membiarkan kedua pemuda bertangan buntung itu masuk dengan Zhao Yu sebagai penjamin.