
"Lawan!... Lawan!... Lawan!..." Teriak para murid serentak menyemangati Yan Feng.
Karena teriakan para murid itu sangat keras sehingga terdengar hampir keseluruh wilayah sekte elang besi.
Jia Kun yang sedang berkultivasi diruangannya tiba-tiba membuka matanya karena kebisingan itu.
"Kenapa para murid sangat ribut?.." Gumamnya bingung lalu memutuskan pergi kearah kebisingan itu.
Yun Mei serta empat wanita lainnya juga mendengar itu. Mereka pikir mungkin ada orang yang membuat keributan disekte itu, lalu mereka juga pergi kearah suara itu.
Dalam sekejap tempat Yan Feng biasanya berlatih kini dipenuhi oleh orang-orang karena penasaran apa yang sedang terjadi. Murid yang baru saja tiba bertanya pada murid lainnya dan akhirnya karena penjelasan murid yang ia tanya, kemudian ia juga berteriak menyemangati.
"Para tetua sekalian, apa yang sebenarnya terjadi disini? Mengapa sangat ribut?.." Tanya Jia Kun pada lima tetuanya yang baru saja tiba.
"Ah... Pemimpin sekte, anda juga datang..." Ucap salah satu tetua dan memberikan hormat lalu di ikuti empat tetua lainnya.
"Keributan ini karena Yan Feng akan bertarung dengan ayahnya.." Jawab tetua lainnya setelah memberikan hormat.
"Yan Feng bertarung dengan ayahnya? Hehehe... sepertinya ini akan menarik!.." Ucap Jia Kun yang juga kemudian ikut menonton.
Sementara Jia Kun dan lima tetuanya menonton dari atas bangunan yang paling tinggi, Yun Mei dan empat wanita lainnya juga telah tiba diatas salah satu bangunan juga.
"Saudari Fei, lihat itu! Sepertinya putramu akan bertarung dengan calon ayahnya!.." Ucap Jia Li seraya menunjuk kebawah.
"Apa yang kakak Lian pikirkan? Bisa-bisanya dia menindas calon anaknya sendiri! Humph!! Kupikir aku akan menghukumnya nanti!.." Sambung Long Xia Shi yang menjadi kesal karena ia kira Tang Lian menindas Yan Feng.
"Sudahlah, hentikan omong kosong kalian itu. Suami tidak akan menindasnya, aku pikir ia hanya ingin melihat kemampuan Yan Feng.." Ucap Yun Mei lalu menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Tang Lian dan Yan Feng, kini berdiri hadap-hadapan. Tempat mereka sekarang sudah sangat ramai orang dan membuatnya terlihat seperti sebuah arena pertandingan.
Sementara teriakan orang-orang itu terus menyemangati Yan Feng tanpa henti, ia lalu membatin, 'Mengapa mereka terlihat lebih bersemangat dari pada aku? Cih! Jika begini maka tidak ada cara lagi bagiku untuk mundur atau aku akan ditertawakan..'
"Yan Feng, jangan berpikir terlalu lama karena banyak orang yang sedang menonton. Ataukah kau terlalu takut?.." Ucap Tang Lian memprovokasi.
"Takut? Apakah itu makanan? Ataukah minuman? Mengapa aku baru saja mendengarnya..." Ucap Yan Feng lalu berlari dengan cepat kearah Tang Lian seraya mengambil kuda-kuda untuk menusuknya.
Mendengar itu Tang Lian hanya tersenyum saj.
"Bagus sekali... Aku harap yang kau katakan barusan bukanlah omong kosong!.." Ujar Tang Lian semakin memprovokasi dan menunggu Yan Feng yang semakin mendekat kearahnya.
Setelah merasa jaraknya cukup dekat, Yan Feng lalu menusukkan pedang kayunya kedepan.
Tang Lian melengkungkan sudut bibirnya lalu menggeser tubuhnya sedikit kekiri dan menghindari serangan Yan Feng.
Yan Feng yang merasa ia menusuk udara kosong, lalu mengayunkan lagi pedang kayunya kekiri.
"Gerakanmu masih terlalu kaku..." Ucap Tang Lian santai dan menendang pinggang Yan Feng sebelum pedangnya menyentuh pinggang Tang Lian.
Tendangan Tang Lian itu membuat Yan Feng terhempas tiga meter kesamping, namun meskipun demikian Yan Feng tidak terjatuh sama sekali dan masih berdiri dengan kokoh.
Mendengar pujian itu membuat Yan Feng tersenyum senang dan semakin bersemangat, ia pikir ia pasti bisa mengalahkan Tang Lian atau setidaknya membuat goresan kecil ditubuhnya.
"Ayah, pujiannya nanti saja!!.." Ujar Yan Feng yang semakin bersemangat lalu kembali menyerang Tang Lian.
"Hehehe... Anak ini sungguh bersemangat..." Batin Tang Lian senang.
"Hiyaaah!!.." Teriak Yan Feng penuh energi dan terus mengayunkan pedangnya, sedangkan Tang Lian hanya terus menghindar.
Pada awalnya Tang Lian cukup puas dengan perkembangan Yan Feng, namun setelah lima menit ia memperhatikan, Tang Lian lalu menggelengkan kepalanya.
"Menyerang dengan cara membabi buta seperti ini hanya akan membuatmu dipermainkan oleh lawanmu..." Ucap Tang Lian seraya terus menghindari serangan Yan Feng.
"Ayah! Kau juga jangan hanya terus menghindar, sesekali jangan ragu untuk menyerang ku!.." Ujar Yan Feng yang tidak terima dengan kata-kata Tang Lian barusan.
Tang Lian melompat kebelakang dan menjaga jarak hingga lima meter lalu ia menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, sesuai permintaanmu..." Gumam Tang Lian lalu tiba-tiba menghilang dari tempatnya.
"A-apa!? Sangat cepat!!.." Ucap Yan Feng spontan karena ia melihat Tang Lian bergerak kearahnya dengan sangat cepat.
"Pertarungan, bukan hanya tentang menggunakan otot dan kekuatanmu..." Ucap Tang Lian lalu memukul perut Yan Feng dengan telapak tangannya.
Yan Feng yang tidak memiliki waktu untuk menghindar ataupun menangkis, lalu terhempas lima meter kebelakang. Namun karena kuda-kudanya yang sudah sempurna, ia juga masih berdiri dengan kokoh.
Tang Lian tidak memberikan waktu untuk Yan Feng pulih, lalu ia bergerak lagi dan kembali menyerang Yan Feng.
"Pertarungan, juga harus menggunakan otakmu..." Ucap Tang Lian dengan santai lalu meninju dada Yan Feng.
Yan Feng dengan reflek menggunakan pedang kayunya dan menerima pukulan Tang Lian. Pedang kayu itu lalu patah dan tinju Tang Lian mendarat didadanya.
"Baam!!.."
"Aahhkk!!.."
Yan Feng sekali lagi terhempas kebelakang. Melihat itu, Tang Lian tau jika Yan Feng tidak akan terjatuh karena kuda-kudanya yang kokoh. Kemudian Tang Lian menghentakkan kakinya ketanah dan membuat ujung patahan pedang kayu Yan Feng terangkat lalu ia menendangnya kearah Yan Feng berada.
Yan Feng yang baru saja terkena serangan didadanya, tidak memiliki waktu untuk menghindar, ia lalu menyilangkan kedua tangannya seraya memejamkan matanya dan menunggu patahan pedang kayu itu sampai padanya. Namun segera ia membuka matanya karena patahan pedang kayu itu justru menancap ditanah tepat dibawah Yan Feng.
Yan Feng pun langsung menghela nafas lega, tetapi detik selanjutnya ia merasakan Tang Lian menendang punggungnya dan akhirnya ia terjatuh dan telungkup ditanah.
"Didalam pertarungan yang sesungguhnya, kau akan berada diantara hidup dan mati, karena setiap pertarungan itu mempertaruhkan nyawa. Apa kau kira musuhmu akan memberikan waktu untukmu?.." Ujar Tang Lian seraya meletakkan tangannya di pinggang belakangnya.
"Benar! Jika ini adalah pertarungan sungguhan maka aku sudah berkali-kali mati. Didalam pertarungan yang sebenarnya, musuhku tidak akan berbelas kasih. Sial!! Aku masih sangat lemah!!.." Batin Yan Feng seraya perlahan berdiri kembali.
Yan Feng lalu berbalik dan menatap Tang Lian dengan tatapan serius. Lalu ia bertanya, "Lalu apa yang harus aku lakukan ayah!?.."
Tang Lian tersenyum mendengar itu. Bagaimana ia tidak tersenyum senang, sedangkan ia melihat tatapan tajam, semangat yang membara, dan keinginan untuk menjadi yang terkuat Dimata anak yang masih berusia tujuh tahun itu.