
Selepas kepergian Wang Long, tiba-tiba sebuah portal terbuka, seekor harimau yang tidak lain adalah Lao Hu keluar dari dalamnya.
"Aura iblis yang sangat menjijikkan itu mengapa ada disini?..." Gumam Lao Hu seraya memandang seluruh area pertempuran.
Ia berjalan dan tidak sengaja menginjak Mao Gu, rupa Mao Gu sudah tidak dikenali lagi. Kaki dan tangannya telah habis terbakar menjadi abu, dan yang tertinggal hanyalah badannya yang hitam menggosong. Mao Gu berada dalam ambang kematian atau lebih tepatnya sekarat!.
"Hm?.. Orang ini sekarat, aku sedikit kasihan padanya..." Gumam Lao Hu seolah-olah ia benar-benar kasihan, tapi nyatanya ia sedang menghinanya.
"K-kau a-adalah...." Mao Gu berusaha berbicara pada saat ia sekarat, ia sepertinya mengenal Lao Hu. Namun sayangnya Lao Hu tidak mengenalnya karena rupanya yang sudah gosong.
"Hm? Apa kau mengatakan sesuatu? Maaf aku tidak mendengarnya..." Ucap Lao Hu tidak peduli kemudian mengeluarkan cakarnya dari kaki kirinya lalu menyerang tepat di leher Mao Gu dan membuatnya mati seketika.
Lao Hu kemudian mencakar-cakarkan kakinya yang berdarah ketanah untuk membersihkan darah yang menjijikkan itu.
"Bahkan darah iblis juga menjijikkan haiss!!.." Gumam Lao Hu yang merasa sangat jijik dengan darah iblis yang menempel pada cakar kakinya.
Setelah merasa jika kukunya yang tajam telah bersih dari mahluk menjijikkan itu, kemudian Lao Hu memandang fokus ke seluruh area pertempuran sebelumnya. Dalam beberapa detik ia langsung tau siapa yang membuat mayat-mayat ini bergelimpangan di mana-mana, namun untuk memastikan lagi, ia menguatkan Indra penciumannya.
Dan Lao Hu sangat terkejut dengan bekas aura yang ia rasakan, "Aura ini!... Shen Long kau baru saja dari sini!?.." Gumamnya yang masih sangat terkejut.
"Wang Long juga ada disini, dan jejak aura Wang Long masih sangat baru, kurasa ia baru saja pergi dari sini..." Gumam Lao Hu lagi.
Memandang tajam ke seluruh bekas Medan perang, Lao Hu sekali lagi bergumam, "Dengan bergeraknya pasukan istana Penghakim, mungkinkah sudah saatnya bagi kami untuk masuk dalam fase serius?.." Beberapa detik Lao Hu terdiam, kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak! Tidak bisa! Aku harus membicarakan ini kepada tuan dan Wang Long!.."
"Wush!!. "
Dalam sekejap mata, Lao Hu berubah menjadi seberkas cahaya dan bergerak dengan kecepatan tinggi ke arah sekte elang besi.
Wang Long dan Lao Hu tentu saja mengetahui keberadaan istana Penghakim, karena yang membangun istana itu adalah Tang Lin sendiri. Dan Lao Hu sebagai pendamping setia Tang Lin sejak dulu sangat tau itu. Berbeda dengan Wang Long, meskipun ia tau keberadaan istana Penghakim namun ia tidak pernah bekerja di bawah perintah istana itu.
Waktu berputar dengan cepat, saat ini malam hari telah tiba, delapan tetua istana Penghakim duduk di sebuah ruangan dengan meja yang berbentuk lingkaran di hadapan kedelapan tetua itu.
Sepuluh kursi melingkari seluruh meja besar itu, namun terdapat dua kursi yang kosong. Satu adalah kursi dari tetua kesembilan dan yang satunya lagi yang lebih mewah dan besar adalah kursi milik pemimpin istana Penghakim. Kursi milik pemimpin istana, tidak ada satupun yang berani duduk disana.
Apa yang mereka lakukan saat ini sangat jelas, yaitu mengadakan rapat untuk membahas apa yang membuat dewa naga mengutuk mereka.
Seharusnya jika pemimpin istana tidak ada, maka tetua kesembilan lah yang seharusnya menjadi pimpinan dalam rapat mereka kali ini. Tetapi tetua kesembilan tidak dapat hadir karena kondisinya yang menyedihkan, jadi rapat kali ini akan di pimpin oleh tetua kedelapan Zhao Chun.
"Tetua kedelapan, kita sudah tiga jam disini untuk membahas masalah yang serius, tapi sepertinya kita terlihat seperti sekelompok orang bodoh.." Ujar tetua pertama.
"Benar! Kemarahan Dewa Naga juga pastinya tanpa alasan.." Tetua ketiga menimpali.
"Tidak kah menurut kalian kita melupakan sesuatu?..." Tetua ke empat berkata seraya mengelus jenggotnya yang panjang dengan bingung. Tetua ke empat seperti merasakan mereka merasakan melupakan sesuatu yang sangat penting dan ini pasti berkaitan dengan kemarahan Dewa Naga, namun ia tidak tau apa yang telah mereka lupakan.
Lihatlah betapa bodohnya semua tetua itu! Sudah sangat jelas, mereka melupakan perbuatan mereka yang kejam terhadap Zhao Yu. Bahkan dalam keadaan genting dan mendesak seperti ini mereka juga tidak mengingatnya.
"Ah!! Entahlah, kepalaku terasa mau pecah memikirkan ini semua. Kurasa sebaiknya kita bertanya pada pasukan khusus yang berada dibawah perintah langsung pemimpin istana sebelumnya, mereka pasti mengetahui sesuatu..." Ujar tetua kedelapan yang sudah merasa pikirannya buntu.
"Benar juga! Dewa Naga berkata jika pewaris tahta sang Penghakim telah menunjukkan dirinya beberapa kali, dan mereka pasti mengetahuinya..." Tetua keenam berkata dengan mata berbinar seolah dia baru saja tercerahkan.
Memang dagunya, tetua kelima kemudian memotong, "Jika benar mereka mengetahuinya, mengapa mereka tidak mengatakan apapun pada kita?.."
Tetua kedelapan hanya bisa menghela nafas panjang, lalu berkata, "Semakin kita memikirkannya, kita hanya akan menjadi semakin kebingungan juga. Sebaiknya kita mendatangi mereka dan bertanya langsung.."
"Benar, itu lebih baik dari pada kita menebak-nebak seperti ini..." Tetua kedua menyambung.
Setelah mengambil keputusan itu, kemudian delapan tetua itu pergi ke belakang istana Penghakim. Disana terdapat sebuah pulau melayang yang di lindungi oleh berlapis-lapis formasi. Tentu saja, sebagian dari formasi itu berfungsi untuk menyembunyikan pulau itu agar tidak terlihat oleh dunia luar.
Pula melayang itu, adalah tempat dimana kursi tahta dewa Penghakim yang Tang Lian panggil berada. Orang yang datang ketempat itu juga bukan sembarangan orang, bahkan para tetua istana Penghakim saja tidak bisa masuk tanpa izin terlebih dahulu.
Sesampainya dibawah pulau melayang itu, delapan tetua bodoh yang merasa dirinya hebat itu mendongak keatas sebelum mereka terbang keatas bersamaan.
"Apa tujuan kalian kemari!?.." Tanya prajurit penjaga gerbang masuk pulau melayang itu dengan dingin. Alasan mengapa mereka bersikap dingin adalah karena mereka tau apa yang telah semua tetua bodoh itu perbuat.
Delapan tetua itu merasa sangat bingung, bahkan hanya seorang prajurit penjaga saja mengapa tiba-tiba bertanya dengan dingin pada mereka? Delapan tetua itu melihat jika dimata prajurit penjaga itu terdapat kebencian karena kekecewaan.
Meskipun demikian, delapan tetua itu tidak memiliki hak untuk memarahi prajurit itu karena prajurit itu tidak berada dalam kendali mereka. Hal itu membuat delapan tetua itu harus berusaha bersikap sopan meskipun sebenarnya mereka sangat kesal dengan prajurit itu.
Tetua kedelapan melangkah maju dan berdiri paling depan lalu berkata, "Tolong sampaikan pada nona Lin Xue jika kami delapan tetua ingin membiarkan sesuatu yang sangat penting dengannya.."
Di dalam kata-katanya terlihat tetua kedelapan berusaha bersikap sopan, padahal didalam hatinya ia sangat kesal.
"Nona Lin Xue tidak punya waktu untuk berbicara dengan sekelompok anjing bodoh seperti kalian, pergilah!!.." Prajurit penjaga itu mengusir dan bahkan dengan sangat berani dan percaya diri ia menyebut delapan tetua itu ANJING BODOH!!