
Sementara itu, para istri dan kekasih Tang Lian, bersembunyi di balik punggung Wang Long, mereka gemetar ketakutan melihat Sang Penguasa yang sedang murka. Bahkan mereka yang tadinya menangis tersedu-sedu kini berusaha keras menahan tangisannya agar tidak bersuara.
Wang Long mau tidak mau harus berada paling depan dan melindungi semua wanita itu. Ia hanya bisa menghela nafas panjang ketika melihat semua wanita itu bersembunyi dibalik punggung nya.
Disisi Tang Lin, ia menatap Shen Long dan Yun Zhang dengan tatapan tajam yang sangat menyeramkan.
"Menyingkirlah jika tidak ingin bernasib sama sepertinya.." Ucap Tang Lin dingin.
"Yang Mulia, mohon tenangkan----.."
Shen Long tidak bisa menyelesaikan kata-katanya karena Tang Lin tiba-tiba menghilang, dan muncul kembali tepat dihadapan Shen Long dengan tangan kekarnya yang sudah di ayunkan.
Shen Long tidak bisa bergerak melihat tinju Tang Lin yang tepat didepan wajahnya, sebentar lagi wajahnya akan di pukul dengan keras. Ia tertegun ditempat, sungguh tinju Tang Lin terlalu menakutkan baginya hingga ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Tapi Yun Zhang Langsung menarik Shen Long dan membawanya menjauh sebelum tinju itu mengenai wajahnya.
Tinju Tang Lin mengenai udara kosong, namun setelah itu garis lurus sepanjang dua kilometer terlihat sangat jelas membekas di tanah dan udara.
Kedua orang itu bergedik ngeri melihat itu, hanya satu tinju kosong, dapat membuat tanah dan udara membekas.
Tang Lin kembali menoleh ke arah dua orang itu, dengan tatapan tajamnya, "Shen Long, lepaskan Lao Hu dan Menyingkirlah!! Jika tidak kau akan bernasib sama sepertinya..." Ucap nya lagi seraya berjalan perlahan mendekat.
"Sial!! Yun Zhang, kau jaga dan obati dulu Lao Hu, biarkan aku berusaha meredam amarah Yang Mulia!.." Ucap Shen Long.
"Apa kau yakin?.. Sebelumnya jika aku tidak menyelamatkan mu kau sudah pasti berbaring dengan wajah yang bengkak..." Jawab Yun Zhang kurang yakin.
"Aku adalah orang kedua yang selalu menemani Yang Mulia setelah Lao Hu, jadi percayakan saja padaku.." Ucapnya meyakinkan seraya menyerahkan tubuh Lao Hu pada Yun Zhang.
"Baiklah, semoga beruntung!.." Ucap Yun Zhang lalu mengambil Lao Hu yang sudah tak sadarkan diri dan pergi menjauh.
Tang Lin yang melihat itu ingin mengejar Yun Zhang, tetapi Shen Long langsung menghadangnya.
"Yang Mulia! Mohon tenangkan amarah anda!!.." Ucap Shen Long yang berusaha menenangkan tuannya.
Tapi Tang Lin sudah terlalu emosi, ini adalah ketiga kalinya Shen Long menghalangi jalannya, dan kali ini Tang Lin tidak lagi berbicara, tetapi langsung melesat ke depan dan mengayunkan kembali tangannya.
Shen Long sudah mengantisipasi hal ini, tetapi tetap saja pergerakan Tang Lin terlalu cepat, sehingga ia tidak sempat membentuk pertahanan yang sempurna ataupun menghindar. Ia hanya bisa menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Bang!.."
Tinju Tang Lin menghantam kedua tangan Shen Long hingga membuatnya terpaksa mundur kebelakang, garis bekas kaki Shen Long berbentuk ditanah.
Tangan Shen Long gemetar menahan sakit di lengannya.
Tang Lin kembali melesat, meninju telak di perut Shen Long, Shen Long terbungkuk menahan sakit diperutnya, tapi Tang Lin tidak memberikan kesempatan.
Pukulan kedua ia lancarkan dari bawah, tepat mengenai wajah Shen Long.
Shen Long langsung terbanting kebelakang, namun ia dengan sigap bersalto dan menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Aku tidak boleh tumbang! Aku harus bisa bertahan!.."
Shen Long membatin seraya mengelap darah disudut bibirnya.
Tang Lin masih belum puas, ia ingin kembali memukuli Shen Long, tapi langsung terhenti dengan teriakan Tang Lian.
"Lian'er!.." Ujar Tang Lin khawatir.
Ketika teriakan itu berhenti, darah yang mengalir keluar dari seluruh jari-jarinya sudah berhenti. Darah merah berbentuk bulat seperti bola ada dihadapan Tang Lian.
Tehnik pemurnian darahnya sudah selesai. Tang Lin terjatuh hingga berlutut, nafasnya memburu disertai dengan tubuhnya yang sangat sakit dan lemas.
Ranah kultivasi Tang Lian telah menurun hingga kembali ke ranah paling rendah, yaitu ranah pembentukan tubuh. Ranah dimana ia pernah berhenti dan membuatnya menderita saat itu.
Tang Lin kini tidak memperdulikan Shen Long. Ia langsung mendekat dengan cepat kearah putranya.
"Jangan mendekat!!.." Teriak Tang Lian pada ayahnya seraya menatapnya dengan tajam.
Tang Lin seketika berhenti, dengan tubuh gemetar ia hanya bisa memandang putranya tidak berdaya.
Disisi Yun Mei dan Jia Li, kedua istri Tang Lian itu langsung mendekat kearah suaminya dan membantunya berdiri.
Tangisan kedua istrinya itu kembali pecah ketika melihat Tang Lian.
"Suami!... Mengapa kamu membohongiku!? Hiks... Hiks...Hiks..." Tangis Yun Mei.
"Istriku, aku tidak membohongimu.. Lihatlah, bukan kah aku baik-baik saja?.." Ucap Tang Lian dengan senyum dipaksakan, karena rasa sakit yang ia rasakan di seluruh tubuhnya.
Ia ingin mengelus rambut Yun Mei yang ada disebelah kanan nya, tapi ia tidak memiliki tangan kanan sehingga ia memilih untuk mencium pipinya.
Yun Mei sedikit tenang setelah suaminya itu mencium pipinya. Namun tetap saja tangisannya tetap terdengar.
Sementara Jia Li, ia hanya memaksakan senyumnya ketika Tang Lian menatapnya. Tapi air matanya tetap mengalir keluar, karena itu Tang Lian juga mencium pipinya.
Sementara para kekasih Tang Lian masih tidak berani keluar dari balik punggung Wang Long.
Wang Long menatap adegan itu dengan cemburu dan membatin, "Aku juga ingin ciuman itu kau tau?.."
Yah, naga betina itu sudah lama memendam rasa untuk Tang Lian, tapi ia tidak pernah mengungkapkannya.
Setelah itu, Tang Lian kembali menatap ayahnya, ia mengambil bola darah dihadapannya dan melemparkannya kepada ayahnya.
"Darah ini, aku kembalikan padamu.. Setelah ini kita benar-benar tidak memiliki hubungan lagi..." Ucap nya dengan lemas.
Tang Lian berbalik dan tidak ingin mendengar ataupun melihat ayahnya lagi. Namun suara lemah lembut dan gemetaran menghentikan langkahnya.
"Lian'er... Apakah kamu benar-benar membenci ayah nak?..." Tanyanya dengan mata memerah ingin menangis, tapi ia berusaha menahan air matanya.
"Benar... Aku sangat membencimu! Ayah seperti apa, yang tega memotong tangan anaknya sendiri, dan bahkan hampir membunuhnya..." Ucap Tang Lian lemah tanpa menoleh sedikitpun kearah ayahnya.
Kata-kata itu terdengar sangat menusuk hati bagi setiap orang yang mendengarnya, apalagi Tang Lin, rasanya seperti ditusuk-tusuk dengan ribuan jarum.
"A-ayah yang gagal..." Jawab Tang Lin gemetar, air matanya hampir saja lolos keluar.
"Kau menyadari itu, jika dimasa depan kau memiliki putra lagi, maka kau harus belajar dengan apa yang sudah terjadi padaku. Jangan sekali-kali kau berani melukainya sedikitpun, karena mau bagaimana pun juga dia adalah adikku. Jika hal itu terjadi untuk kedua kalinya, maka aku akan mencarimu sampai diujung dunia sekalipun.
Aku tidak peduli meski kau pernah menjadi ayahku, saat itu aku akan langsung membunuhmu apapun yang terjadi! Cukup aku yang merasakan kekejamanmu, aku tidak ingin jika aku memiliki adik yang akan kau perlakukan dengan kejam juga!.." Ancam Tang Lian sangat serius.
Air mata Tang Lian sudah menetes membasahi wajah pucatnya, hatinya teriris ketika mengatakan itu. Ia sendiri juga bingung mengapa ia juga menangis? Apakah ia masih memiliki rasa sayang pada ayahnya? Entahlah... Sungguh sulit untuk memahami perasaannya saat ini.