PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 107 "Air Mata Zhao Yu II"


"Zhao Yu kau kenapa? Mengapa menangis?."


"Tidak tuan, aku tidak apa-apa, hanya saja mataku kemasukan serangga..." Zhao Yu berkata seraya menghapus air matanya.


Alasan konyol dan tidak masuk akal seperti itu bagaimana mungkin Tang Lian mempercayainya?. Kemudian Tang Lian menghela nafas panjang lalu memegang kedua pundak Zhao Yu.


"Zhao Yu, jika kau tidak ingin berbicara maka tidak apa-apa, tapi kamu harus ingat, aku ini adalah tuanmu dan kau adalah pengikutku, jika kamu memiliki masalah, kamu tidak harus menanggungnya sendiri, kamu bisa percaya padaku dan kita akan menggungnya bersama.."


Tang Lian berkata demikian namun didalam batinnya, 'Sebenarnya aku ingin mengatakan kau adalah adikku tapi aku terlalu malu..'


Kata-kata Tang Lian barusan, sekali lagi dia melihat Tang Lian benar-benar mirip seperti kakaknya, kakaknya dulu juga berkata 'Zhao Yu, aku ini adalah kakakmu dan kamu adalah adikku, Jika kamu memiliki masalah, kamu tidak seharusnya menanggungnya sendiri, kamu bisa percaya padaku dan kita akan menanggungnya bersama' Kakaknya dulu juga memegang pundaknya persis seperti Tang Lian memegangnya sekarang. Itu membuat sepintas bayangan kakaknya melintas dimatanya.


Akhirnya Zhao Yu luluh dan duduk dibawah sebuah pohon dan bersandar disana. Melihat itu Tang Lian menatapnya dengan aneh karena ekspresi Zhao Yu sekarang tidak dingin, namun menunjukkan ekspresi wajah yang sangat sedih dan merasa bersalah yang sangat dalam, kemudian Zhao Yu mulai bercerita.


"Tuan, apakah kamu tau jika kamu benar-benar sangat mirip dengan kakakku Zhao Che.."


"Mirip?.." Tang Lian berkata bingung.


"Benar tuan, sangat mirip. Sewaktu kecil aku memiliki satu kakak laki-laki namanya adalah Zhao Che. Dia adalah orang yang luar biasa, di klan kami dia adalah orang genius nomor satu, semua orang sangat mengidolakannya. Meskipun saat itu dia masih berusia sembilan tahun dan aku masihlah tujuh tahun dan kami belum bisa berkultivasi, namun dia sangat pintar, dia penyayang, dia pengasih dan juga dia tidak sombong.


Karena itu, semua orang sangat suka padanya, tak terkecuali ibu dan ayah kami, bahkan ayah dan ibu kami lebih menyayanginya dari pada aku. Sedangkan aku? Heh... aku hanyalah seorang adik yang suka berbuat onar dan terkadang aku juga membuat masalah besar seperti mengencingi patung yang sangat dimuliakan oleh klan kami.


Aku melakukan itu bukan karena aku ingin, namun karena aku ingin mencari perhatian ayah dan ibu, aku ingin ayah dan ibu tidak hanya memperhatikan kakakku saja, aku berpikir aku ini adalah anak ayah ibu juga, jadi mengapa harus hanya memperhatikan kakakku saja?. Tuan, aku sangat iri dengan kakakku, tapi meskipun ayah dan ibuku hanya memperhatikan kakakku saja aku juga tidak membenci mereka.


Itu membuatku sedikit bahagia, namun disuatu sisi aku juga tetap menginginkan kasih sayang ayah dan ibuku, aku juga tidak bisa menyingkirkan rasa iriku karena setiap ulang tahun kakak, maka ayah dan ibu pasti akan merayakannya dengan sangat meriah. Kakakku mengetahui bahwa aku pasti sangat iri melihat itu jadi dia selalu berusaha menenangkanku.


Aku yang pembuat onar dan masalah ini, tidak ada satupun yang peduli padaku terkecuali kakakku. Ayah sering menghukumku dengan kejam, dia mencambuki tubuh kecilku yang masih berusia tujuh tahun itu karena aku sering membuat masalah, setelah itu aku mengurung diriku dikamar seorang diri, aku sempat berpikir apakah mereka adalah ayah dan ibu kandungku?.


Namun sebelum sempat aku bertindak bodoh, kakaku datang dan berkata padaku. Kata-kata itu sangat mirip dengan apa yang tuan katakan barusan, kata-katanya itu membuatku tenang, jadi aku tersenyum kembali. Dimataku kakak adalah segalanya, kasih sayang ayah dan ibu dialah yang melimpahkannya padaku, selalu melakukan apapun yang aku mau, selalu memberikan apapun yang aku minta.


Namun meskipun begitu aku masih merasa hatiku ini masih kosong, aku benar-benar menginginkan ayah dan ibuku memperhatikanku juga. Namun sepertinya itu sangat mustahil, karena ayah dan ibu bahkan semua orang diklan tidak melirikku bahkan sedikitpun. Hingga akhirnya tibalah saatnya kakakku berusia sepuluh tahun, dan dia akan mulai bisa berkultivasi. Oleh karena itu, ayah dan ibu merayakannya dengan sangat meriah dan jauh lebih meriah dari pada sebelumnya.


Pesta ulang tahun itu di adakan tiga hari tiga malam dan semua orang menghadirinya tanpa terkecuali, orang-orang menggendong anaknya menuju pesta ulang tahun itu dan berkata, kamu harus meniru Zhao Che, dia sangat baik dan tidak sombong, kemudian anak-anak mereka mengangguk dan aku melihat dari kejauhan, aku menonton pesta itu dari tengah gelapnya malam.


Dipesta itu juga, aku mendengar ayah mengatakan, Zhao Che adalah putra satu-satunya yang dia banggakan dan sayangi. Mendengar itu, aku sudah tidak tahan lagi. Kemudian aku berlari menjauh dari pesta itu, yang kuinginkan saat itu hanyalah kematian agar segera menghampiriku. Kakakku menyadari itu jadi dia segera berlari menyusul ku juga tanpa memperhatikan ekspresi semua orang yang terkejut karena tiba-tiba dia berlari mengejar ku.


Aku berlari dan air mata darah membasahi pipiku, saat aku berlari aku tersandung akar pohon dan aku terjatuh, namun aku tidak langsung bangkit melainkan aku berteriak putus asa, mengapa hanya kakakku saja yang istimewa? mengapa hanya kakakku saja yang diperhatikan? mengapa hanya kakakku saja yang mendapat kasih sayang?. Saat itu aku benar-benar sudah putus asa dan hanya ingin mati saja, aku tidak menginginkan diriku hidup lagi.


Pada saat itu juga, aku tiba-tiba mendengar suara seekor singa darah, dan ketika aku melirik kebelakangku, aku melihat air liurnya menetes dan menatapku dengan rasa lapar, setelah itu aku baru sadar jika aku telah sampai ditengah hutan. Meskipun aku ketakutan tapi aku juga berharap agar singa darah itu segera memakanku dan dengan begitu aku akan bebas dari rasa sakit ini.


Namun ketika singa darah itu ingin memakanku kakakku tiba dan menghalanginya, dan pada akhirnya kakakku mati dengan jantung yang bolong karena kaki singa itu menembusnya, saat itu dia mengatakan kata-kata terakhirnya, kakakku berkata, 'Hiduplah adikku!! Temukan orang diluar sana yang benar-benar sama sepertiku, aku yakin kamu akan menemukannya, tapi kamu harus hati-hati karena dunia ini sangat kejam.'


BERSAMBUNG


Kasih like, komen, dan votenya dong kak, bang, om, Tante, atau apalah itu😣😣😣