
Ditengah malam, Tang Lian tidur bersama kedua istrinya. Sementara wanitanya yang lain berada dikamar yang berbeda.
"Li'er apakah kamu sudah tidur?.." Bisik Tang Lian pada Jia Li disebelah kirinya.
"Hoaam!... Suami ada apa? Aku masih belum tidur tapi aku sudah mengantuk..." Jawab Jia Li tanpa membuka matanya karena ia terlalu malas.
Tang Lian menjadi tidak tega membangunkannya, lalu ia kembali membaringkan tubuhnya.
"Padahal aku ingin menyerahkan hadiah yang telah aku janjikan. Tapi karena Li'er sangat mengantuk maka besok saja.." Gumam Tang Lian seraya menatap gelang biru ditangannya.
Jia Li yang mendengar itu, seketika dia membuka matanya lebar-lebar.
"Apa? Hadiah? Dimana? Cepat tunjukkan padaku!!.." Ucap Jia Li sangat bersemangat dan matanya berbinar seperti anak anak anjing yang lucu.
"Tapi kamu bilang sangat mengantuk?.."
"Tidak jadi!!.." Ucap Jia Li dan merebut gelang biru itu dari tangan Tang Lian.
Tang Lian tersenyum sangat senang ketika ia melihat ekspresi wajah yang bahagia Jia Li.
"Dimana suami mendapatkan ini?.." Tanya Jia Li yang penasaran.
"Aku mendapatkannya di rumah pelelangan, kenapa? Apakah kamu tidak suka itu?.." Tanya Tang Lian kembali karena ia khawatir Jia Li tidak menyukainya.
Jia Li seketika cemberut karena pertanyaan Tang Lian barusan, "Pemberian dari suamiku bagaimana mungkin aku tidak menyukainya? Lihat warnanya, warna biru terang yang sangat mengkilap bahkan ditengah malam begini, itu sangat indah!.."
"Huuffft... Baguslah jika kamu suka..." Ujar Tang Lian dan menghela nafas lega lalu mencium kening istrinya dengan lembut agar ia tidak lagi cemberut.
Dan benar saja, setelah Tang Lian menciumnya ia kembali memasang senyum lebar di wajahnya seraya memandang gelang biru yang barusan ia pakai.
Sementara Jia Li terus tersenyum sendiri, Tang Lian lalu menggigit lembut telinganya. Dan Jia Li langsung saja membalikkan tubuhnya dan menatap wajah tampan Tang Lian.
"Itu geli, apa kamu tau?.."
"Aku tau tapi aku tidak peduli..." Jawab Tang Lian lalu mencium bibir Jia Li.
"Ha--mph!!.. A-ada kakak Mei disini, nanti dia bangun!.." Bisik Jia Li mengingatkan dengan suara yang teredam karena Tang Lian menciumnya.
Tang Lian melepaskan ciumannya lalu menatap wajah cantik Jia Li dan mengelusnya lembur seraya berkata, "Tidak apa-apa, barangkali nanti dia mau bergabung.."
Wajah Jia Li bersemu merah karena ia malu dan berkata dengan gagap, "A-apakah kamu sudah tidak punya malu lagi?.."
"Mengapa aku harus malu sedangkan kalian berdua adalah istriku, dan sudah sewajarnya kalian melayaniku jika aku menginginkannya.." Ujar Tang Lian lembut.
"B-bodoh... Suami mungkin tidak malu tapi aku berbeda..." Ucap Jia Li semakin malu.
Wajah Jia Li yang malu itu, Tang Lian menatapnya sangat imut dan cantik, hingga semakin membangkitkan nafsunya ketingkat yang lebih tinggi. Tang Lian tersenyum misterius dan sepertinya sedang merencanakan sesuatu.
Jia Li yang melihat itu menjadi merinding dan perasaannya tidak bagus.
Kemudian Tang Lian kembali menggigit telinga Jia Li, lalu perlahan turun mencium lehernya hingga meninggalkan ****** disana. Setelah puas dilehernya, kemudian Tang Lian beralih ke gunung kembar Jia Li yang sebelah kiri, ia menghisapnya seperti bayi dan yang kanan ia pijat-pijat dengan lembut. Dan terkadang ia memilin buah cerinya yang berwarna pink.
Jia Li merasakan kenikmatan hingga ia mengerang dengan suara teredam karena mengingat peringatan Tang Lian sebelumnya. Ia ingin menjerit karena kenikmatan namun ia terlalu malu jika nanti Yun Mei bangun dan melihat semuanya.
Jia Li menggunakan tangan kirinya untuk menutup mulutnya agar tidak bersuara dan tangan kanannya menekan kepala Tang Lian dengan kuat, seolah ia ingin gunung kembarnya di hisap lebih kuat oleh Tang Lian. Dan tanpa Jia Li sadari, bagian bawahnya sudah basah dengan jus cinta.
Setelah puas di kedua gunung kembar Jia Li, Tang Lian perlahan turun ke lembah keramat Jia Li. Ia menyingkap pakaian putih yang transparan Jia Li dan melihat jika lembah keramat itu telah basah.
"Li'er, kamu sudah sebasah ini?.." Ujar Tang Lian lembut seraya mengelus area lembah keramat yang tidak ditumbuhi bulu.
Jia Li bergetar ketika merasakan jari-jari Tang Lian bergerak di area pinggiran lembah keramatnya.
"B-bisakah kita berpindah tempat saja? Aku takut aku tidak bisa menahan suaraku dan membuat kakak Mei bangun..." Ujar Jia Li dengan gagap dan nafas ngos-ngosan.
Jia Li tau meskipun ia meminta untuk berhenti maka suaminya itu tidak akan mendengarnya, sehingga ia meminta untuk berpindah tempat.
"Baiklah, ikuti aku..." Ujar Tang Lian setuju lalu membawa Jia Li kehalaman belakang kediaman mereka.
Tang Lian menuruti Jia Li karena ia menghargai istrinya itu. Ia tidak ingin gara-gara keinginan binatangnya itu membuat Jia Li membencinya.
Sesampainya dihalaman belakang, Tang Lian kemudian menekan Jia Li kedinding dan mencium bibirnya dengan sangat ganas, tangannya juga berkeliaran nakal keseluruh tubuh Jia Li.
Mulut Tang Lian mencium bibir Jia Li, tangan kirinya memijat gunung kembarnya secara bergantian. Tang Lian memasukkan jari tengahnya kedalam lembah surga itu dan mengacak-acaknya dengan ganas.
Kenikmatan yang luar biasa dirasakan oleh Jia Li hingga ia menjerit dengan teredam karena Tang Lian mencium bibirnya.
"Mmmmppphhh~" Erangan teredam Jia Li terdengar dan tubuhnya perlahan menegang.
Jia Li menjepit tangan Tang Lian dengan kuat, ia merasa sesuatu akan segera datang dan lepas dari lembah keramatnya. Tang Lian yang tau apa artinya itu lalu semakin mempercepat gerangan tangannya dan membuat Jia Li semakin menjerit dalam teredam.
"Ehmmmppppphhhhh!!!!~"
"Deessss..."
Jus cinta Jia Li menyembur dan membasahi sepenuhnya tangan Tang Lian. Jia Li menggigil dan bergetar beberapa kali untuk beberapa detik, ia merasa tulang-tulangnya sekan lepas, tubuhnya terasa lemas, akan tetapi ia menyukainya.
Tang Lian kemudian melepaskan ciumannya dan menatap Jia Li dengan tatapan penuh gairah dan nafsu. Kemudian tanpa membuang waktu, Tang Lian melepaskan celananya tapi tidak dengan bajunya.
Dan begitu juga dengan Jia Li yang melihat jika suaminya itu sudah melepaskan celananya, lalu ia juga melepaskan seluruh pakaian putih transparannya. Ia tau jika suaminya itu akan segera menghajarnya, tetapi sepertinya ia juga mengharapkannya.
Tang Lian menatap tubuh istrinya yang sangat indah dan cantik itu. Istrinya itu terlihat sangat sempurna dan tanpa kekurangan apapun. Ia yang sudah sangat bernafsu, lalu mengangkat Jia Li dengan satu tangan dan meletakkannya kembali Kedinding.
Jia Li juga dengan otomatis mengalungkan tangannya dileher Tang Lian dan kakinya melingkar di pinggangnya. Tang Lian menggosokkan tongkat kera saktinya naik turun dan semakin menggoda Jia Li.
"J-jangan dipermainkan suami... Cepat masukkan, aku sudah tidak tahan lagi..." Mohon Jia Li dengan tatapan sangat bernafsu.
Mendengar itu, Tang Lian lalu mendorong pinggulnya perlahan kedepan. Tapi pada saat yang bersamaan, ia harus menghentikan aksinya karena sekarang sudah tiba saatnya untuk bersambung.