Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Akademi Kekaisaran Han


"Tuan muda, anda dimana?" suara teriakan Chu Xiong terdengar keras di sebuah hutan yang cukup jauh dari kota Qingyun.


Belum habis gema teriakannya, sebuah belati hitam yang entah datangnya dari mana tiba-tiba saja menyerang Chu Xiong.


Belati ini seperti mempunyai mata, yang dengan cepat merubah arah serangan ketika berhasil ditangkis.


Cukup lama juga Chu Xiong bertarung dengan belati, sampai Ia sadar ada yang salah. Belati ini hanya menyerang titik lemahnya saja tanpa melukainya.


"Tuan muda, cukuplah...." ujarnya lalu menyimpan tombak dan berdiri tenang.


"Ah tidak seru." ucap Ye Chen melompat dari atas pohon.


"Apanya yang tidak seru, tau begini aku tidak akan kesini." gerutu Chu Xiong.


"Iyaa maaf... maaf, lalu untuk apa kau kesini?"


"Nona Song sudah sadar, tapi dari yang kulihat dia belum berhasil menerobos."


"Benarkah?" ujar Ye Chen. "Lalu ada berita apa lagi, apakah sudah menemukan arah ke desa Ye?"


"Masalah itu sepertinya kita harus ke timur ke arah Ibukota kekaisaran, dari sana kita bisa ke perbatasan."


Ye Chen mengangguk kepalanya berulang kali dan bertanya dimana Cia Sun.


"Oh begitu, jadi dia menjaga nona Song. Baiklah, tunggu di sini, aku akan memanggil mereka."


"Tidak, jangan biar aku saja." cegah Chu Xiong yang pergi tanpa persetujuan Ye Chen.


Di penginapan, Cia Sun dan Song Fei bertanya kenapa Ye Chen tidak datang.


"Tidak usah dipikirkan, kalau dia yang datang, pasti aku akan menunggu berhari-hari di hutan sana."


"Kenapa begitu?" tanya Cia Sun heran.


"Apa kau lupa? dia pasti bukan kesini terlebih dulu tapi akan mencari makan dan setelah itu tidur, belum lagi kalau membuat masalah baru. Sudahlah ayo kita pergi."


Sudah beberapa hari Ye Chen berada di hutan untuk berlatih.


Ia memutuskan berlatih di luar ketika belati hitamnya berubah, waktu itu Ia sempat bingung karena bola kecil yang Ia kira tidak muat di lubang belati ternyata merupakan pasangan belati itu sendiri.


Bola kecil itu langsung menyatu, menyesuaikan dengan lubang di belati.


Seperti dirasuki kekuatan baru, belati hitam tiba-tiba melayang di udara dengan aura dingin mencekam. Mungkin karena terlalu banyak digunakan membunuh atau mungkin juga jelmaan Iblis itu sendiri.


Berbeda dengan pedang hitam yang walaupun mempunyai sifat yang sama, pedang hitam warisan gurunya lebih tenang.


"Tuan, sudah matang?" kata Chu Xiong mengagetkan Ye Chen yang sedang memanggang ayam hutan.


"Hah apanya yang matang, itu bakar sendiri kalau mau." Ye Chen menjawab sambil menunjuk ayam hutan yang bahkan masih hidup.


"Saudara Chen, wah tampaknya ini enak." giliran Cia Sun yang datang dengan Song Fei. Tidak seperti Chu Xiong, Cia Sun langsung mengambil satu ayam dan membaginya dengan Song Fei.


Chu Xiong yang tidak mau ketinggalan langsung menyambar satu lagi dan menghabiskannya sendiri.


akhirnya Ye Chen memanggang lagi karena masih merasa lapar. Di sini siapa sih sebenarnya yang jadi tuan, kenapa aku harus menyediakan makanan untuk mereka pikir Ye Chen.


"Biarkan saja," ucap Ye Chen datar. "Sebaiknya mulai sekarang kalian fokus meningkatkan kekuatan. Aku telah menyiapkan sumber daya"


Ye Chen memberitahu sebuah gua yang nantinya akan mereka pakai untuk berkultivasi dan memberikan masing-masing pil pembuka untuk naik ke tingkat Langit dan dua inti siluman tingkat suci.


Untuk Song Fei hanya diberi satu inti siluman tingkat suci, untuk menstabilkan kekuatannya yang baru saja menerobos ke tingkat Bumi puncak.


Ye Chen sendiri sudah menyerap satu inti siluman tingkat dewa dan lima tingkat suci, sehingga Ia sedikit lagi bisa naik ke tahap tinggi.


Tidak banyak waktu, jadi Ye Chen menundanya terlebih dahulu dan lebih memilih untuk mematangkan tehnik barunya, terutama tehnik Belati Iblis.


Untuk apa juga kultivasi tinggi kalau tehnik yang digunakan hanya itu-itu saja pikirnya.


Mungkin aku akan langsung ke Ibukota kekaisaran, jadi setelah keluar nanti, jangan mencariku di kota Qingyun.


"Tapi bukankah lebih baik jika pergi bersama?" kata Chu Xiong yang terdiam ketika Ye Chen mengangkat sebelah tangannya. "Pergunakan waktu kalian dengan baik, jangan mengkhawatirkan aku."


"Baik tuan."


"Nah aku pergi," memanggil Rajawali dan Angsa Pelangi. "Mereka akan menunjukkan tempat kalian berkultivasi, sekaligus menjaga dan menjadi tunggangan kalian nanti saat menyusulku."


Ye Chen lalu pergi, terbang dengan cepat ke kota Qingyun.


Firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu, itulah mengapa Ia mendorong orang-orang terdekatnya agar menjadi lebih kuat.


Dimulai dari hadirnya batu hitam yang Lao Yifeng berikan, batu yang sama persis seperti yang dipakai oleh sekte kegelapan.


Ia yakin masih ada anggota sekte kegelapan di luar sana.


"Tuan Ye, selamat datang. Kenapa tidak memberi kabar dulu kalau mau ke sini?" sapa Lao Yifeng. "Ayo silahkan masuk." ucapnya ramah.


"Tuan Lao, aku hanya ingin bertanya saja, apa benar akademi kekaisaran mengundangku datang? apa anda tau apa yang mereka inginkan?"


"Aku juga tidak tau. Tapi aku rasa bukan masalah belati itu, mungkin ada urusan lain."


Lao Yifeng kemudian menceritakan keadaan kekaisaran Han yang menurutnya sudah jauh lebih baik.


Ibukota jauh lebih besar dari kota Qingyun, Ia juga memberitahu bahwa dengan plakat yang dulu Ia berikan, Ye Chen bisa masuk bebas ke rumah lelang yang ada di sana.


Mengenai puteri yang menginginkan belati Ye Chen, Lao Yifeng tidak menceritakan banyak. Hanya mengatakan bahwa Ia adalah puteri kaisar saja dan pimpinan akademi kekaisaran adalah pamannya sendiri, yaitu adik kaisar Han.


"Tuan Ye, maaf sekali kami tidak bisa menyediakan sumber daya yang anda minta. Tapi tenang saja, rumah lelang pusat kami selain rutin mengadakan lelang, juga menjadi tempat jual beli senjata dan sumber daya."


Ye Chen lalu pamit dan bergegas menuju ibukota kekaisaran.


Dari keterangan Lao Yifeng, sebulan lagi rumah lelang pusat mengadakan.


Berbeda dengan rumah lelang di kota Qingyun, di sini harus bisa mengumpulkan setidaknya dua puluh barang yang akan di lelang.


"Terima kasih untuk informasinya," kata Ye Chen. "Aku akan berangkat ke ibukota sekarang. Oh ya kalau suatu hari nanti anda berkunjung ke benua timur, mampirlah ke tempatku, di desa Ye." Ia tak segan mengundang Lao Yifeng datang.


"Tuan, tunggu sebentar, berarti anda...." pantas saja aku seperti pernah mendengar nama Ye pikirnya.


Siapa sekarang yang tidak mengenal desa Ye? dua kekaisaran di benua timur ini sudah sangat mengenalnya, desa yang bisa dibilang jauh lebih kuat dari sebuah sekte tingkat atas.