
Panglima Cia menyambut Ye Chen dan memintanya duduk.
"Aku tidak akan panjang lebar." kata panglima Cia sebelum di potong oleh Ye Chen.
"Maaf sebentar panglima," kata Ye Chen lalu mengambil seguci arak kecil. "Silahkan, aku sengaja membawa arak ini untuk panglima dan kakek Lu."
Hal ini sengaja Ye Chen lakukan untuk membuat panglima mengerti masalah di rumah makan, Ia malas untuk menjelaskan kejadian itu dan membiarkan panglima dengan kebijaksanaannya.
"Hahaha... aku mengerti, ternyata begitu." ucap panglima. Arak yang aromanya saja sudah sangat menggoda ini pasti membuat anak tuan kota tidak dapat menahan keinginannya untuk meminum arak Ye Chen.
Dan mengingat reputasinya yang buruk, pastilah Ia tidak akan meminta baik-baik.
"Baiklah, masalah pertama sudah selesai. Jujur saja aku sebenarnya tidak terlalu peduli tapi karena kau terlibat, mau tidak mau aku memikirkannya juga."
Sementara Lu Ping yang terus minum, hanya mengangguk sambil terus minum. tiga cawan telah habis masuk ke perutnya.
Panglima melirik dengan kesal, "Saudara Lu, apa anda lupa tujuan kita mengundang Ye Chen ke sinu?" mulutnya berkata tapi matanya terus melirik guci arak yang kecil. Hatinya tidak rela kalau Lu Ping menghabiskan semua.
"Nanti dulu," sahut Lu Ping. "Kita minum dulu...." lanjutnya yang kembali menuang arak. Tapi hanya setengah cawan karena panglima dengan cepat merebut guci arak dari tangannya.
"Saudara Lu, aku baru minum secawan, anda sudah tiga."
"Ayolah panglima, ini baru setengah cawan." ucap Lu Ping menghiba.
"Tidak bisa, lihat ini sisa sedikit." bantah panglima lagi sambil menggoyang guci arak.
Ye Chen tersenyum, mengambil dua guci sedang untuk mereka berdua.
"Baiklah, nah itu yang pertama, yang kedua tentang turnamen antar benua. Kekaisaran Lu tidak ikut berpartisipasi. kau tentu mengerti alasannya." kata panglima sambil meminum dua setengah cawan arak. Ia harus mendapat jatah yang sama dengan Lu Ping.
"Aku mengerti." sahut Ye Chen.
"Yang ketiga, mengenai hadiah turnamen kemarin. Kaisar mengijinkanmu mengambil wilayah desa Bunga sebagai hadiah. Kaisar juga memberikan bantuan langsung untuk membangun kembali desa sebagai hadiah karena telah menyembuhkannya."
Bantuan yang kaisar berikan adalah sepuluh juta keping emas dan lima juta keping perak, hanya itu. Kaisar tidak bisa memberikan lebih dari ini karena kekacauan yang terjadi karena ulah menteri Su masih berlanjut sampai sekarang, walaupun kekacauan yang belakangan muncul tidak bisa dihubungkan secara langsung dengan menteri Su.
Karena pertimbangan keamanan desa Bunga, maka kekaisaran memutuskan untuk melepasnya.
Demikianlah penjelasan yang diberikan oleh panglima.
Ye Chen yang mendengarkan ini bernafas lega, Ia juga tidak mau berurusan dengan kekaisaran, jujur saja Ia enggan menjadi bagian dari kekaisaran manapun.
"Bagaimana menurutmu?" tanya panglima Cia membuyarkan lamunan Ye Chen.
"Eh, apa panglima?" jawab Ye Chen kaget. "Makanya perhatikan kalau orang lagi bicara." gerutu panglima lalu mengulang lagi maksud pertanyaannya.
"Hehe maaf...," ucap Ye Chen sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku setuju saja, tidak masalah. Kalau begitu aku akan segera ke kota Bunga."
"Jangan terburu-buru dulu, kita berangkat bersama saja nanti." kata Lu Ping yang memang berangkat bersama saat ke ibu kota.
"Tapi jangan lama yah kakek, aku sudah mulai bosan di sini."
"Paling lama tiga hari," ucap Lu Ping. "Oh ya ini hadiah dari kaisar." Lu Ping memberikan sebuah cincin penyimpanan untuk Ye Chen. "Yang lain sudah mendapat bagiannya dan jangan tanya kenapa kaisar tidak memberikannya langsung. Itu karena kau kemarin tidak hadir saat penutupan peserta turnamen."
"Maaf... maaf, aku benar-benar lupa." ucap Ye Chen lagi karena merasa tidak enak dengan tekanan kata Lu Ping saat berbicara.
"Sudah lupakan saja, kaisar juga tidak mengambil hati. Selain itu aku dan panglima mengucapkan terima kasih terutama saat berlatih kemarin."
"Tidak, jangan begitu, aku tidak mengharapkan imbalan apapun." Bantah Ye Chen ketika panglima dan Lu Ping hendak memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih.
Mau tidak mau Ye Chen menerimanya, tidak mungkin Ia melemparnya kembali. "Kalau begitu aku pamit."
"Panglima, kakek Lu, hadiah dari kaisar sudah lebih dari cukup, aku hanya mengambil tanaman herbalnya saja, yang lainnya tidak, maaf." Panglima Cia dan Lu Ping hanya menggeleng ketika mendengar suara di kepala mereka.
"Saudara Lu bagaimana menurutmu?" tanya panglima Cia.
Lu Ping bukan menjawab tapi menceritakan kembali pertemuannya pertamanya dengan Ye Chen. Waktu itu Ia mengawasi setiap gerak-gerik Ye Chen sampai akhirnya terluka.
"Aku mengerti," ucap panglima Cia. "Tapi saudara Lu, darimana anak itu mendapat banyak tehnik? dan telepati barusan, bukankah hanya bisa dipelajari oleh kultivator tingkat suci?"
"Aku juga tidak tau tapi bakatnya memang mengerikan untuk anak seusianya, mengirim pesan suara sekaligus untuk kita saja sudah membuktikannya."
"Betapa beruntungnya kalau kita bisa menguasainya juga." gumam panglima Cia.
"Anda benar panglima, ah seandainya saja anak itu berbaik hati memberikan petunjuk." kali ini giliran Lu Ping yang bergumam lalu melihat panglima Cia.
Hahaha...
Panglima Cia tidak dapat menahan ketawanya, diikuti Lu Ping. Dua orang pria tua yang sama-sama berkhayal menguasai tehnik telepati. Lucunya, mereka seakan berbicara normal saat berkhayal.
"Saudara Lu, sudah lama kita tidak berlatih, ayo akan kutunjukkan tehnik baruku."
"Ayo, siapa takut, aku juga mempunyai tehnik baru." sahut Lu Ping dan berjalan beriringan, kembali menuju halaman belakang untuk berlatih.
Ye Chen tidak langsung pulang, Ia pergi ke tempat biasa Ia berlatih bersama Cia Sun dan yang lain. Niatnya hanya satu, meracik pil.
Pikiran ini terlintas ketika melihat pemberian kaisar, di sana terdapat herbal yang Ia butuhkan untuk naik ke tahap puncak.
Ye Chen memilih sebuah gua untuk alasan keamanan dan mulai meracik pil.
"Baiklah, sekarang saatnya." gumam Ye Chen sembari memegang dua pil di tangannya. Kali ini Ye Chen berhasil membuat sepuluh pil.
Hap...
Ye Chen menelan dua pil sekaligus, lalu duduk mengambil sikap lotus.
Hari berganti, tapi belum ada tanda-tanda Ye Chen menerobos. "Masih belum." gumam Ye Chen dan kembali menelan sebuah pil.
Hari kedua. Fluktuasi udara di dalam gua mulai berpusat di sekitar Ye Chen.
Sementara di luar, di istana kekaisaran yang letaknya tidak terlalu jauh dari gua tempat Ye Chen menyerap pil.
Lu Ping dan panglima Cia yang kembali berlatih melompat mundur dan menatap langit yang mulai gelap.
"Saudara Lu, sepertinya akan ada yang menerobos ke tingkat Langit."
"Semoga saja bukan orang yang mengancam kekaisaran." sahut Lu Ping.
"Mungkinkah itu Ye Chen?" tiba-tiba saja panglima teringat Ye Chen.
Tapi Lu Ping membantahnya, "Mungkin saja, tapi rasanya mustahil, Ia sekarang baru tahap tinggi, tidak mungkin langsung melompat naik." Meski ragu tapi Lu Ping juga menyangsikan ucapannya sendiri.
"Ini...? Ye Chen di dalam gua melihat perubahan pada dirinya. "Bukankah ini tingkat Langit? ah rasanya bukan, auranya sedikit lebih lemah." Ye Chen berspekulasi sendiri. Ia yang sering merasakan aura tingkat Langit tentu tau seberapa kuat aura Langit.
"Tapi ini lebih kuat dari tahap puncak. ah sudahlah, yang penting sudah naik," ucap Ye Chen mengakhiri kultivasinya. "Lebih baik cari makan hehe."