
Di arena, Lei Songi sudah menunggu. Dia berdiri dengan angkuh, tatapan matanya menyapu peserta lainnya seperti meremehkan mereka semua dan mengatakan tidak pantas berada di sana.
"Kita memang berjodoh haha." Lei Songi terlihat senang ketika Ye Chen naik ke panggung.
Ketika Yun Shan mulai membuka pertarungan, Lei Songi berkata lagi. "Sayang sekali kau bertemu denganku di sini, jangan salahkan aku tapi salahkan nasibmu yang jelek karena bertemu denganku."
"Apa kau akan terus berbicara?"
"Cih!"
Lei Songi kesal dengan ucapan Ye Chen, dia berniat menghajar Ye Chen sampai lumpuh karena di babak ini pembunuhan tetap dilarang. Pedang pun mulai terhunus, sebilah pedang dengan aura berwarna merah menyala, membawa energi panas yang menyengat.
Pemikiran setiap peserta ini sama, menghabisi setiap musuh dengan cepat, agar tidak terlalu lelah saat berebut tempat di lima besar nanti. Namun berbeda dengan Ye Chen, dia masih belum ingin menggunakan pedang hitam. Belum ada satu pesertapun yang bisa membuatnya menggunakan senjata.
Tidak ada yang benar-benar bisa mengancamnya.
Lei Songi bergerak cepat, dia juga pengguna elemen api tapi itu jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan milik Qin Zhu. Lei Songi tiba di depan Ye Chen, memberikan serangan langsung dengan pedangnya lalu melompat mundur lagi.
Sesaat setelah Lei Songi mundur, sekujur tubuh Ye Chen tiba-tiba diselimuti api membara yang sangat besar, bahkan auranya pun tidak dapat dirasakan lagi.
"Masih belum!"
Swossh
Dari jauh Lei Songi menggerakkan pedangnya, mengangkatnya tinggi-tinggi sebelum membuat gerakan secara horizontal. Ini adalah serangan ganda, pertama mengunci lawan dalam kurungan api membara kemudian melepaskan energi dari Qi api yang tipis dan tajam. Membelah lawan dalam kurungan.
Seluruh proses serangan ini hanya berlangsung selama lima detik. Sebetulnya serangan ini bisa lebih cepat namun Lei Songi belum sampai pada tahap itu, meski begitu, kekuatannya tidak dapat dianggap remeh.
Sayatan tipis dan panas ini terkondensasi dari Qi api yang sangat panas, bahkan ada jejak hangus di lantai arena. Ye Chen pasti terbelah menjadi dua jika ini mengenainya.
Penonton terhenyak, serangan ini sangat kuat. Mereka sangat mengagumi teknik Lei Songi, terlepas dari sikap nya yang angkuh.
Dari bangku penonton, raut muka Qin Zhu terlihat sangat khawatir. Dia meremas tangannya tak berdaya.
"Tenanglah, temanmu tidak akan kalah semudah itu." ucap tetua Qin yang duduk di sampingnya.
Orang lain mungkin melihat Ye Chen tidak akan selamat tapi dia bisa merasakan dengan jelas keadaan Ye Chen di dalam kurungan api.
"Benarkah...?" sahut Qin Zhu. Wajahnya yang tegang menjadi tenang setelah mendengar ucapan kakeknya, kakeknya sudah past tidak akan salah. "Hehe tentu saja, kakak Chen pasti menang." ucapnya lagi, kali ini dengan senyum yang menawan.
Anak ini, sejak kapan dia begini. "Tapi tentu saja tidak semudah itu juga temanmu bisa selamat, Lei Songi ini adalah jenius, jangan lupakan itu."
"Kakek!" Qin Zhu khawatir lagi. tetua Qin juga tisak memedulikannya lagi, kali ini dia ingin melihat apa yang akan Ye Chen lakukan.
"Huh!"
Tiba-tiba, dari dalam kurungan api terdengar suara teredam, tepat setelah tebasan Lei Songi membelah kurungan api.
Tidak ada suara lagi ketika tebasan ini menembus kurungan api. Tapi sesaat kemudian, aura di dalam kurungan semakin meningkat, ini bahkan lebih kuat berkali lipat dari sebelum nya.
"Mau bermain api denganku? baiklah, akan kutunjukkan bagaimana caranya bermain dengan api."
Blamm
Geram karena serangannya gagal, Lei Songi mencoba mengumpulkan energi lagi. Dia sudah terlalu menganggap remeh Ye Chen, serangan pertama nya tadi termasuk serangan terkuatnya dan jarang sekali seseorang dapat lepas dan selamat dari serangan ini.
"Aku akui kau cukup hebat, tapi jangan senang dulu." Lei Songi kembali menyiapkan serangan berikutnya, kali ini dia berniat mengeluarkan semuanya.
Dia berdiri mantap, seluruh tubuhnya gemetar dan samar-samar ada uap panas keluar dari tubuhnya, gelombang panas kembali muncul di atas arena namun kali ini jauh lebih panas. Ketika uap panas itu semakin intens, puluhan bola api pun terbentuk di sekeliling tubuh Lei Songi.
"Teknik Bola Api Pelahap."
Seru Lei Songi. Seperti namanya, bola-bola api ini akan melahap dan menghanguskan apa pun yang ada di dekatnya. Lantai arena yang berada di dekat bola api langsung berubah menjadi abu, padahal itu belum menyentuhnya.
"Matilah!"
Kembali Lei Songi berseru sambil mengayunkan lengannya, semua bola api melesat cepat ke arah Ye Chen.
Ctarr! Ctarr!
Tepat ketika semua orang merasa Ye Chen kali akan tamat, di atas panggung arena terdengar suara seperti cambuk lalu bola-bola api itu pun meledak satu persatu.
Blarr! Blarr! Blarr!
Puluhan bola-bola api meledak, menciptakan getaran yang sangat kuat sampai terasa ke luar arena.
apa itu? kenapa bola-bola api itu meledak? apa energi spiritual Lei Songi tidak cukup kuat untuk mengontrolnya?
"Hah jangan-jangan dia cuma pamer saja." ucap salah satu penonton.
"Jangan meremehkannya, aku yakin kau pun tidak sanggup menahannya, kau pasti berubah menjadi abu jika satu bola saja mendarat di tubuhmu." sahut yang lain.
Bahkan tetua Qin Lei juga sedikit bingung ketika bola-bola api itu meledak, barulah setelah memusatkan inderanya, dia melihat sebuah tali atau tepatnya cambuk api yang terus bergerak cepat memukul dan menghancurkan bola api. Satu cambukan sudah cukup.
Masih ada bola-bola api lagi, yakni yang mengelilingi dan terus berputar di sekitar Lei Songi, ini juga berfungsi sebagai perisai tubuhnya.
"Apakah itu cambuk api?"
Kini cambuk api di tangan Ye Chen terulur di lantai arena, cambuk yang murni terbuat dari benar-benar membuat semua mata yang melihatnya bergidik kagum. Bagian tengah cambuk putih bersih dan diluarnya api merah menyala lembut.
"Sudah kukatakan, jangan bermain api denganku. Sekarang giliranku." kata Ye Chen dengan senyum lembut.
Ctarr! Blarr!
Ctarr! Blarr!
Ye Chen kembali menghancurkan bola-bola api di sekitar tubuh Lei Songi. Awalnya Lei Songi mencibir namun wajahnya memucat ketika satu persatu bola-bola api itu meledak dan hancur.
Getarannya saja terasa sampai keluar arena apalagi dia yang berada sangat dekat. Setiap satu bola api meledak, tubuh Lei Songi pasti bergetar dan ada sedikit darah mengalir di sudut bibirnya.
Sampai bola-bola api itu habis meledak, Lei Songi sudah sangat payah. Dia memuntahkan segumpal darah.
Melihat keadaan Lei Songi, Ye Chen bukannya berhenti tapi melanjutkan cambukannya dan kali ini sasarannya adalah tubuh Lei Songi.
Raungan kesakitan menggema keras.