Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Pertemuan Para Iblis


Ye Chen dan Giro kembali ke dimensi tempat dulu bertemu dengan raja Iblis Mema, kali ini mereka ingin menghadiri pertemuan para Iblis yang dahulu diundur karena kematian raja Iblis Mema.


"Tuan, semua sudah terpasang. Apa anda yakin ingin menghadapi semua Iblis nanti?"


"Tidak, kau tau aku tak memiliki dendam ini lagipula aku tak dengan dendam mendendam, kau tau itu."


"Aku mengerti."


"Giro, aku tau kenapa kau berpikir begitu dan aku juga tau maksud pertanyaanmu," Ye Chen terdiam sejenak, setelah menarik nafas panjang, Ia kembali melanjutkan perkataannya. "Aku tidak memusuhi ras Iblis secara pribadi, bagiku semua ras sama saja. Aku hanya memastikan tak ada yang mengganggu teman-teman dan orang terdekatku, itu saja."


"Maaf meragukan anda tuan."


"Tidak masalah, dan satu lagi. Aku akan memastikan sosok yang disebut pangeran kegelapan itu."


Keesokan harinya, para undangan mulai hadir, hampir seratusan Iblis yang datang di pertemuan kali itu. "Giro, apa kau mengenal beberapa dari mereka?"


"Aku tidak yakin tuan, mungkin mereka hanya wakil saja." jawab Giro.


Pertemuan yang seharusnya dipimpin oleh Raja Iblis Mema itu akhirnya dimulai dan dipimpin oleh seorang yang menamakan dirinya sebagai utusan. Hal ini semakin menguatkan dugaan tamu undangan kalau raja Iblis Mema sudah tewas.


"Aku Sirio, karena Iblis Mema tidak bisa hadir maka akulah yang akan menggantikannya. Perlu kalian ketahui bahwa aku dan Iblis Mema lah yang merencanakan pertemuan ini." Sirio mulai.


Tiba-tiba dari bangku depan seseorang berkata, "Cukup basa-basinya, katakan saja apa tujuanmu."


Sirio tersenyum, Ia mengerti Ia harus mengambil hati para tamu dan berbicara dengan lembut dan sopan. "Sebelumnya aku ingin bertanya terlebih dahulu, apakah kalian tidak bosan hidup dalam kegelapan?"


Para undangan saling tatap, memang ada rasa itu di dalam hati mereka tapi tidak semua merasakan hal yang sama. Bagi sebagian ini biasa saja, toh hidup mereka selama ini baik-baik saja dan tidak ada masalah dalam kehidupan sehari-hari.


Sirio tersenyum melihat reaksi ini, tidak masalah jika ada yang tidak setuju, pikirnya.


"Akupun merasakan hal yang sama dan sudah saatnya bagi kita, ras Iblis untuk bangkit. Aku akan memimpin kalian semua menguasai seluruh alam."


Melihat Sirio begitu yakin dengan ucapannya, beberapa undangan merasa sangsi, "Cih memangnya kau siapa? akau juga bukan yang terkuat di antara kami."


"Ya betul, aku bahkan bisa membuatmu menjadi abu dalam sekali serangan." ucap yang lain.


Sirio tidak marah mendengar ucapan yang tajam ini, Ia malah tersenyum dan melanjutkan pidatonya. "Aku yakin kalian pasti sudah mengetahui bahwa era lima Iblis sudah habis dan sekarang giliran kita untuk maju." katanya dengan lantang dan terus mengucapkan kata-kata provokatif.


"Hehe kau tau kalian meragukan kemampuanku, tapi ketahuilah, sang pangeran telah turun."


Ucapan terakhirnya ini Sirio ucapkan sambil mengeluarkan sebuah kabut hitam tipis yang lama-kelamaan berubah menjadi sebuah bayangan yang sangat kuat dan mendominasi.


"Ini...


Para undangan terpana, sebagian merasa ketakutan dengan aura dari bayangan hitam ini. Iblis-Iblis ini tentu saja tau siapa di balik kekuatan ini.


"Tuan, aura ini sangat kuat, aku yakin ini aura pangeran kegelapan." Giro berbisik kepada Ye Chen di bangku undangan.


"Apa kau yakin?"


"Aku belum pernah bertemu dengannya tapi ini sangat kuat." kata Giro lagi. Ye Chen sendiri bukan tidak tau, Ia mengenal aura ini dari artefak pangeran kegelapan. Ia hanya diam saja, ingin mendengar lebih jauh tentang rencana pertemuan ini.


"Betul aku juga setuju dan ingin tau seberapa banyak orangmu."


Sahut yang lain, karena akan percuma saja kalau tidak mempunyai pasukan.


Sirio kembali tersenyum, "Tenang saja semua telah siap tapi tentu saja kami juga butuh bantuan dari kalian sebagai rekan."


"Asal kalian tau, aku hanya utusan sekaligus yang akan memimpin nanti. Di belakangku masih banyak lagi yang kuat, bahkan lima Iblis saja tidak akan sanggup jika berhadapan dengan mereka."


Para undangan masih merasa tidak puas, "Apanya yang lima Iblis, aku pun tidak takut."


Ucapannya ini disambung dengan ucapan lain yang menyatakan tidak takut dengan lima Iblis dan sanggup membuat lima Iblis lari jika bertemu mereka.


Giro yang mendengar ini tertawa kecil, "Tuan, lihat mereka ini. Kalau saja lima Iblis masih ada, aku yakin mereka akan lari bersembunyi ketika melihatnya."


Ye Chen juga tertawa mendengar kata-kata dari para undangan itu.


"Saudara-saudara, aku akan mengatakan rencana awal kita. Di gurun sebelah timur, aku sudah menyiapkan hadiah istimewa untuk Akademi Langit, aku yakin rencana ini akan berhasil menyingkirkan sebagain musuh kita."


Akademi Langit memang menjadi target pertama dari Sirio, karena jika berhasil menghancurkan atau melemahkan akademi, maka separuh rencananya pasti akan berhasil dilaksanakan.


"Sirio, bicara memang mudah tapi tanpa bukti, semua yang kau ucapkan tidak ada artinya."


"Hahaha aku tau kalian pasti menanyakannya." kata Sirio. "Perhatikan baik-baik." lanjut Sirio lagi, Ia lalu mengibaskan tangannya, melempar sebuah kristal kecil ke udara.


Kristal kecil ini bergetar sebentar lalu diam dan mengeluarkan suara dengungan, tak lama setelah itu muncul sebuah bayangan seperti proyeksi keadaan gurun.


Terlihat di sana, banyak sekali pasukan Iblis yang bersembunyi, ditambah dengan makhluk terkutuk yang sedang bersiap menunggu sesuatu. Lalu muncul bayangan lain, yakni murid-murid Akademi Langit yang sedang mencari sesuatu yang kemudian diserang dan dibunuh begitu saja.


Ini belum seberapa, karena setelah itu muncul lagi sekelompok orang yang berpakaian seragam yang disergap dan dibantai habis.


"Tuan......


Giro sedikit terkejut ketika melihat reaksi Ye Chen pemandangan di atas, yang sekarang terlihat bukan lagi pertarungan skala kecil tapi sudah memasuki skala yang lebih besar. Tampak pasukan yang lebih besar sedang bertempur di sana. Ye Chen mengenali sebagian dari mereka adalah para penyidik akademi yang bertempur di antara pasukan berseragam.


"Giro, darimana pasukan berseragam itu?"


"Sepertinya itu pasukan langit tuan. Yang aku tau, akademi langit mempunyai ribuan pasukan seperti ini"


"Tunggu, bukankah itu... Puteri Jia? Yungtao...?"


Giro juga melihat ini, di sana terlihat puteri Jia sedang bertarung mati-matian bersama Lin Yungtao. Beberapa detik kemudian puteri Jia terkulai, detik berikutnua terlihat Lin Yungtao berlari sambil memanggulnya. Tubuh kedua orang penuh luka


Pemandangan ini hanya terlihat sekilas saja karena proyeksi itu hanya menampilkan garis besar dari pertempuran itu.


"Giro, aku akan meledakkan artefak, bersiaplah, aku harus menolong adik Jia."


Ye Chen sangat khawatir dan ingin segera menolong puteri Jia tapi sebelum itu Ia ingin memberi hadiah menarik untuk pertemuan ini.