
Area pertempuran yang semula hanya melawan siluman Kadal kini menjadi lebih lebih luas dengan datangnya kawanan Iblis, sinyal-sinyal permintaan bantuan tak pernah berhenti melesat ke langit hingga hampir semua murid akademi mendatangi tempat itu.
Kunlao dan kelompoknya juga terpaksa bergabung karena kawanan Iblis itu berpencar dan menyerang siapa saja yang mereka temui. Tapi alasan sebenarnya adalah karena adanya puteri Jia, Ia ingin memberikan kesan baik pada puteri itu.
"Puteri kau pergilah, biar aku yang membuka jalan." Kunlao mendekati puteri Jia, mencoba memberinya jalan.
"Tidak perlu, kau bantulah yang lain."
Kunlao tidak mungkin melakukan apa yang puteri Jia katakan, sebisa mungkin Ia akan selalu berada di sampingnya.
Di luar dimensi.
Para tetua mulai panik melihat banyak murid yang keluar dan terluka. Apalagi saat murid-murid itu menceritakan munculnya kawanan Iblis yang menyerang para murid.
"Cepat, bentuk tim." teriak salah satu tetua.
"Tetua maaf, hubungan dengan dimensi terputus. Tak ada yang bisa masuk lagi, kita hanya bisa menunggu semuanya kembali." orang yang bertugas menjaga pintu masuk melapor.
"Sial, segera kirim sinyal. Panggil semua murid keluar." kata tetua itu lagi.
Divisi formasi lalu sibuk membuat lingkaran formasi dan mulai melakukan tugasnya. Divisi ini bertugas membuka kunci token yang dipegang para murid. Saat kunci itu terbuka, token-token itu akan mengeluarkan cahaya, artinya semuanya harus keluar sekarang juga.
"Aku kira kau tidak datang." ucap Lin Yungtao yang melihat Ye Chen berdiri di sampingnya.
"Bukankah kau bilang aku ini orang baik? tentu saja aku datang menolong." kata Ye Chen yang terus mencari sosok Yue, tapi yang dilihatnya justru puteri Jia.
"Adik Jia? dia juga di sini?"
"Kami datang bersama, aku melihat sinyal dari tempatmu dan mengikutinya tadi."
"Kau tetap terlihat cantik." gumam Ye Chen tanpa sadar."
"Apa? cantik...?"
"Eh? itu, bukan, bukan itu. Maksudku siiapa pria di sampingnya itu?" tanya Ye Chen.
"Oh aku pikir tadi menghayal. Namanya Kunlao, anak menteri Kun."
"Tak kusangka Ia ikut membantu juga, tadi lihat dia dan kelompoknya hanya melihat pertempuran saja."
Lin Yungtao tidak heran dengan ucapan Ye Chen, Ia sangat mengenal Kunlao yang selalu bertindak atas dasar keuntungan pribadi.
"Lihat, aku akan mengerjainya." kata Ye Chen sambil tersenyum. Ia merentangkan tangannya, menciptakan sebuah busur besar lengkap dengan anak panah Qi dan...
Syuut...
Anak panah kecil melesat cepat, tepat mengenai bokong Kunlao. Ye Chen hanya mau mengerjainya bukan bermaksud membunuhnya, rasanya seperti ditepok, bedanya, tepokan di bokongnya ini membuatnya menggigil.
"Siapa!?" teriak Kunlao gusar. Matanya menatap nanar ke sekelilingnya.
"Hehe, rasakan kau sekarang." Ye Chen terkekeh kecil dan mulai menarik kembali busurnya dan terus menembak Kunlao,
"Aku akan kesana, Giro cari dan lindungi adik Yue.
Ye Chen melesat ke arah puteri Jia tanpa menunggu persetujuan Lin Yungtao yang masih membayangkan tehnik memanah Ye Chen tadi. " Teknik yang sama dengan dipakai puteri Jia. "Ternyata tuan Chen yang mengajari puteri Jia, aku juga harus mempelajarinya." ucap Lin Yungtao dalam hati.
Murid-murid yang tersisa tinggal sedikit, semakin banyak yang berhasil keluar meski tak sedikit juga yang tewas. Sementara Yue yang termasuk kelompok murid luar yang datang membantu kelompok pertama tadi masih belum juga mau untuk keluar.
"Nona Yue, aku datang membantu." Giro yang datang.
"Giro! senang akhirnya kau datang. Dimana kakak Chen?"
"Tapi bagaimana dengan kakak Chen."
Giro terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa Ye Chen membantu yang terluka terlebih dahulu dan setelah itu akan segera keluar juga. Yue pun percaya kemudian menghancurkan token untuk keluar dari dimensi itu.
Blarr...
Blarr...
Groaaa...
Iblis yang mulai kehilangan lawannya, mengalihkan sasaran mereka ke pada Ye Chen dan puteri Jia. Beberapa kali Ye Chen terpaksa menahan serangan para Iblis dengan balas memukul.
"Adik Jia, ayo kita keluar." tempat ini sangat berbahaya." bujuk Ye Chen tiada henti.
"Oh kau masih ingat denganku juga? pergilah, atau kau ajak saja teman wanitamu itu."
"Taman wanita?" Ye Chen bingung.
"Terserahlah, aku juga bingung. Yang pasti aku belum mau keluar, aku masih ingin membunuh." puteri Jia benar-benar dingin kali ini.
"Siapa kau!? apa kau tuli? puteri Jia belum mau pergi." Kunlao yang hatinya panas menegur Ye Chen.
'"Aku tak bicara denganmu, diamlah."
Dibentak begitu, membuat Kunlao naik pitam apalagi itu terjadi di depan puteri Jia. "Kau! berani sekali kau berkata kasar padaku."
"Cerewet." Ye Chen yang dari awal tidak suka pada Kunlao ini jadi kesal sendiri. Ia dengan cepat menangkap kerah baju Kunlao dan melemparnya ke tengah-tengah kawanan Iblis.
"Awas kau, tunggu pembalasanku." Kunlao dengan terpaksa menghancurkan tokennya. Bunuh diri namanya kalau sampai nekat menghadapi kawanan Iblis.
"Adik Jia... kau juga, keluarlah sebelum terlambat." bujuk Ye Chen lagi.
"Saudara Chen, puteri Jia ayo sekarang, sebelum terlambat. Lin Yungtao yang baru saja datang dan langsung menyuruh Ye Chen dan puteri Jia untuk pergi.
"Sudahlah saudara Lin, kalau adik Jia tidak mau pergi, kita tinggalkan saja biar dia sendiri di dimensi ini bersama para Iblis, hiii..." kata Ye Chen sambil mengedipkan sebelah matanya pada Lin Yungtao.
"Saudara Chen, jangan begitu. Iblis-iblis itu sangat kasar, nanti kalau puteri Jia tertangkap bagaimana?"
"Habis mau bagaimana lagi? aku saja takut dengan mereka. kau tau? aku pernah mendengar kalau para Iblis sangat suka dengan para gadis." adik Jia aku pergi dulu, Ye Chen bergerak seolah ingin menghancurkan tokennya.
Sementara puteri Jia yang mendengar ini mulai pucat, "Kakak Chen... tunggu aku." Ia bergidik membayangkan apa yang akan terjadi kalau dirinya benar-benar tertangkap oleh Iblis-iblis itu.
"Ayo cepatlah, lihat mereka semakin banyak yang datang." kata Ye Chen.
"Tidak, sebelum kau berjanji akan memberiku hadiah."
Ye Chen mengiyakan saja ucapan puteri Jia. "Aku mau belatimu." kata puteri Jia sambil tersenyum.
"Satu lagi, kau harus mengajariku menggunakan belati."
Ye Chen terdiam, tidak mungkin Ia memberikan belati itu padanya. "itu... adik Jia, bukan aku tidak mau, tapi... atau begini saja, akan kucarikan yang lain bagaimana?"
Puteri Jia juga tau, sebenarnya Ia tidak benar-benar menginginkan belati Ye Chen, "Baiklah, aku tunggu diluar."
"Saudara Chen, bagaimana se...
Ye Chen memotong ucapan Lin Yungtao. "Jangan di sini, ikut aku" Ye Chen melesat cepat kembali ke tempat dimana Ia menemukan baru hitam diikuti Lin Yungtao.