
Penduduk desa Ye tidak terlalu khawatir jika terisolasi, karena di desa semua kebutuhan bisa terpenuhi dengan baik. Yang jadi masalahnya adalah sampai kapan mereka akan terkurung, cepat atau lambat sumber makanan itu akan habis juga.
"Jangan sia-siakan waktu yang kita punya, aku berhasil membuat beberapa pil Suci." kata penatua Xiao lalu membagikan pil Suci kepada semua orang. Yang berada di tingkat Langit puncak dan hampir menerobos namun macet menjadi prioritas utama sementara yang lain harus menunggu.
"Tenang saja, kami akan membuat lebih banyak lagi. Sumber daya kita, kata ayah, masih cukup banyak untuk membuat pil Suci." kata Xiao Yun lalu pergi bersama kelompok alkemis menyusul penatua Xiao yang telah lebih dulu pergi.
Semangat para kultivator desa Ye kembali bangkit. Meningkatkan kekuatan selama tersegel dari luar adalah jalan terbaik.
...
Ye Chen yang saat ini sudah di tingkat Suci puncak memulai kembali latihannya, menurut guru Baji, Ia setidaknya harus di tingkat Surgawi tahap menengah jika ingin menghadapi kaki tangan raja Iblis. Dan di tingkat Dewa jika ingin menghadapi raja Iblis.
"Terdengar mustahil," kata guru Baji suatu hari. "Tapi tidak ada yang tidak mungkin, kau hanya belum mengeluarkan semua potensi milikmu." lanjutnya lagi. Guru Baji tidak asal bicara saja, Ia dapat melihat jauh ke dalam diri Ye Chen, entah mengapa Ia merasa ada sesuatu dalam diri Ye Chen yang tidak bisa ditembus oleh penglihatannya.
"Chen'er, aku ingin bertanya, apa kau serius ingin membalaskan dendam orang tuamu?"
Ye Chen memandang guru Baji lalu berkata setelah menghela nafas, "Menurutku dendam masa lalu tidak harus di bayar. Bagiku, masa lalu biarlah menjadi masa lalu, tak harus mengorek-ngorek lagi luka lama dan dendam pasti akan melahirkan dendam yang baru."
"Lalu untuk apa kau ingin menjadi kuat?" tanya guru Baji lagi.
"Untuk menyingkirkan musuh-musuhku dan melindungi orang-orang terdekatku."
"Tapi kau akan menjadi durhaka kalau tidak membalaskan dendam orang tuamu."
Ye Chen terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Mungkin apa yang guru Baji katakan ada benarnya tapi untuk apa Ia membalas dendam? untuk membunuh dan melampiaskan amarah, tapi setelah itu lalu bagaimana lagi? akankah Ia puas? apakah dengan begitu orang tuanya akan tenang di sana? atau malah kecewa karena puteranya tidak seperti mereka yang Ia tau sangat baik?
Ini seperti Ye Chen berada dalam suatu tempat yang sangat sulit untuk keluar. Ia memutar kembali kenangannya, dari kecil sampai saat Ia kembali ke tempat asalnya. Ia berhenti saat mengingat kenangan bersama gurunya, wejangan dan nasihat membekas di pikirannya.
Menurutnya, sang guru sangat kuat tapi tegas dan berhati lembut. Ye Chen memalingkan mukanya ke arah guru Baji. "Guru Baji, orang tuaku pasti kecewa kalau aku membalas dendam, pasti tidak sedikit darah yang tumpah kalau aku melakukannya." ucapnya dengan mantap.
"Tapi tetap saja kau akan membunuh, sama saja, dan dari yang kulihat, kau tidak akan pernah menaruh belas kasihan pada musuhmu, benar begitu?"
Ye Chen menjawab dengan tegas, "Tentu saja, setiap orang yang berani menyinggungku pasti kubelah, akan kupastikan Ia tewas dengan mataku sendiri."
"Lalu apa bedanya kau menghabisi pembunuh ayahmu dengan kau membunuh musuhmu?"
"Kalau mereka mengganggu orangku atau menyinggungku, akan kupastikan menghabisi mereka tapi bukan karena dendam."
"Guru Baji, menurutku dendam itu akan merusak hati seseorang. Orang yang dipenuhi dendam tak akan tenang dan setelah berhasil, dia tak akan mendapatkan apa-apa selain rasa puas yang belum tentu bisa membuatnya tenang." sambung Ye Chen lagi.
Guru Baji kali ini terdiam, "Chen'er dengarkan baik-baik, setelah ini kau boleh berbuat menurut keinginanmu."
"Semua itu berhubungan denganmu, mungkin sekarang dunia akan mulai kacau lagi karena munculnya kunci portal yang kau pegang. Mereka pasti mengikuti jejak dari kunci portal itu."
Ye Chen terhenyak, jadi semua ini disebabkan oleh kunci portal yang Ia pegang? dan sekarang mungkin akan terulang lagi pertempuran besar seperti dulu?
"Sudah kukatakan, aku akan membalas semuanya berkali lipat jika ada yang menyentuhku dan orang-orangku." ucap Ye Chen lagi dengan yakin.
"Kau seperti ibumu." kata guru Baji singkat.
Sementara Ye Chen yang mendengar ini memberi perhatian lebih, sangat jarang guru Baji menyinggung ibunya.
"Ibumu sangat lembut, tidak pernah menyimpan dendam pada orang lain. Aku sendiri belum pernah bertemu yang sebaik ibumu."
"Apa kau tau? ibumu bukan berasal dari bangsa kita, ibumu berasal dari ras peri. Kurasa sikap rendah hatimu menurun dari ibumu dan tentu saja darah ras Iblis mengalir juga dalam darahmu, membuatmu begitu sadis terhadap musuhmu."
Sebuah rahasia terbuka lagi, "Jadi ibu masih punya keluarga? tapi dimana ras peri tinggal?" tanya Ye Chen, saat ini Ia berniat mencari keluarganya yang lain.
"Lupakan saja, kita, ras Iblis tidak pernah berteman baik dengan ras Peri. Ibumu sudah tidak diakui lagi dan diusir dari alam Peri."
Ye Chen tak terima, Ibunya pasti menderita selama ini. Dibuang dan tidak diakui lagi di tanah kelahirannya sendiri pasti sangat menyakitkan, rahasia ini menggetarkan batin Ye Chen.
"Ibumu memilih jalannya sendiri dan itu adalah konsekuensi yang harus Ia terima. Sekarang lebih baik kau kembali fokus pada latihanmu. Jangan cepat mati, aku tak mau putera satu-satunya dari sahabatku tewas."
"Terima kasih." ucap Ye Chen tulus. Hatinya merasa tidak tenang. Tidak menutup kemungkinan orang-orang yang sudah dia anggap keluarga berada dalam bahaya. Ditambah berita lain tentang Ibunya.
"Ikut aku, kita akan melakukan sesuatu sebelum kau pergi." Ye Chen mengikuti guru Baji, mereka pergi ke tempat Baojing biasa berlatih, di sebuah taman yang tidak begitu luas.
"Chen'er, aku meminta kau menyerangku dengan kekuatan penuh, gunakan tehnik yang paling kau kuasai."
Ye Chen hanya mengangguk, debaran dalam hatinya masih belum hilang.
"Ingat, lepaskan saja semua."
Untuk pertama kalinya Ye Chen berbicara, "Tapi aku tak bisa memukul orang dekatku, apalagi itu adalah guru Baji."
"Hais, kau ini. Bagaimana aku bisa tau sampai dimana kekuatanmu? atau begini saja, anggap aku sebagai musuhmu, orang yang membunuh ayahmu dan semua yang kau kenal."
Ye Chen sedikit bingung, "Anggap aku orang yang membuat Ibumu menderita." kata guru Baji lagi.
Ye Chen terdiam, batinnya yang dari tadi berdebar kini bergejolak. Aliran Qi dari dantian bergerak cepat, membawa energi yang sangat besar.