
Momentum yang ditunggu Ye Chen pun akhirnya tiba, Du Yang terlalu sibuk mengejar sehingga pertahanan dirinya sedikit terabaikan namun, celah kecil ini sudah sudah cukup.
Brug!
Tanpa ragu sedikitpun Ye Chen meninju perut bagian samping Du Yang dengan segenap kekuatan nya. Pada tingkatan nya yang sekarang, Ye Chen tau Du Yang tidak akan langsung tewas hanya dengan satu pukulan.
Du Yang jatuh begitu saja di atas arena, meski tidak tewas namun, keadaan nya sangat buruk. Seluruh rusuk di bagian kirinya patah.
"Kau, kau, aah!"
Tingkat Dewa sangat kuat, satu pukulan ini saja bukanlah apa-apa.
Mungkin dia bisa bertahan dan menyerang kembali kalau diberikan sedikit waktu untuk istirahat. Hanya saja lawannya kali ini adalah Ye Chen yang tidak mungkin membiarkan nya lepas begitu saja.
Kali ini menggunakan tapaknya ke dada Du Yang, dia hanya berteriak kesakitan. Bukan apa-apa, tapak ini berbeda dengan pukulan yang di terima nya sebelumnya. Tapak ini bukan hanya menyerang dan meremukkan dada nya saja tapi juga ikut melemahkan jiwanya.
Penonton diluar arena kembali terdiam, siapa orang ini? bahkan kepala keluarga Du pun bukanlah lawannya.
Sangat kuat, meskipun tingkat Suci dan tingkat Dewa hanya berjarak satu tingkatan saja tapi kesenjangan ini sangat lah jauh. hanya jenius dari jenius yang bisa melakukan nya.
Tatapan kagum dan takut mulai terlihat di antara para penonton, terutama pada para generasi muda yang nantinya akan ikut seleksi. Bahkan sudah ada yang mundur, lebih baik menjadi penonton daripada harus melawan Ye Chen.
Senyuman kecil kembali terlihat tatkala Ye Chen mengintip isi cincin penyimpanan Du Yang.
Mau bagaimana lagi, saat ini dia sangat miskin. Tak ada satu pun sumber daya di cincinnya. Dia harus cepat mengembalikan esensi darahnya yang terkuras habis di lorong hitam.
Terdengar erangan di bawah kaki Ye Chen, Du Yang yang sudah sedikit mengumpulkan kekuatannya lalu berkata mengancam Ye Chen, memperingatkannya akan kekuatan keluarga Du.
"Berisik!"
Seru Ye Chen seraya menendang Du Yang sampai menabrak pembatas arena namun, tubuhnya berhenti beberapa senti sebelum menabrak pembatas itu.
Bersamaan dengan itu, sesosok bayangan yang mula-mula kabur perlahan terbentuk dan berdiri tepat di depan Ye Chen, memandangnya dengan marah, ada sedikit aura membunuh dari tatapannya ini.
Patriark Du! benar, dia juga datang. Apakah dia juga akan menantang duel?
"Apa patriark Du akan membalas dendam?"
"Kawan, pelankan suaramu kalau tidak mau celaka."
Berbagai komentar pun kembali terdengar, ini sungguh di luar dugaan. Mulanya jenius keluarga Du menantang duel lalu dikalahkan dengan telak lalu muncul kepala keluarga Du dan sekarang patriark Su juga muncul.
"Tuan Yun...?"
Di gedung kota, tuan kota yang lagi-lagi hendak ke arena saat melihat kehadiran patriark Du ditahan oleh Yun Shan.
"Tunggu sebentar lagi, dia tidak akan berani berbuat macam-macam."
Pernyataan Yun Shan memang benar, betapa pun marahnya patriark Du, dia tidak mungkin begitu gila untuk membunuh Ye Chen di atas arena. Itu sama saja tidak menghargainya karena membunuh calon peserta kompetisi.
Masih banyak trik di balik bajunya.
"Kau! berani sekali kau melukai anggota keluargaku, apa kau sudah bosan hidup ha?"
"Hahaha pak tua, ini adalah arena duel. Lalu apa harus aku yang terkuras? Salahkan saja ayah dan anak yang bodoh itu karena tidak becus."
Gawat! Ye Chen ini benar-benar berani, itu adalah patriark Du, pemimpin keluarga Du.
"Kau sangat sombong anak muda. Aku tidak akan membunuhmu, tapi aku juga tidak akan membiarkanmu."
Patriark Du tentu saja harus membalas, memang terlihat seperti dia menindas junior tapi harga diri dan kemuliaan keluarga Du tidak boleh tercoreng.
"Kalau anak itu bisa menahan serangannya, segera umumkan kalau dia yang akan mewakili kota Siang."
"Tuan Yun... "
"Apa kamu kira masih ada yang akan berani bertarung dengannya lagi? Ini juga untuk melindunginya kalau patriark Du kelepasan tangan."
Yun Shan sudah membuat keputusan. Jujur saja, tidak ada yang menarik minatnya lagi. Bahkan di seluruh kota di bawah sekte Pengobatan Ilahi tidak ada yang cocok dengan Ye Chen.
Sikap tenang nya saat berhadapan dengan seseorang yang jauh lebih kuat darinya bukan hal yang bisa diperoleh secara instan, dia yakin Ye Chen sudah banyak melalui pertarungan.
"Lakukan sesukamu pak tua."
Sahut Ye Chen tanpa ragu sedikit pun. Momentumnya perlahan naik, kali ini lawannya ada di tingkat Dewa tahap tinggi, kalau tidak mengerahkan kekuatannya mungkin dia akan celaka.
Ada sedikit penyesalan di hati Ye Chen, yakni darah esensialnya tidak cukup untuk bertarung habis-habisan.
Di sisi lain, patriark Du yang mendengar ucapan Ye Chen kini tidak ragu lagi. Keluarga Du tidak boleh dipermalukan.
Seluruh arena saat ini bergetar kuat, aura mencekam yang sarat akan nafsu membunuh memenuhi arena.Tekanan ini sangat jelas terasa dan membuat tidak nyaman, penonton mundur lagi.
Awan hitam bergerak perlahan lalu berkumpul di atas arena duel, lapat-lapat bisa terdengar suara meraung dari balik awan ini.
Patriark Du ini tidak main-main, meskipun sebelumnya telah mengatakan tidak akan membunuh Ye Chen tapi serangannya ini bisa sangat merusak.
Ya, ini adalah serangan jiwa milik patriark Du. Jika serangan ini mengenai Ye Chen maka bisa dipastikan Ye Chen tidak akan bisa mengikuti turnamen lagi. Tampaknya patriark Du sudah tidak mempertimbangkan lagi perihal Ye Chen yang akan menjadi wakil kota Siang.
"Hancurkan!"
Seru patriark Du, angin dingin bertiup setelah teriakan ini. Sementara Ye Chen yang masih tetap tenang saat ini tersenyum kecil.
Tentu saja dia tau dan tidak takut dengan serangan ini. Bisa di bilang dia cukup mengenali kalau ini adalah serangan jiwa.
Ye Chen yang akrab dengan bentuk teknik jiwa tidak mengambil langkah apa pun, dia hanya berdiri santai namun pandangan orang lain, Ye Chen terlihat sudah pasrah dengan kematiannya sendiri.