Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Rumah Makan Pelangi


Sehari sebelum dibukanya portal dimensi.


"Tuan muda," Sun Li melangkah lebar menemui Ye Chen. "aku sudah menemukan markas sekte Racun Darah." Ucapnya.


"Oh ya... dimana tempat itu?"


"Namanya rumah makan Pelangi, pantas sangat susah ditemukan." Kata Sun Li.


Rumah makan Pelangi adalah sebuah rumah pelesir berkedok rumah makan.


Sekte Racun Darah mengelola tempat ini dengan sangat rapih, orang yang baru masuk tidak akan mungkin menemukan hiburan lain selain makanan. Dengan kata lain, tanpa rekomendasi, tempat ini hanyalah rumah makan biasa.


Letaknya yang agak jauh dari pusat kota membuat tempat ini tidak begitu mencolok.


Ye Chen lalu berkata akan pergi sendiri ke rumah makan Pelangi, yang lain tidak usah ikut masuk.


"Kita fokus untuk masuk ke dimensi kekaisaran nanti, jangan buang-buang tenaga untuk saat ini."


Yang lain mengangguk dan meninggalkan Ye Chen sendiri, yang bersiap pergi ke rumah makan Pelangi.


"Tuan muda, saya sudah selesai," Xiao Yun datang. "Coba anda periksa dulu." Ucapnya menyerahkan sebotol pil yang berisi serbuk herbal.


Melihat Xiao Yun bingung dengan permintaan ini, Ye Chen kemudian mengatakan akan memberikan serbuk herbal ini pada orang-orang sekte Racun Darah.


"Bukankah mereka sangat suka bermain racun? nah ini adalah serbuk Racun Darah dengan dosis tinggi, akan kubuat mereka merasakan racunnya sendiri hehe..." Senyum kecil menghias di bibir Ye Chen saat mengatakan ini.


Beberapa kali berurusan dengan racun darah membuat Ye Chen sangat mengenal racun ini. Kali ini Ia membuatnya jauh lebih kuat dari yang dibuat sekte Racun Darah sendiri.


"Apa kau mau ikut nona Xiao? ayo kita lihat pertunjukan menarik.''


"Aku masih harus membuat lebih banyak lagi, sumber daya kita juga sudah habis. Kau perlu membelinya."


Wuss...


Ye Chen mengeluarkan tungku Yin Yang nya untuk dipakai Xiao Yun.


"Pakai ini, buat juga penawar racun yang lain untuk kita pakai besok."


"Tapi ini...


"Sudah, pakai saja. lagian kita tidak punya tungku yang lain. Aku tidak apa yang kita hadapi besok, persediaan pilku juga hanya tinggal beberapa saja." Ucap Ye Chen, Xiao Yun hanya mengangguk.


Xiao Yun tidak tau pil apa yang ada di depannya, yang Ia tau tungku ini pasti tungku spesial. Auranya saja sudah sangat terasa.


Tuan muda memang penuh kejutan pikirnya.


Ye Chen kini sudah berada di pintu rumah makan, sebelumnya Xiao Yun memberikan pakaian mewah seperti saudagar kaya di kekaisaran.


Berkunjung ke tempat pelesir memang harus dengan penampilan yang meyakinkan, harus terlihat seperti pemuda kaya raya.


Xiao Yun benar-benar tau apa yang kubutuhkan pikir Ye Chen.


Pakaiannya halus selembut sutera berwarna biru gelap dengan garis-haris halus di pinggirannya. Rambutnya hanya di ikat sedikit di bagian belakang, bagian samping Ia biarkan begitu saja.


Berbadan tegap dengan mata hitamnya yang teduh membuat Ye Chen terlihat seperti tuan muda yang kaya, sangat serasi dengan pakaian yang Ia kenakan.


"Silahkan tuan, ini menu hidangan di tempat ini." Seorang pelayan datang menghampiri Ye Chen dan mempersilahkannya.


"Apa menu spesial di tempat ini?"


"Kami ada sup tulang dan iga bakar tuan... "


"Baik hidangkan saja, tiga porsi dengan teh." Pinta Ye Chen.


Hidangan tersedia, Ye Chen belum juga menyantap pesanannya.


"Apa ada yang kurang tuan?"


"Ah begitulah, jujur saja aku tidak terbiasa makan sendiri. Di kediamanku biasanya ada yang menemaniku." Ucap Ye Chen dengan tampang dibuat sedih.


"Sayang sekali tuan, di sini dilarang menemani tamu."


Take mau menyerahkan begitu saja, Ye Chen lalu mengeluarkan sepuluh keping emas dan meletakkannya di meja.


"Tolong carikan aku orang untuk menemaniku, tamu yang lain juga boleh, aku bisa membayar berapapun yang dia mau."


"Sayang sekali tuan, sungguh aku tidak bisa."


Ye tersenyum samar melihat pelayan yang terus saja menatap koin emas di atas meja.


"Kalau begitu terima kasih," sepuluh koin emas kembali diletakkan Ye Chen di atas meja. "Ambil ini, anggaplah kau sudah menemaniku."


Ye Chen sama sekali tidak menyentuh hidangan yang Ia pesan, Ia hanya menggelang sambil melangkah pelan keluar dari rumah makan.


Belum sampai keluar, sebuah suara memanggilnya kembali.


"Tuan muda, kenapa harus buru-buru pergi. Aku tidak mengatakan tidak bersedia mencarikan yang tuan inginkan."


Pelayan yang tadi melayani Ye Chen berjalan mendekat ditemani seorang wanita berpakaian hijau yang terlihat cantik.


Dengan wajah pura-pura bingung, Ye Chen memandang pelayan dan wanita di dekatnya bergantian. Seolah meminta penjelasan.


"Silahkan duduk dulu tuan," pinta si pelayan. "kenalkan ini nona Kim yang akan menemani tuan hari ini."


Memasang wajah senang layaknya seorang mata keranjang, Ye Chen tersenyum dan mengangguk puas di depan pelayan.


"Apakah masih ada lagi?" ucap Ye Chen berbisik pelan. "Yang ini seperti sayuran yang sudah matang saja, aku lebih suka sayuran setengah matang, atau kalau mungkin sayuran yang masih mentah."


Sepuluh koin emas berpindah ketangan pelayan yang hanya mengangguk.


"Karen tuan ingin memesan menu spesia kami, maka silahkan tuan naik ke lantai atas."Kata pelayan memimpin jalan menaiki tangga menuju lantai atas.


Rumah makan ini terdiri dari dua lantai, lantai " pertama di khususkan untuk pelanggan yang hanya memesan makanan sedangkan lantai dua diperuntukkan bagi pelanggan dengan menu spesial.


Ye Chen di bawa ke sebuah ruangan yang luas dan harum, di sudut ruangan, dibalik tirai Terdapat sebuah tempat tidur.


"Tiga sayuran mentah." Kata Ye Chen tanpa ragu yang disambut pelayan dengan senyum.


Ada untungnya juga membaca banyak buku, pikir Ye Chen.


"Apa kau yakin? ingat, jangan sampai terjadi kesalahan."


"Aku yakin, kalau ada yang ragu ayo kita pergi bersama."


"Sudahlah, dia bukan pertama kali menghadapi pelanggan baru"


Suara perdebatan kecil di luar pintu ruangan terdengar jelas di telinga Ye Chen yang hanya tersenyum senang pancingannya berhasil.


Pintu ruangan di ketuk. Pelayan masuk ditemani tiga wanita muda yang terlihat takut-takut.


Ye Chen yang menyambut kedatangan mereka tidak kaget dengan sikap para wanita muda ini, Ia kemudian memesan hidangan dalam jumlah yang banyak.


"Duduklah," ajak Ye Chen kepada tiga wanita muda yang bertugas menemaninya. "Jangan takut, aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh." Kata Ye Chen lagi ketika melihat mereka ragu.


Wuss...


Aray tipis terpasang menutupi mereka tepat ketika pelayan yang menghidangkan pesanan Ye Chen pergi.


Mulanya Ye Chen sangat sulit meyakinkan para wanita muda ini untuk bercerita, tapi akhirnya mereka percaya setelah berkali-kali dijanjikan akan diselamatkan.


Dari keterangan mereka, Ye Chen mengetahui jumlah tawanan dan tempat mereka disekap. Namun sayang, keterangan mengenai jumlah anggota sekte yang berada di markas ini tidak dapat Ia ketahui.


"Setelah ini aku akan pergi, jaga rahasia percakapan kita. Jangan beritahu siapapun termasuk teman-temanmu, apa kau mengerti?" Tanya Ye Chen.


"Mengerti tuan, tapi...," tampak ragu. "Apakah tuan tidak ingin..." Kali ini salah satu wanita yang duduk paling dekat dengan Ye Chen menggeser duduknya lebih rapat dan menyingkap sedikit pakaian bawahnya.


Ye Chen tak tau harus berkata apa, ini kali pertama Ia melihat paha seorang wanita dengan sangat dekat.


Waktu bersama Xiao Yun, Ia tidak sempat bereaksi karena kejadiannya begitu cepat dan tidak Ia sangka sedangkan sekarang ini berbeda, secara sadar ada di depan matanya.


Lama Ye Chen menatap wajah mereka. Bukannya berhenti, dua wanita yang lain malah ikut menyibak pakaiannya.


"Ap... apa yang kalian lakukan ini? hais..."


"Bukankah tuan menginginkannya...?" Kata mereka makin merapatkan tubuhnya.


"Tuan, kalau anda tidak menyentuh kami, mereka akan menyiksa kami dan tidak akan diberi makan selama berhari-hari jika tamu yang kami layani tidak puas." Ucap salah saru wanita sambil menangis.


"Apa kalian sering melakukan ini?" Tanya Ye Chen.


"Ini yang pertama bagi kami bertiga."


Semua tawanan wanita wajib melayani tamu, pernah ada yang disiksa karena tidak mau melayani tamu dan akhirnya diberikan kepada anggota sekte.


"Aku tidak akan melakukan itu," kata Ye Chen geram.


"Nah kalian pergilah katakan saja apa yang harus dikatakan." Ye Chen juga ikut pergi setelah memeberi lima puluh koin emas lagi kepada si pelayan.


Diluar bangunan rumah makan, Ye Chen memutar arah jalannya mengitari sisi samping, mengikuti arahan tiga wanita yang menemaninya.


"Hm, sepertinya di sekitar sini." Gumam Ye Chen melihat-lihat bangunan di sekitarnya.


"Hei apa yang kau lakukan di sini? ini bukan tempat umum." Teriak salah satu penjaga berbadan besar.


"Maaf... maaf aku tersesat jalan, aku baru saja turn dari lantai dua." Ucap Ye Chen berlagak seperti orang mabuk.


Si penjaga tentu saja tau apa arti lantai dua ini, apalagi pakaian yang Ye Chen pakai menunjukkan identitasnya.


Merasa tidak enak, penjaga lalu berkata sopan.


"Tuan muda, ini bukanlah jalan umum, silahkan memutar arah."


"Oh apakah ini masih masuk wilayah rumah?"


"Tentu saja, termasuk rumah besar yang ada di sana." Tanpa ragu si penjaga menjawab.


Ye Chen lalu mengeluarkan arak simpanannya, mengajak penjaga minum bersama.


Tidak ada seorangpun yang sanggup menolak arak buatan Ye Chen, aroma khasnya seakan membius orang yang menciumnya, tak terkecuali si penjaga.


"Karena pelayanan kalian sangat membuatku puas, aku dengan ikhlas memberikan arak khusus dari kediamanku." Kata Ye Chen.


Si penjaga sangat senang mendengar ini, sehari-hari Ia hanya bertugas di luar, jangankan mencicipi apa yang ada di dalam, untuk masuk saja sudah tidak mungkin.


"Panggil semua temanmu, aku berikan seguci arak ini pada kalian semua." Kata Ye Chen.


Yang mereka tidak tau, seguci arak ini sudah Ye Chen campur dengan serbuk racun yang diracik Xiao Yun.


"Terima kasih... terima kasih tuan." Kata si penjaga dengan hormat. Ye Chen hanya memandangnya pergi dengan senyuman.