
"Ini...." Chu Xiong tak bisa berkata-kata, Ia takjub dengan perahu terbang milik Ye Chen.
"Ayo naik, tunjukkan arahnya." kata Ye Chen puas melihat reaksi Chu Xiong. Tidak sampai dua hari mereka sudah dapat melihat kota Shiyu di depan. Mereka turun tak jauh dari kota dan memutuskan untuk berjalan untuk menghindari perhatian banyak orang.
Karena sedang ada kompetisi di kota maka kota Shiyu sangat ramai, penjagaan di sana juga ketat. Setiap yang masuk akan diperiksa untuk keamanan, termasuk Ye Chen dan Chu Xiong namun karena Chu Xiong adalah seorang patriark maka tak ada halangan saat melewati pemeriksaan.
"Sepertinya acaranya sudah sampai puncak, ayo tuan kita ke tempat rombongan sekte." ajak Chu Xiong.
Saat sampai, murid-murid sekte Chu sedang bersiap mengikuti acara final dari kompetisi. "Patriark, anda datang." sapa tetua yang mengantar murid sekte.
"Aku hanya menemani tuan Ye," kata Chu Xiong. "Tuan Ye, kenalkan ini adalah tetua Ma yang memimpin murid-murid sekte mengikuti kompetisi kali ini."
"Tetua, apakah acaranya sudah selesai?" tanya Chu Xiong lagi kepada tetua Ma.
Menurut tetua Ma, hari ini adalah puncak kompetisi, satu murid sekte Chu mendapat satu tempat di final bersama sepuluh anak lain dari sekte-sekte di benua Utara.
Awalnya Ye Chen heran, biasanya saat final, hanya ada dua orang saja tapi ini ada sepuluh anak. Tapi setelah mendengar penjelasan tetua Ma, Ia akhirnya mengerti. Sepuluh orang ini sudah dinyatakan lolos dan berhak masuk di sekte Yin, di final ini, nanti akan ditentukan siapa yang berhak menjadi murid dalam dan murid luar. Wakil dari sekte Yin sendiri yang akan menguji calon murid, menggunakan energi dingin untuk mengetahui seberapa berbakatnya para calon murid.
Sepuluh anak berbaris di atas panggung, Ye Chen duduk bersama Chu Xiong di panggung utama sementara tetua Ma berdiri di pinggir panggung, bersama tetua atau penanggung jawab dari peserta lain.
Wakil sekte Yin memulai ujian, berdiri di depan panggung lalu berusaha menekan para peserta dengan aura yang sangat dingin. Para peserta yang rata-rata hanya berada di tingkat Bumi ini tentu saja tidak kuat menahan kekuatan seorang tingkat Langit. Satu persatu mereka berjatuhan dengan tubuh menggigil kedinginan. Meski begitu, wakil sekte Yin tidak mengendurkan tekanannya, Ia malah meluaskan area cakupannya ke seluruh arena.
Orang ini terlalu sombong, pikir Ye Chen. "patriark Chu," kata Ye Chen merubah panggilannya kepada Chu Xiong, sesuai keadaannya sekarang. "Apa kau tak ingin mencegahnya? muridmu dan yang lainnya bisa mati nanti."
"Tuan, Chu Xiong saja." sahut Chu Xiong merasa tidak nyaman, Ye Chen adalah tuannya. Tapi Ye Chen mengangkat tangannya, seolah berkata tidak masalah.
Chu Xiong mendesah pelan, "Baiklah," ucapnya. "Tuan, ini adalah tes, meskipun aku juga tidak setuju, tapi sekte Yin berhak melakukan apa pun sesuai kehendaknya."
"Dia cuma ingin pamer, lihat saja para penonton itu yang mulai menggigil. Harusnya ada segel untuk melindungi penonton." sahut Ye Chen lagi. Tapi kali ini Ia seperti berbicara kepada diri sendiri.
Memang wakil sekte Yin ini sedikit kelewatan dan ingin pamer. Sebagai wakil sekte terkuat, sifat sombong dan menganggap semua orang tidak sebanding dengannya memang kerap dilakukan oleh orang-orang seperti ini.
Tanpa sengaja, wakil sekte ini melirik Ye Chen yang duduk di tribun utama. Siapa orang itu, rasanya baru pertama kali aku melihatnya, pikir wakil sekte ini. Ia tiba-tiba saja mendapat ide, ingin menunjukkan kekuatannya pada Ye Chen yang Ia kira adalah kenalan seorang petinggi sekte karena duduk di tribun utama.
Ia yang melihat kultivasi Ye Chen yang hanya di tingkat Langit menganggapnya seperti seorang tuan muda yang berkultivasi menggunakan pil-pil kultivasi, mengandalkan harta orang tua.
"Tuan, tak usah diladeni." kata Chu Xiong dari samping. Bukan khawatir mereka akan diserang oleh sekte Yin tapi khawatir akan nasib wakil sekte Yin itu.
Siapa pun tau, terutama oleh kultivator tingkat Langit bahwa wakil sekte Yin di panggung mengarahkan energinya ke tribun utama.
Wuss...
Aura lembut dan dingin menyapu Ye Chen yang hanya tersenyum. Tanpa menggubris omongan Chu Xiong, Ye Chen menjentikkan jarinya, mengirim sebuah energi yang jauh lebih dingin dan kuat melesat menghantam dada wakil sekte Yin dan membuatnya langsung tersungkur di lantai. Kulitnya membiru karena dingin.
Ye Chen tenang-tenang saja seperti tidak terjadi apa-apa sementara yang lain langsung panik. Siapa yang berani menyerang wakil sekte Yin? benar-benar sudah kehilangan akal pikir orang-orang yang ada di sana, meskipun sebagian yang lain juga ada yang puas melihat ini karena tidak suka dengan wakil sekte Yin.
"Aku pergi dulu," kata Ye Chen lalu berdiri meninggalkan tempat duduknya. "Sebaiknya kau jemput muridmu itu, tak ada gunanya belajar di sekte yang isinya hanya orang-orang sombong dan suka pamer." lanjut Ye Chen lagi.
"Tunggu tuan, aku ikut." seru Chu Xiong ikut berdiri, Ia sengaja melewati tetua Ma yang masih berdiri di dekat panggung untuk menyuruhnya langsung pulang ke sekte bersama rombongan.
"Patriark, tuan Ye itu sebetulnya siapa?" tanya tetua Ma sambil melirik wakil sekte Yin yang sedang dirawat di atas panggung.
"Sekembalinya nanti, aku akan menceritakan semua pada kalian. Sekarang aku akan menemani tuan Ye keliling kota."
"Baik patriark." jawab tetua Ma lalu memimpin rombongan untuk kembali ke sekte.
Di tengah perjalanan, Chu Xiong sempat bertanya pada Ye Chen tentang keadaan wakil sekte Yin. "Aku hanya mengembalikan apa yang Ia berikan padaku." kata Ye Chen tenang.
"Apakah itu tehnik yang baru tuan?" tanya Chu Xiong yang penasaran, yang Ia tau adalah Ye Chen ini gudangnya tehnik tingkat tinggi.
"Selama aku di sini, kau dan semua murid sektemu boleh mempelajarinya kalau mau."
Inilah yang Chu Xiong tunggu, dengan wajah sumringah Ia mengucapkan terima kasih dan akan mentraktir Ye Chen di rumah makan kelas atas di kota.
"Tuan muda tidak berubah, selalu saja menjadi magnet masalah." gumam Chu Xiong sambil melirik dua orang pria yang datang mendekat ke meja mereka.
"Tidak usah di hiraukan," kata Ye Chen. "Habiskan saja arakmu, aku yakin kau akan merasa baikan."
Karena tak ada bangku lagi, dua orang ini dengan seenaknya manarik bangku lain dan duduk di depan Ye Chen.