Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Di Rumah Makan


Rumah makan yang tadinya sudah ditinggalkan pengunjung karena tekanan aura dari ketua itu kembali ramai mendengar Ye Chen ada di situ. Siapa yang tidak ingin melihat pemimpin wilayah Ye, pemimpin yang selama ini tidak pernah terlihat wujudnya dan sekarang tiba-tiba ada di depan mata.


"Tuan, tuan Ye...."


"Ah dia masih seusia anakku."


"Tuan Ye sangat tampan! tuan Ye... aku pengagummu."


"Jadikan aku selirmu tuan Ye."


"Tuan Ye...."


Rumah makan itu seketika itu menjadi bising, beberapa orang berteriak-teriak histeris. Ketua yang sempat terkejut dengan kemunculan Ye Chen yang tiba-tiba itu menjadi gusar. Tidak ada yang takut lagi padanya setelah Ye Chen keluar, bahkan anak buahnya sendiri berjalan mundur.


"Hahaha jadi kau yang disebut tuan Ye? bagus! akhirnya kau muncul juga, aku jadi tidak perlu repot mencarimu." kata ketua itu, masih dengan gayanya yang angkuh.


"Oh kau mencariku?" balas Ye Chen. "Sebaiknya kau habiskan dulu makanmu, aku akan berbincang berbicara sebentar dengan Jiang Kun." Ye Chen tetap santai, Ia lalu berbalik menghadap Jiang Kun.


"Apa kalian semua baik-baik saja?" tanya Ye Chen, membuat Jiang Kun merasa tidak enak. Bisa-bisanya Ia dan yang lain ragu membuat keputusan. Tuan Ye bahkan menanyakan keadaan mereka terlebih dahulu ketika bertemu.


Jiang Kun menjawab Ye Chen dengan sedikit gugup. "Kami semua baik-baik saja tuan, hanya saja mereka...."


Sementara itu ketua yang melihat ini merasa tidak puas, ia berkata dengan gusar "Ye Chen, apa kau mendengarku?"


Jiang Kun sangat marah mendengar ketua itu memanggil Ye Chen begitu saja. "Jaga mulutmu, apa kau kira tuan adalah temanmu?" serunya.


Tapi anak buah ketua juga maju, "Berani sekali kau." serunya tak kalah gusar, bukan itu saja, Ia lalu menarik tangannya dan memukul Jiang Kun dengan kuat.


Jiang Kun menangkis dan balas memukul, sampai terjadi perkelahian kecil di antara mereka.


Kalau di lihat melalui tingkatan kultivasi, kedua orang ini sama, yaitu sama-sama berada di tingkat Suci puncak tapi Jiang Kun lebih unggul dalam jurus-jurus gerakan beladiri. Perkelahian ini murni menggunakan kekuatan beladiri saja, karena mereka khawatir akan menghancurkan tempat itu kalau bertarung menggunakan energi Qi mereka.


"Jiang Kun mundurlah." kata Ye Chen pelan.


"Hahaha cuma segitu saja berani melawan kami."


"Pendekar Sadis? hah apanya yang sadis. melihat darah saja takut."


"Ketua, biarkan kami meghajar mereka."


Satu persatu anak buah ketua sesumbar, mereka pikir Ye Chen takut ketika menyuruh Jiang Kun mundur. Tiga orang maju serentak, berdiri di depan Ye Chen sambil terus tertawa, sementara ketua masih dengan santai melanjutkan makannya.


Tapi apa yang terjadi selanjutnya membuat semua orang yang ada di sana terdiam. Ketiga orang anak buah itu tak bisa bergerak, diam ditempat tanpa bisa mengucapkan sepatah kata. Kalau saja mereka bisa mengulang waktu, mereka tak akan pernah berani memprovokasi Ye Chen.


Ye Chen mengambil sumpit di meja, berjalan tenang ke depan ketiga orang dan menusuk dada mereka dengan kuat. Gaya Ye Chen menusuk mereka seperti menusuk tahu saja, tak terlihat menggunakan tenaga.


Pemandangan selanjutnya membuat yang melihatnya menutup mata. Ye Chen, dengan santainya memegang mulut ketiga orang itu dan mencabuti giginya satu persatu. "Jiang Kun, gelas." Jiang Kun segera mengambil gelas sesuai perintah Ye Chen, gelas yang agak besar untuk menampung semua gigi itu.


"Sial, sampah ini habis makan bangkai."


Plak...


Ye Chen mengumpat, bau mulut tiga orang itu membuatnya tak nyaman, Ia menampar mereka dengan keras sampai semua gigi rontok. Menjambak rambut mereka untuk memuntahkan semua.


"Bangs****t! kubunuh kau." teriak ketua yang melihat perbuatan Ye Chen, bukan karena kasihan pada anak buahnya tapi karena Ye Chen tidak menganggapnya sama sekali.


"Diam di tempatmu!"


Ye Chen membentak ketua, Ia membuka aura Iblisnya, menatap ketua dengan tatapan yang sangat mengerikan. Ketua itu sendiri tak bisa bergerak, tubuhnya bergetar, matanya memancarkan ketakutan yang dalam. Ingin rasanya menghilang dari tempat itu dan tidak akan pernah mau kemabli lagi, sayangnya hal itu hanya ada dalam pikirannya. Ye Chen telah selesai dengan urusannya dan melangkah mendekatinya.


Sumpit bergerak lagi, kali ini yang menjadi sasarannya adalah kedua kaki ketua. Ye Chen menuang arak ke dalam gelas penuh gigi dan meminumkannya dengan paksa.


Suasana sangat hening sampai Ye Chen berkata, "Kita pulang. oh ya Jiang Kun, bisakah membawakan aku beberapa mangku mie kuah? sampah-sampah itu mengganggu makanku."


"Tentu saja tuan, tentu saja." jawab Jiang Kun buru-buru lalu berpesan pada dua orang pengawal.


"Hi... hidup pemimpin Ye." gumam seorang pengunjung, sangat pelan. Orang di dekatnya juga mengucapkan kata yang sama dengan pelan. Lalu setiap pengunjung mengatakannya juga dan entah siapa yang memulai, suara riuh terdengar.


"Hidup tuan Ye!"


"Hidup pemimpin Ye!"


Bagaimana dengan nasib ketua dan tiga anak buahnya? Sepeninggal Ye Chen, mereka sudah bisa bergerak dan berteriak kesakitan.


"Panaaass...!"


"Panaaass...!"


Hanya berselang beberapa saat, teriakan itu berhenti, dari perut ketua dan luka tusukan sumpit di kakinya terlihat jejak merah merembet dan membakarnya sampai menjadi abu. Hal yang sama juga terjadi ketiga anak buahnya, sumpit yang masih tetap menempel itu tiba-tiba berubah menjadi merah terbakar yang dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh dan akhirnya menjadi abu yang tertiup angin.


Apa yang Ye Chen lakukan ini, membuat gempar seisi wilayah Ye. Siapa lagi yang bisa memikirkan membunuh dengan cara-cara seperti ini selain dia? Tidak sedikit yang merasa perbuatan ini sangat kejam tapi tak sedikit juga yang mendukungnya. Tidak masalah, yang penting wilayah Ye aman, tidak ada penjahat yang berkeliaran dengan bebas sehingga kemananan terjamin, begitulah pikiran orang-orang di sana.


"Ambil ini." Ye Chen memberikan cincin penyimpanan ketua. "Isinya lumayan hehe." lanjut Ye Chen lagi sambil menyantap mie kuahnya. Saat ini mereka telah sedang berada di kediaman Ye Chen.


Keesokan harinya, Ye Chen yang hendak menyerap inti Youpi dikejutkan dengan kedatangan Jiang Kun dan yang lain.


"Tuan Ye, di depan banyak orang, mereka ingin menemui anda." kata Jiang Kun.


"Hais merepotkan saja, bilang aku sedang berlatih."


"Tuan, mereka sudah dari kemarin berada di luar." kata Jiang Kun lagi.


"Baiklah, baiklah. Nah ayo kita pergi." Ye Chen akhirnya mengalah dan mengikuti Jiang Kun keluar. Bertemu dengan orang-orang wilayah Ye.