
Tidak ada yang mempedulikan Ye Chen maupun Hong Shin yang duduk di sana, semua orang terlalu sibuk untuk mengolah pemahaman yang mereka dapatkan.
Bagi non alkemis, mendapatkan keterampilan kultivasi jiwa pada warisan ini adalah suatu keharusan sementara bagi seorang alkemis, selain keterampilan kultivasi jiwa, warisan alkimia adalah sesuatu yang sangat mereka harapkan.
Sama seperti Ye Chen yang notabene adalah seorang alkemis, jika bisa mendapatkan warisan ini maka keterampilan alkimianya akan semakin meningkat.
Tingkat pil selanjutnya adalah tingkat alam menengah dan alam besar. Selaras dengan tingkatan kultivasi beladiri.
"Dimana ini...?" gumam Ye Chen saat pertama kali menutup matanya dan mencoba memahami aura dari tungku terbalik. Dalam pandangannya, dia seolah berada di dalam sebuah rumah yang cukup besar dan rumah itu dilalap api, tak ada orang lain selain dirinya yang ada di sana.
"Oh tidak, aku harus mencari jalan keluar."
Ye Chen berjalan cepat berusaha menghindari jilatan api dan potongan kayu yang terbakar. Beberapa kali dia mencoba menggunakan kekuatannya tapi tidak bisa, kekuatannya seolah lenyap begitu saja.
Sampai akhirnya dia berhasil keluar dari rumah itu dalam keadaan hampir mati, separuh bagian tubuhnya terbakar sedangkan sisanya melepuh. Rasanya sakit dan perih, tubuhnya saat ini hanya tubuh seorang manusia biasa.
"Tunggu! bukankah ini rumahku?"
Kesadaran Ye Chen tiba-tiba muncul seiring dengan rasa hanya yang muncul dari dalam lautan jiwanya, namun kehangatan ini hanya berupa getaran samar dan Ye Chen tak bisa merasakannya.
Sambil menahan sakit dan ingatan masa lalu yang membanjiri kepalanya, Ye Chen mulai berjalan tertatih, menjauhi rumah nya m yang terbakar. Pikirannya saat ini sangat kacau, tumpang tindih antara kenyataan dan ilusi. Ye Chen sendiri tahu kalau ini hanyalah ilusi tapi sangat sulit mengatakannya.
Langkah Ye Chen terus menyusuri jalan hidupnya, sesekali dia tampak berhenti, memegangi kepalanya yang sakit lalu berhenti. Berjalan lagi dan berhenti lagi. Situasi ini terus berulang.
Di dalam Penjara Kegelapan. Jing dan Lanlan yang merasakan tekanan yang dalami Ye Chen sangat prihatin. Ini adalah jiwa dan mereka berdua adalah orang yang paling tahu bagaimana ujian jiwa berlangsung.
Kalau seseorang sedang menjalani ujian jiwa atau sedang mengkultivasi jiwanya, maka orang itu akan mengalami apa yang namanya halusinasi kejiwaan. Pikirannya akan diganggu oleh kenangan masa lalu yang paling pahit, kemudian muncul ketidakpuasan, lalu penyesalan yang mendalam.
Jika orang itu tidak sanggup menjalaninya atau menyerah dengan keadaannya maka bisa dipastikan jiwanya akan terganggu dan tidak sedikit yang akhirnya mengalami gangguan kejiwaan, menjadi kultivator jahat atau lainnya.
Tidak masalah kalau hanya ingin menguatkan pondasi kejiwaan tapi kalau sampai mengkultivasi jiwa tanpa adanya bimbingan atau benda pendukung lainnya maka orang akibatnya akan sangat fatal. Itulah kenapa sangat sedikit kultivator yang mengkultivasi jiwanya.
Disinilah keadaan Ye Chen, dia sudah melangkah terlalu jauh karena tidak ada yang membimbingnya.
"Kakek Jing, cepat lakukan sesuatu." Lanlan berkata sambil meremas tangannya. Sebelumnya dia sudah berdamai dengan Jing karena diminta oleh Ye Chen dan memanggilnya kakek Jiang.
Jiang menghela nafas sebelum berkata tidak bisa apa-apa, ada pembatas tak kasat mata yang menghalanginya berkomunikasi dengan Ye Chen.
Di sisi lain, Ye Chen yang pupil matanya sudah berubah menjadi hitam sepenuhnya sudah tidak ingat apa-apa lagi bahkan tubuh fisiknya yang masih duduk tenang mengeluarkan aura yang membuat orang dalam radius seratus meter menyingkir karena tidak kuat menahan tekanan ini.
"Anakku..."