Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Perkenalan


Tapak yang lebih besar dan meluncur cepat, dibelakangnya belasan anak panah juga meluncur menyembunyikan tiga anak panah milik Xiao Yun. Semua serangan ini mengarah pada Ye Chen. Gelombang udara berfluktuasi dengan cepat, mengikuti gabungan serangan.


Yang paling mengerikan adalah anak panah yang dilontarkan Xiao Yun, anak panah ini tidak terlihat dan meluncur dengan senyap. Tapi bukan Ye Chen kalau tidak menyadari ini, Ia tau betul tehnik ini karena Ia juga ikut mempelajari gulungan tehnik ketika pertama kali ditemukan.


"Xiao Yun, kau tambah kuat." batin Ye Chen tak memperhatikan Chu Xiong dan yang lain khawatir, Hanya tetua Kam yang tetap tenang, Ia tau Ye Chen pasti sanggup menahan ini semua.


Benar saja, dengan mengandalkan langkah angin ketiga Ye Chen menghindari semua anak panah dan memukul balik tapak jiwa Sun Yi dengan tapak jiwa yang sama dan menghancurkan semua yang ada di sekitar pertempuran. Tidak sampai di situ saja, Ia yang telah mendeteksi keberadaan Xiao Yun segera mengeluarkan busur dan menggunakan tehnik panah surgawi menyerang Xiao Yun.


Blamm...


Ledakan hebat kembali terdengar, Xiao Yun yang melihat anak panah melesat cepat ke arahnya membalas dengan anak panah yang sama.


Ye Chen membuang busur di tangannya yang hancur karena tak kuat menahan beban besar. "Memang harus menggunakan busur surgawi untuk tehnik itu." gumamnya.


Berita kedatangan Ye Chen tersebar dengan cepat, penduduk desa yang memang sangat mencintainya berbondong-bondong pergi menyambut. Lain cerita dengan Qin Gang dan Sun Li, mereka yang mendapat laporan adanya penyusup mengumpulkan semua kultivator desa tepat setelah Xiao Yun yang bergerak lebih dulu dengan kelompok panah asuhannya.


Tanpa menyadari bahwa itu Ye Chen, Ia dan seluruh pasukan desa terbang dan menyerang dari atas. Kali ini bukan puluhan tapi ratusan anak panah Qi serta tapak jiwa yang menghadang.


"Sial apa mereka mau membunuhku?" gerutu Ye Chen lalu melepas semua kekuatannya sampai menembus tingkat Langit tahap tinggi. Aura kematian berhasil memukul mundur pasukan desa sehingga daya serang mereka melemah.


Wungg...


Ye Chen mengangkat tangan ke atas, memasang formasi perlindungan dengan seluruh kekuatan.


Boomm...


Ledakan lebih keras terdengar, kali ini bahkan menghancurkan seluruh area yang lebih luas. Tak ada yang terluka, semua telah pergi sejak awal. Hanya Ye Chen yang terduduk di tengah-tengah tanah berlubang dengan pakaian hangus di beberapa tempat.


Baru setelah ini Qin Gan dan yang lain datang. "Tuan muda...? kenapa anda di sini?" tanyanya tanpa dosa. "Pantas saja aku seperti merasakan aura tuan muda, tapi aku ragu karena itu sudah tidak seperti dulu lagi." lanjutnya dan membuat Ye Chen menggerutu tidak jelas.


Berturut-turut datang juga Xiao Yun dan Sun Yi. "Nona Xiao jangan tanyakan juga kenapa aku di sini." ucap Ye Chen.


Sambil tersenyum Xiao Yun mengucapkan selamat datang kembali. "Tuan muda, salah sendiri, kenapa datang-datang langsung menyerang penjaga."


"Hah aku hanya main-main saja, kenapa juga kalian terlalu serius. Dan kau Qin Gang, hebat yah, tehnik tapak jiwamu semakin kuat saja. Bahkan hampir saja membuatku celaka."


"Terima kasih atas pujiannya tuan muda." ucap Qin Gang.


"Itu bukan pujian." sahut Ye Chen tapi tak sempat protes lagi karena ketua Song dan penduduk desa datang dan menyambut.


"Selamat datang pemimpin."


"Kakeeek...."


Suara teriakan diikuti sekelebat bayangan menghambur dari belakang Ye Chen, memeluk ketua Song yang akhirnya menyadari keberadaan Song Fei.


"Bocah nakal, apa kau baik-baik saja." ucapnya dengan suara parau, sedih bercampur bahagia. "Kita ke desa dulu." lanjutnya lalu mempimpin jalan kembali.


Berjalan di samping Ye Chen, Cia Sun menoleh dan berkata. "Saudara Chen, anda tidak pernah cerita kalau anda adalah seorang pemimpin."


"Sekarang kau begitu sopan yah, baru tau kalau aku ini seorang pimpinan." Ye Chen dengan gayanya berkata seolah dia adalah seorang raja saja.


"Hanya sebuah desa, tak perlu bersikap berlebihan." ucap Xiao Yun mendengar percakapan mereka dan berhasil membuat Ye Chen diam, mau menangis. "Dasar perempuan aneh, tidak bisa melihat orang senang." gumamnya.


"Eh, apa tuan muda... anda bicara padaku?"


"Ah tidak, itu... sudah ayo jalan, nanti dimarahi kakek Song kalau terlambat." sahut Ye Chen mempercepat langkahnyai diiringi senyuman Xiao Yun dan yang lain.


"Um... Nona Xiao ya?" sapa Cia Sun ragu, "aku Cia Sun dari kekaisaran Lu di benua barat." lalu mengenalkan satu persatu rekannya. "Gadis yang itu bernama Song Fei." lanjutnya sambil menunjuk Song Fei yang berjalan bersama ketua Song.


"Nona, apakah saudara Chen memang begitu? eh, maksudku dia terlihat sedikit berbeda dari yang kukenal."


"Di antara kami hampir tak ada yang namanya pemimpin dan anak buah atau atasan dan bawahan, dia sendiri tak mau seperti, jadi seperti yang anda lihat, kami semua seperti teman saja." Xiao Yun menceritakan kembali awal desa Ye terbentuk sampai peraturan-peraturan yang Ye Chen sendiri buat.


"Meski begitu, kami semua sangat menghormatinya, jangan tanyakan seberapa hormatnya kami, bahkan kami semua rela mati untuknya." lanjut Xiao Yun, dan bercerita lagi sampai mereka tiba di aula desa.


Ketua Song yang tidak berhasil membubarkan penduduk desa akhirnya memaksa Ye Chen berbicara. Ia paham betul, sebelum mendengar Ye Chen berbicara, mereka pasti tidak akan kembali.


"Saudara semua, pulanglah tapi ingat, besok kita berkumpul lagi. Kumpulkan semuanya! karena besok kita akan makan-makan hahaha." sambutan dan tawa Ye Chen disambut sorak sorai penduduk dan meninggalkan aula desa.


"Bagaimana, hebat kan pidatoku hahaha."


"Hais tuan muda, anda tidak berubah." ucap ketua Song. "Ayo kita masuk, bibimu sudah menyiapkan hidangan spesial." maksudnya adalah ibu dari Xiao Yun, Ye Chen memang biasa memanggilnya bibi Xiao.


Ye Chen memperkenalkan Chu Xiong dan yang lain. Chu Xiong, tetua Kam dan Cia Sun yang sudah mengenal ketua Song tampak akrab. Terutama Cia Sun yang biarpun tidak pernah bertemu secara langsung tapi karena berasal dari benua dan kekaisaran yang sama.


Chu Xiong dan tetua Kam mengenal ketua Song ketika perang besar berlangsung, meskipun memang tidak pernah bentrok secara langsung tapi sebagai tokoh tua, tentulah mereka pernah mengenal nama masing-masing.


"Nah karena semua sudah saling mengenal, ceritanya nanti saja, kita makan dulu," ucap Ye Chen yang langsung makan tanpa menunggu jawaban. "Kakek Song, setelah ini aku mau ke bukit, aku ingin sendiri." lanjut Ye Chen, Ia ingin memastikan sesuatu sebagai awal penyelidikannya tentang sekte kegelapan.