
Teknik memecah jiwa untuk mengirimnya melakukan pekerjaan lain di belahan bumi lain hanya bisa dilakukan jika jiwa seorang kultivator itu kuat atau telah mencapai level tertentu.
Bukan itu saja, menyusup atau membunuh juga bisa dilakukan hanya dengan mengandalkan kekuatan jiwa saja. Tapi hal ini tentunya tidak akan berpengaruh terhadap seseorang yang jiwanya kuat.
Itulah kenapa kekuatan jiwa sangat penting untuk dikultivasi.
Sementara itu Ye Chen terus membantu Yue dengan arahan melalui bisikan yang langsung masuk ke dalam kedalaman jiwanya.
"Adik Yue, jiwa itu bagian dari dirimu sendiri jadi jangan ragu, lakukan sesuai apa yang kamu yakini. Jangan takut dan singkirkan keraguan yang kamu rasakan."
Ye Chen terus memberikan dorongan.
Sampai suatu ketika, paras Yue yang tadinya memucat berangsur-angsur kembali cerah. Dia telah mendapatkan keterangannya kembali.
"Huff hampir saja." keluh Ye Chen, jika terlambat sedikit saja, Yue pasti akan akan gagal dan harus mulai dari awal lagi atau jiwanya akan terluka. Untunglah Ye Chen datang tepat waktu.
Ye Chen mengamati Yue sebentar lalu pergi dari sana. "Aku akan masuk ke dalam kolam." dia membuat keputusan sendiri.
Awalnya Ye Chen hanya mengalami hentakan yang biasa saat mulai berkultivasi namun seiring waktu berlalu hentakan itu semakin lama semakin kuat. Tidak sulit untuk bagi Ye Chen untuk mengkultivasi jiwa, meskipun memang tidak pernah secara khusus melatihnya namun kekuatan jiwanya merespon dengan sangat baik saat berada di Kola Jiwa.
"Oh ini seperti waktu itu." Ye Chen membayangkan saat Ia yang secara tidak sengaja menyedot habis energi di dalam artefak pangeran kegelapan.
Dari pengalaman itu, pikiran Ye Chen lalu beralih ketika melahap jiwa pengorbanan. Pengalaman ini lalu Ia gabung dan secara khusus menciptakan teknik untuk mendapatkan meningkatkan kekuatan jiwanya.
Aliran energi dengan cepat mengalir ke arah Ye Chen, dia seperti menjadi pusat dari Kolam Jiwa. Bahkan Yue yang sedang berkultivasi mulai bergetar dan akhirnya berhenti, untung saja dia sudah selesai dengan latihannya, hanya tinggal menguatkannya saja.
Sementara itu Ye Chen yang tengah fokus tidak menyadari apa yang terjadi di sekeliling nya, dia dengan lahap terus menyerap energi yang ada di sana.
Di dalam lautan Jiwa Ye Chen yang sedari awal sudah terbentuk kini bertambah besar. Ini membuktikan kekuatan jiwanya telah meningkat.
"Tidak buruk." ucap Ye Chen sambil tersenyum, tidak sia-sia dia datang ke Kolam Jiwa.
Kini jiwanya sangat besar, sampai beberapa meter tingginya. Ye Chen tidak panik tapi menganga tidak percaya. "Tidak mungkin, apakah ini bisa dikatakan sebagai jiwa raksasa Surga?" ucapnya.
Ketua Bong yang menunggu di luar terkejut ketika merasakan getaran pada Kolam Jiwa.
"Apa yang terjadi?"
Tanya seorang tetua yang juga telah datang. "Entahlah, tapi getaran ini berasal dari dalam sana." sahut ketua Bong. Dia terus mengamati fenomena yang baru pertama kali terjadi ini.
Lalu, Terdengar suara seperi ranting yang patah-patah, disusul suara gemuruh.
Brakk...
Ruang Kolam Jiwa runtuh dan hancur begitu saja menghasilkan debu mengepul tinggi.
Sesaat setelah itu, tampak dua sosok berjalan dari runtuhan. Dia adalalah Ye Chen dan Yue. "Ketua Bong, anda masih di sini?"
"Senior, apa yang terjadi?"
"Maaf sepertinya Kolam Jiwa telah hancur." kata Ye Chen dengan tak berdaya. Dia secara tak sengaja menyerap habis energi di dalam sana.
"Sudahlah, yang penting anda dan Yue baik-baik saja." Ketua Bong akhirnya berkata dengan enggan.
Hanya ada satu alasan kenapa Kolam Jiwa runtuh, yaitu energi yang menopang nya telah habis sehingga tak sanggup menopangnya lagi.
Alasan ini diperkuat dengan tidak adanya energi yang tersisa ketika Ia mencoba mendeteksinya.
"Adik Yue, apa kamu mau ikut denganku?" ajak Ye Chen. "Yue, sebaiknya kamu ikut saja, kamu masih perlu menstabilkan energi jiwamu." tambah Ketua Bong.
"Baik."
Lalu Ketua Bong berpamitan dengan tetua yang ada didekatnya dengan nada menyesal. Dia pun pergi dari sana diikuti Ye Chen dan Yue.
Ye Chen juga sengaja mengajak Yue, dia masih khawatir tentang pelatihan nya di Kolam Jiwa.