Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Meninggalkan Kota Shinyang


"Hah dendamku akhirnya terbalas." kata patriark Hauw dengan wajah bahagia. "Macan Angin, bagaimana keadaanmu?"


Macan Angin menggeleng pelan, "Tidak begitu baik, tapi aku senang akhirnya kita bisa membunuhnya."


"Bagus, bagus... kalian membunuhnya, tertawalah tapi jangan harap bisa lari dariku." Ye Chen yang memang menunggu hasil ini muncul, memang Ia tidak pernah pergi meninggalkan mereka.


Tidak butuh waktu lama, Ye Chen berhasil menyarangkan pukulan dengan telak ke dada Macan Angin, membuatnya tersungkur dan memuntahkan banyak darah. Hidupnya sudah di ujung tanduk.


Matanya mendelik, saat-saat terakhir hidupnya, Ia menyadari sesuatu. "Patriark Hauw...! tak kusangka semua ini sudah kau rencanakan."


"Salahkan dirimu yang begitu bodoh, selamat tinggal." Patriark Hauw melihat kembali Macan Angin yang terbujur kaku lalu menjura kepada Ye Chen. "Tuan Ye, kita berhasil."


Ye Chen hanya mengangguk, "Sebaiknya kau bereskan sisanya, aku dan Jiang Kun akan kembali."


Di sekte Harimau Terbang, kediaman patriark Hauw.


Setelah membereskan semuanya, patriark Hauw bergerak cepat. Ia mengumumkan diri sebagai satu-satunya penguasa kota dan tidak mengizinkan satupun sekte baru berdiri, Ia juga menjadikan markas sekte sebelumnya menjadi cabang sektenya sendiri.


Saat pembagian harta rampasan, atas desakan patriark Hauw, Ye Chen akhirnya mengambil wilayah sekte Tikus Gurun sebagai wilayahnya. Terletak di wilayah terluar di sebelah barat kota Shinyang.


"Patriark, aku mau wilayahku bersih dari segala macam bentuk kesibukan, apapun itu. Apakah kau tidak keberatan?" tanya Ye Chen.


"Tentu saja tuan Ye, jangan khawatir, selama ini memang aktifitas di sana sangat sedikit karena cukup jauh di pinggiran." jawab patriark Hauw menjelaskan letak sekte Tikus Gurun. Ia juga memberikan tiga cincin penyimpanan milik tiga ketua sekte, tapi Ye Chen menolak, Ia hanya mengambil cincin milik Tikus Gurun.


"Tuan Ye..." ucap patriark Hauw, sepertinya ingin bertanya tapi ragu-ragu.


"Kau ingin tau kenapa aku merencanakan semua ini?" kata Ye Chen. "Karena mereka mulai mengincarku, daripada aku yang mereka buru, lebih baik aku duluan yang memburu mereka dan kebetulan kau setuju."


Jiang Kun yang duduk di samping patriark Hauw juga bertanya bagaimana kalau patriark Hauw tidak ingin bekerjasama.


"Itu gampang, aku tinggal membunuh mereka satu persatu tapi pasti akan butuh waktu lama," Berhenti sebentar lalu berkata lagi, tapi kali ini sambil mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat. "Setelah mereka semua tewas, kau, patriark Hauw, akan jadi yang terakhir yang akan tewas." Ye Chen sangat santai ketika mengatakan ini dan sambil tersenyum.


Tapi tidak begitu yang patriark Hauw rasakan, aura membunuh ini saja sudah sangat menekannya dan Ia percaya yang Ye Chen katakan. Untung saja aku bekerja sama dengannya batinnya dengan perasaan yang tidak bisa disembunyikan. Terima kasih sudah menjadikanku rekan anda tuan Ye." ucapnya dengan kulit kepala yang gatal.


Sementara Jiang Kun, ini kali pertama Ia merasakan niat membunuh yang sangat pekat. "Tuan Ye... ...


"Hehe sudahlah," Ye Chen memotong ucapan Jiang Kun. "Kita pergi sekarang. Nah patriark sampai ketemu lagi, ingat, jagalah sekteku dengan baik sampai aku kembali nanti."


"Baik... baik, tentu saja tuan Ye. Anda bisa mengandalkanku untuk masalah ini."


Tidak lama kemudian, Ye Chen melanjutkan perjalanannya bersama Jiang Kun. "Ambil ini." Ye Chen memberikan cincin milik Tikus Gurun. "Ini milikmu sekarang beserta semua yang ada di dalamnya.


"Tuan, apa anda serius dengan ucapan anda tadi?"


"Membunuh patriark Hauw?" Jiang Kun mengangguk. "Tentu saja aku serius, lebih baik aku katakan langsung supaya tidak ada masalah di kemudian hari. Sudahlah, kita keliling sebentar, aku mau melihat batas wilayah yang jadi milikku sebelum kita pergi."


Sekte Harimau Terbang.


Patriark Hauw yang sudah menenangkan hatinya memanggil para tetua sekte. "Cepat, pergi ke sekte Tikus Gurun, hancurkan plang nama mereka dan ganti menjadi Sekte Ye." perintahnya.


Baru dua hari kemudian, tetua yang ditugaskan kembali dengan wajah murung. "Eh, kenapa dengan wajahmu itu? Apa ada masalah dengan tugasmu?" tanya patriark Hauw heran.


"Patriark, kita tidak bisa masuk ke sana, ada segel yang menutup semua areanya."


Patriark Hauw tidak mau percaya, Ia sendiri pergi untuk melihatnya. "Mungkinkah tuan Ye yang memasang ini." gumamnya seakan tidak percaya ketika sampai, segel ini sangat kuat, Ia berulang kali mencoba menghancurkannya tapi tetap tidak bisa.


Kemudian Ia sendiri membangun sebuah tugu dari batu lalu mengukirnya dengan nama Sekte Ye. Ia meletakkan batu ini jauh di depan batas sekte. "Semoga anda senang dengan pengaturan ini tuan Ye." bisiknya.


Ye Chen dan Jiang Kun telah jauh meninggalkan kota Shinyang, saat ini mereka sedang beristirahat di sebuah desa kecil. "Tuan Ye, dari sini ke pusat kota masih lumayan jauh, sayang sekali kita tidak punya kendaaran udara. Mungkin sepuluh hari baru kita bisa sampai."


Baru selesai Jiang Kun berbicara, dari jauh terdengar suara Rajawali yang terbang mendekati mereka. "Tuan! hati-hati, ini siluman Rajawali." teriak Jiang Kun khawatir dan semakin takut ketika melihat Rajawali malah menukik turun mendekati Ye Chen.


"Oh... eh, tuan? Rajawali ini...." ucap Jiang Kun terbata-bata, bingung melihat Rajawali menggosok-gosokkan kepalanya ke tubuh Ye Chen.


Ye Chen tidak menjawab Jiang Kun, "Apa kau sudah kenyang?" tanyanya pada Rajawali yang dijawab dengan anggukan, mengerti apa yang tuannya katakan. "Baiklah, kita berangkat kalau begitu."


"Tuan Ye, tak kusangka Rajawali ini tunggangan tuan. kalau begini kita bisa menghemat waktu dan tiba lebih cepat." ucap Jiang Kun yang duduk di belakang Ye Chen.


"Paman, apa paman pernah mendengar nama orang yang bermarga Ye?" seorang gadis muda bertanya pada pria di sampingnya, mereka tampak akrab dan sedang melakukan perjalan darat dengan arah yang sama seperti Ye Chen dan Jiang Kun.


Pria di samping tampak berpikir, "Aku jarang mendengar ada yang bermarga Ye, tapi dulu sepertinya ada aku pernah mendengarnya."


"Maksudmu pemuda yang tempo hari itu?" lanjut pria ini balik bertanya.


Entah apa yang gadis itu pikirkan, Ia tak menjawab Pertanyaan pria di sampingnya.


Ketika Ia melihat ke atas, saat itu Rajawali yang di tunggangi Ye Chen dan Jiang Kun lewat. "Paman, coba lihat, bukankah dia yang di atas itu?"


Pria di sampingnya melihat ke atas. "Tidak salah lagi, apakah dia juga menuju pusat kota?"


Di atas Rajawali, Ye Chen tampak serius memperhatikan selembar peta di tangannya. "Tuan, darimana anda mendapatkan peta itu? dari yang aku ingat, itu tidak seperti yang tuan perlihatkan kemarin." Jiang Kun yang penasaran bertanya.


"Oh ini dari ruang penyimpanan sekte Tikus Gurun, seperti dugaanku."


"Jadi anda...."


"Kau benar, dan bukan di sekte Tikus Gurun saja, tapi semua sekte sudah kuperiksa hehe." jawab Ye Chen tak acuh sambil terus melihat peta di tangannya.