Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Menyelesaikan Pemimpin Dimensi


Pemimpin dimensi benar-benar dibuat kewalahan, menjadi bulan-bulanan Ye Chen tanpa sanggup memberikan perlawanan yang berarti, apalagi semangat tempurnya sudah jauh berkurang. Ia hanya bisa menyesali dirinya karena tidak membunuh Ye Chen sejak awal.


"Sebelah kakimu sudah hilang, jangan samakan aku dengan dirimu karena aku tidak pernah bermain-main dengan musuhku." ucap Ye Chen setelah memotong sebelah kaki pemimpin dimensi.


"Jangan sombong! setelah ini kau tidak akan selamat. ayahku pasti akan mencarimu."


"Eh eh masih bisa bermulut besar rupanya." ucap Ye Chen yang kembali menusuk lengan pemimpin dimensi yang tidak bisa berteriak karena Ye Chen juga memukul dadanya sampai mulutnya penuh darah.


"Tuan muda, ampun... ampuni aku, aku berjanji akan memberikan semuanya." ucap pemimpin dimensi dengan susah payah.


Ye Chen sedikit tertarik. "Apa yang akan kau berikan?"


Merasa mendapat angin, pemimpin dimensi ini bercerita bahwa dia adalah putera dari ayahnya yang mengurusi tambang di sini. Masih ada dua tambang lagi yang belum digali, ayahnya adalah kultivator tingkat Suci tahap tinggi sekaligus pemimpin tertinggi dari sektenya.


"Tuan muda, peta tambang itu ada di cincinku. Aku akan memberikannya asal anda mengampuniku." ucapnya, Ia merasa Ye Chen pasti tertarik.


Sayangnya Ye Chen berpikiran lain dan Ia sama sekali tidak peduli apa dan siapa orang di depannya ini. Hanya tambang kristal roh saja yang membuatnya tertarik. Lalu sambil tersenyum, Ye Chen berjalan lebih dekat.


"Menarik juga...." ucapnya, membuat pemimpin dimensi ini juga tersenyum puas tapi senyumnya segera hilang ketika melihat Ye Chen mengayunkan pedangnya, memotong tangannya yang memegang cincin.


Ye Chen mengambil cincin, tak peduli erangan kesakitan dan sumpah serapah dari pemimpin dimensi.


"Berisikk...."


Satu kata saja untuk mengantarkan pemimpin dimensi ini pergi menemui penciptanya.


Ye Chen memeriksa cincin, bahkan kristal roh yang ada di tambang masih terlalu sedikit jika dibandingkan dengan isi cincin ini. Kristal roh ungu saja sampai menggunung. Dengan ini Ye Chen tidak akan pernah kekurangan biaya hidup lagi.


Lalu matanya mengamati selembar peta yang pemimpin dimensi tadi katakan, di sana dengan jelas tertera lokasi dua akar abadi yang sudah ditandai. "Memang orang baik sepertiku pasti banyak rejeki." ucapnya sambil tersenyum. Dalam pikirannya, Dua akar abadi ini bisa membantunya menerobos lagi.


"Tunggu dulu," Ye Chen ingat satu hal. "Bukankah dimensi ini seharusnya sudah hancur? kenapa masih terlihat baik-baik saja?"


Ia teringat kata-kata pak tua yang mengatakan bahwa akar abadilah yang menopang tempat ini, kalau akar abadi lenyap berarti dimensi ini juga akan lenyap. Dan Ye Chen baru saja menyerap habis esensi dari akar abadi.


"Jangan-jangan...."


Ye Chen mengedarkan kekuatan spiritualnya, mencoba mendeteksi sesuatu. "Ketemu!" Cepat sekali Ye Chen melesat, sampai di tempat, Ia melihat akar abadi lain yang bentuknya sedikit lebih kecil dari akar abadi yang sebelumnya.


"Tidak kusangka, di sini masih ada lagi." Dengan hati-hati Ye Chen mengambil akar abadi ini, lalu berjalan ke pintu keluar yang tentu saja bisa Ia lewati karena dia jugalah yang sebelumnya menyegel pintu ini sehingga orang lain tak akan pernah bisa keluar selain dirinya.


Sampai di luar, Ye Chen menyegel akar abadi. Menyimpannya dengan hati-hati di dalam dimensi cincinnya, tak mau mengambil resiko akar abadi menyerap esensi di dalam dimensi cincinnya.


...


Di sebuah gua, di hutan lebat dekat dengan pintu masuk dimensi kristal roh, dua orang yang sedang duduk tampak sedang berbicara.


"Panggil saja He Liang. Aku yakin kau juga pasti telah mengenalku." yang berbicara ini adalah pak tua yang sebelumnya bersama Ye Chen di dalam dimensi tambang.


"Aku Jiang Kun. Maaf atas kelancanganku tuan He." yang satu adalah pekerja tambang yang selamat.


Hari ini tepat setelah Ye Chen keluar, dua orang ini juga memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan.


"Tuan He, apa anda pikir pemuda itu akan baik-baik saja dan telah keluar dari sana?"


"Aku juga tidak tau, semoga saja dia bisa keluar."


"Apa anda tau siapa pemuda itu? aku yakin latar belakangnya tidaklah biasa."


He Liang terdiam sebentar, "Menurut dugaanku, dia berasal dari alam bawah, entahlah aku sendiri ragu."


Jiang Kun kaget, "Apa benar alam bawah itu ada?"


"Entahlah," sahut He Liang. "Aku juga tidak yakin, tapi bisa saja. Ah sudahlah sebaiknya kita pergi dari sini, aku rasa keadaannya sudah aman."


"Tidak tuan He, aku akan tetap di sini beberapa hari. Aku merasa berhutang pada pemuda itu, siapa tau nanti dia berhasil keluar dan membutuhkan pertolonganku."


"Baiklah, kalau kau bertemu dengannya, sampaikan salamku dan kalau bisa ajaklah Ia ke sekte Teratai. Oh ya apa kau tertarik masuk sekte Teratai? alu bisa membantumu."


"Terima kasih, tapi aku merasa lebih baik sendiri saja. Mungkin pemuda jenius itu mau jika aku mengajaknya, bagaimana?"


"Tentu saja, setiap sekte di sini pasti tidak akan menolak dan akan berebut untuk merekrutnya menjadi murid." He Liang.


Merekapun berpisah, tanpa membuang waktu, He Liang langsung melesat kembali ke sektenya dan melaporkan apa yang Ia alami sekaligus mengubur keinginan untuk memiliki tambang kristal roh.


Di tempat lain, Ye Chen yang telah selesai menyegel akar abadi dan menstabilkan kekuatannya, melangkahkan kakinya menuruni bukit memasuki hutan di sekitar pintu keluar sampai jauh ke dalam.


Kali ini Ia sangat hati-hati sekali, dunia ini menurutnya sangat jauh berbeda dari dunianya. Ini terlihat dari banyaknya tingkat Langit yang ada, Ia ingat tak satupun dari semua pekerja di tambang sana yang berada di tingkat Bumi ke bawah. Semua berada di tingkat Langit.


Ye Chen tak mau sembarangan menunjukkan kultivasinya. Kalau sebelumnya Ia menekan sendiri, sekarang tidak lagi, karena secara otomatis cincin dimensi akan menekan kultivasinya ke tingkat Langit tahap Tengah.


Dengan begini Ia bisa bebas menggunakan energi tingkat Suci tanpa harus melepas tekanannya dan tetap akan terlihat berada di tingkat Langit tengah.


"Hm, tempat ini kurasa cocok." Ye Chen berhenti di depan sebuah gua dan memutuskan untuk tinggal sementara, mengisi perut yang tidak pernah lagi terisi sejak ditawan.


Hari berikutnya Ye Chen bersiap meninggalkan gua, Ia berjalan terus menyusuri hutan, mencari jalan keluar. Sampai akhirnya tibalah Ia di pinggiran hutan, dari jauh terlihat hamparan rumput yang memanjakan mata, terasa sejuk.


"Berhenti di sana!"


Bentakan keras membuat Ye Chen berhenti, dari jauh dua orang berlari cepat mendekati Ye Chen.


"Tampang kalian seperti perampok," ucap Ye Chen menyambut kedatangan mereka. "Katakan, apa yang kalian inginkan." lanjutnya seraya berpikir akan langsung membunuhnya saja kalau mereka berniat merampoknya.


"Serahkan semua milikmu kalau tidak ingin mati."


Ye Chen tersenyum mendengar ini. "Kebetulan sekali, hahaha...."