Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Masalah Dengan Anak Tuan Kota


Sepeminuman teh berlalu, Ye Chen yang menggabungkan tehnik tarian pedang dengan tehnik pedang matahari milik Lu Pin terus menggempur pertahanan Lu Ping tapi dengan lambat, seperti layaknya orang berlatih.


Karena sudah sadar Ye Chen memperbaiki kelemahan jurusnya dan memberi petunjuk tehnik lain, yaitu gabungan tehniknya dengan tehnik miliknya sendiri, maka Lu Ping bergerak dengan hati-hati sambil membuka mata lebar-lebar berusaha memahami setiap gerakan Ye Chen.


"Kakek Lu, apa sudah cukup?" tanya Ye Chen tapi dengan cepat Lu Ping menjawab belum karena memang Ia belum bisa memahami bagian tehnik tarian pedang.


Ye Chen memang tidak tau cara menghentak pedang seperti yang Lu Ping lakukan tapi itu tidak masalah karena Ia sendiri bisa memperbaikinya nanti.


Sepeminuman teh kembali berlalu, Ye Chen yang sudah sampai batasnya melompat mundur. "Kakek Lu, maaf aku tidak kuat lagi." ucapnya.


"Panglima, aku ke dalam dulu, ada yang harus kulakukan." ucap Lu Ping berlalu begitu saja tanpa menunggu persetujuan panglima Cia. Mulutnya kadang meracau tentang gerakan sebuah jurus.


"Ye Chen ada apa dengannya?"


Ye Chen hanya tersenyum mendengar pertanyaan panglima Cia. "Silahkan panglima, aku sudah siap." katanya sambil menelan sebuah pil pemulih.


"Baik, bersiaplah."


Pertarungan kembali berlangsung antara Ye Chen dan panglima Cia.


Sama seperti sebelumnya, Ye Chen juga bertarung menyerang kemudian bertahan. Bedanya panglima Cia menyadari lebih cepat dibanding Lu Ping.


"Pantas saja saudara Lu ingin cepat-cepat pergi, rupanya Ia takut kehilangan ingatannya." batin Lu Pin.


Dengan penuh semangat, panglima Cia melatih tehniknya yang lain. Baginya lebih mudah melatih tehnik sendiri dibanding tehnik gabungan yang dibuat Ye Chen.


"Ye Chen ini tehnik andalanku." kata panglima Cia.


"Silahkan panglima." ucap Ye Chen singkat dan kembali mengambil posisi bertahan. Ia tau maksud perkataan panglima Cia, karena sebelumnya Ia tidak pernah menyebut setiap tehnik yang Ia pakai.


"Tehnik Tarian Pedang Angin."


Tehnik ini mengandalkan tebasan-tebasan pedang yang menimbulkan angin tipis dan tajam di setiap tebasannya.


Jangankan tubuh manusia, batu saja jika terkena tebasan pedang ini pasti terpotong rapih. Bagaimanpun Ye Chen menghindar, tetap saja


Pakaian yang Ia kenakan sobek di beberapa tempat akibat terkena tebasan pedang.


"Panglima bertahanlah." seru Ye Chen tanpa menunda waktu dan mulai menggabungkan tehnik tarian pedangnya dengan tehnik tarian pedang angin.


Slash... slash


Ye Chen yang sedikit memahami sifat unsur angin dalam tehnik panglima Cia membuat tebasan angin tajam di sekelilingnya.


Seperti tarian pedang yang membuat klon pedang, ditehnik gabungan ini Ye Chen seperti membuat klon dari angin.


"Sungguh tak kusangka tehnikku ternyata bisa sekuat ini." batin panglima Cia sambil terus mengamati perubahan gerakan Ye Chen.


Melihat panglima Cia sudah memahami tehnik gabungan ini, Ia berinisiatif menambah kecepatan dan tekanan pedangnya yang memaksa panglima Cia melepas tekanan kultivasinya yang semula setara dengan Ye Chen.


"Tidak bisa begini." batin panglima Cia yang dengan bertahap kembali menaikkan kultivasinya sampai ke tingkat Langit menengah.


Setelah ini, barulah panglima Cia bisa menahan serangan Ye Chen yang seolah mengejarnya kemanapun Ia pergi.


"Cukup panglima, aku sudah tidak kuat lagi." seru Ye Chen melompat ke belakang.


"Hahaha pantas saja anak-anak itu tidak mau masuk akademi lagi. Jangankan mereka, aku dan saudara Lu Ping saja bisa menjadi lebih kuat berkat berlatih bersamamu."


"Terima kasih atas pelajaran yang panglima berikan." kata Ye Chen menangkupkan tinjunya di depan dada.


"Sudahlah, jangan bersikap sopan begitu, harusnya aku yang berterima kasih." bantah panglima Cia lalu berterima kasih dengan sikap yang sama dengan yang Ye Chen lakukan.


Ye Chen hanya menggaruk-garuk kepalanya, menatap panglima Cia pergi lalu ikut meninggalkan tempat latihan ini. "Aduh berlatih dengan orang tua itu membuatku lapar saja." gumam Ye Chen.


Tidak mau ada gangguan lagi, Ye Chen menyewa kamar khusus, kamar yang hanya berisi satu meja saja. Ruangan ini juga terletak di lantai dua rumah makan.


"Tuan, ah anda datang lagi." sapa pelayan yang dulu melayani Ye Chen.


"Ya, siapkan seluruh hidangan terbaikmu, satu porsi untuk setiap hidangan."


"Baik." kata pelayan yang dengan cepat menyiapkan hidangan untuk Ye Chen.


"Memang nikmat sekali hidangan di sini," ucap Ye Chen yang mencoba secuil hidangan yang menurutnya paling menarik. "Makanan yang enak harus dengan arak yang spesial." lanjut Ye Chen lagi dan menambil arak spesialnya yang tentu saja tidak memabukkan.


Brakk...


Pintu ruangan Ye Chen terbantin keras dari luar, terbuka tepat saat Ia menuang arak pertama ke mulutnya.


"Hais ada apa lagi ini?" Ia menatap tajam seorang pemuda dengan pakaian mewah di depannya Dibelakangnya, berdiri pelayan yang berdiri ketakutan.


"Hei kau cepat keluar, aku menginginkan ruangan ini untuk menjamu teman-temanku," kata pria yang berpakaian mentereng ini. "Hayo cepat keluar, jangan kuatir semua hidangan yang kau pesan akan kubayar."


Pemuda ini lalu berjalan mendekati meja Ye Chen, duduk di depan Ye Chen. Menuang arak dan meminumnya. "Arak yang hebat." ucapnya sembari menuang kembali sampai dua gelas.


"Hei pelayan, siapkan juga arak yang ini."


"Dengan tubuh gemetar ketakutan, si pelayan mengatakan bahwa arak itu tidak dijual di sini. "Pantas saja aku tak pernah melihatnya di sini."


Dengan angkuhnya, si pemuda mengambil seratus keping emas dan meletakkannya di meja. "Tunggu apa lagi? Cepat keluar dan bawa ini. tinggalkan arakmu, aku menyukainya."


"Heh apa kau tuli? apa kau tidak tau siapa aku hah! aku adalah anak tuan kota di sini. Ini adalah tempatku dan semua orang harus mendengarkanku."


"Tuan muda, ruangan ini sudah di pesan tuan ini, silahkan memilih ruangan di sebelah." si pelayan mencoba membujuk anak tuan kota.


Ye Chen yang dari tadi hanya diam kini berdiri, Ia hanya menunggu si pelayan membelanya saja, karena jika tidak, Ia pasti menghancurkan rumah makan yang berani bersikap tidak adil ini.


Ia berjalan mendekati anak tuan kota yang masih duduk di depan meja. tidak lupa mengambil sumpit yang Ia pakai sebelumnya.


"Eh, eh lepaskan! lepaskan." kata anak tuan kota sambil memukul tangan Ye Chen yang memegang kepalanya.


Bugg...


Sebelah tangan Ye Chen memukul perut sampai anak tuan kota membentur dinding.


"Sialan jangan muntah di sini." kata Ye Chen untuk pertama kalinya, Ia memukul kerongkongan sembarang saja sambil menotoknya agar tidak muntah. Ia masih ingin menyantap hidangannya sehingga tidak mau mengotori tempat ini.


Krakk... krakk


Kedua lengan anak tuan kota patah, tak ada suara kesakitan yang keluar, hanya ma tanya saja yang berair menahan sakit.


"Ini karena kau berani meminum arakku."


Clap... clap


Giliran sumpit di tangan Ye Chen yang bergerak, menancap dalam di kaki anak tuan kota.


"Ini karena kau berani memasuki ruanganku tanpa izin.


Tidak ada darah menetes karena Ye menusuk dengan menghindari urat besar di kaki.


"Kurang ajar, berhenti!" Dua orang pemuda lain yang juga berpakaian mewah masuk dan menghentikan perbuatan Ye Chen, lima orang pengawal menemani mereka.


Ye Chen menghela nafa, "Memang tempat ini harus kotor, selamat tinggal makanan lezatku." gumamnya.