
Ye Chen hanya melirik sebentar ketika Lu Jiao dibawa pergi, "ketua Gu, bisakah anda mengobati nona Jiao? aku sangat lelah."
"Aku masih belum mengerti betul karakter racun ini, sebaiknya kau saja yang mengobatinya." jawab ketua Gu yang semakin kagum dengan pengetahuan Ye Chen dalam bidang alkemis.
"Jangan begitu ketua Gu, aku masih terlalu lelah." keluh Ye Chen yang memang sangat lelah, pengobatan kaisar membutuh kekuatan jiwa yang tidak sedikit.
"Maafkan aku saudara Chen, aku rasa pihak istana juga pasti menginginkan kau sendiri yang menanganinya."
Ye Chen tertunduk lesu, bukan masalah mengobati tapi cara mengobatinya yang sedikit merepotkan.
Racun yang masuk lewat uap yang digirupnya memang tidak mengeram terlalu lama dalam tubuhnya tapi tetap saja Ye Chen harus menekan titik di bawah pusarnya untuk menjaga agar racun tidak masuk kesana.
Kalaupun dipaksakan untuk tidak menekannya, masih ada titik di dada dan di punggungnya yang tidak boleh tidak di tekan karena uap itu bersarang di dada.
Ye Chen tak mau membuat salah paham lagi dengan mengobati Lu Jiao.
Akan kupikirkan caranya nanti, pikir Ye Chen lalu kembali ke kediamannya untuk memulihkan tenaganya yang banyak terkuras.
...
Keesokan harinya Ye Chen hanya melihat kondisi Lu Jiao dan memberikan pil pemulih saja dan menekan titik di sekitar punggungnya tanpa melepas baju Lu Jiao.
Seminggu berlalu dengan cepat, kaisar sudah pulih dari sakitnya dan mulai mengatur pemerintahan lagi.
"Anak Chen kenapa Jiao'er belum sembuh juga? mustahil kau bisa menyembuhkan aku sedangkan di tidak." kata kaisar di ruangan Lu Jiao.
Ye Chen hanya beralasan Lu Jiao hanya butuh istirahat dan mengonsumsi pil saja untuk sembuh, tidak perlu ada tindakan lain seperti yang Ia lakukan lain, dan untungnya kaisar dapat menerima alasan ini.
"Kalau begitu mari kita ke ruanganku." ajak kaisar. "Nah katakan hadiah apa yang kau inginkan? Dulu sebelum aku jatuh pingsan, aku ingat pernah berkata untuk memberikan sebuah wilayah kepada orang yang bisa menyembuhkanku."
"Aku tidak menginginkan apa-apa." jawab Ye Chen singkat saja.
"Tidak bisa, titah telah dibuat dan harus ditepati dan lagi kau adalah salah satu wakil kekaisaran di benua Utara nanti, jadi kau berhak memilih sebuah wilayah di sini."
Ye Chen paham betul apa arti ucapan kaisar, seorang kaisar pantang menarik janji yang sudah Ia keluarkan. "Belum ada tempat yang menarik minatku, bisakah aku mencarinya terlebih dahulu?"
"Tentu, tentu saja. bahkan jika itu adalah sebuah desa, atau wilayah berpenduduk, aku juga akan memberikannya padamu.
Terserah, apa wilayahmu nanti mau masuk ke kekaisaran lagi atau tidak."
Sampai di kediamannya, Ye Chen memikirkan tawaran kaisar, cukup menggiurkan tapi Ye Chen tetap tidak tertarik. Untuk apa memiliki sebuah wilayah di sini, belum tentu Ia nanti akan kembali ke sini lagi.
Salah satu yang mengganjal pikirannya adalah kondisi Lu Jiao, tidak mungkin Ia bisa sembuh total dengan hanya mengandalkan pil saja.
Pikirannya yang lain adalah karena beberapa hari ini Ia merasakan perasaan tertekan lagi, seperti akan ada sesuatu yang tapi entah apa.
Firasat yang sejak lama memang sudah Ia rasakan, yang kadang-kadang muncul begitu saja.
Ye Chen yang sedang berpikir dikagetkan oleh suara yang memanggilnya, "Oh kakek Lu, anda di sini?"
Lu Ping tersenyum ramah lalu duduk di dekat Ye Chen. "Apa yang sedang kau pikirkan? sampai-sampai tak merasakan kehadiranku."
"Ah tidak, aku hanya melamun saja kakek Lu."
"Ya sudah, aku hanya datang menjengukmu saja dan berbincang sedikit. Apa kau ada waktu?"
"Tentu, tentu saja, silahkan kakek Lu." jawab Ye Chen sopan.
Tapi ketika bertanya tentang kondisi Lu Jiao, Ye Chen hanya diam.
"Kau tau, pihak istana menduga kau tidak mau atau tidak serius mengobatinya. Bahkan aku sendiri juga sempat berpikir demikian.
"Tidak mungkin, nona Jiao adalah temanku, aku pasti berusaha untuk menyembuhkannya." sanggah Ye Chen.
Lu Ping manggut-manggut mengerti. "Lalu bagaimana dengan tawaran kaisar? Ye Chen, meskipun kau menolak hadiah turnamen tapi titah kaisar tidak boleh kau tolak. Tentu kau mengerti apa artinya ini."
"Aku mengerti kakek Lu," sahut Ye Chen. "Tapi jujur, aku tidak menginginkannya."
Karena didesak terus akhirnya Ye Chen menyerah dan dengan asal saja menyebut desa Bunga, desa para pemburu, desa tempat Ia mendapat Angsa Pelangi.
Melihat Lu Ping yang kaget mendengar pilihannya, Ye Chen buru-buru mengatakan bukan desanya tapi sebuah wilayah kecil yang jauh dari desa.
Ia tak mau nanti malah dicap tamak karena menginginkan sebuah desa.
"Maaf," kata Lu Ping menyadari reaksinya. "Jangan berpikir yang lain, asal kau tau saja, desa itu sekarang sudah tidak berpenghuni lagi. Penduduk di sana sebagian besar mengungsi jauh sampai kota Kenanga."
Sekarang Ye Chen yang kaget, sosok Song Fei tiba-tiba saja terlintas di benaknya. "Kakek Lu apa yang terjadi, kenapa bisa begitu?" tanya Ye Chen sedikit cemas.
Lu Ping menghela nafas sebelum bercerita. "Sejak berita kaisar sakit tersebar, banyak muncul kelompok yang melakukan gerakan yang mengacau keamanan."
Terkadang seorang pemimpin terpilih bukan karena dia adalah yang terkuat, ada juga seorang pemimpin malah sangat lemah.
Bahkan ada seorang pemimpin yang hanya sebagai nama saja tapi kenyataannya adalah boneka yang dikendalikan oleh pihak tertentu.
Kekaisaran Lu yang bisa dibilang masih seumur jagung tapi di bawah kepemimpinan kaisar yang sekarang, kekaisaran Lu berkembang sangat baik berkat kebijakan-kebijakan yang pro rakyat.
Meski begitu tidak semua orang senang dan puas dengan semua kebijakan kaisar.
Orang-orang ini memang tidak secara langsung menyatakan ketidakpuasannya, tapi dengan cara halus dan sembunyi-sembunyi mulai melakukan gerakan di dalam. Lalu akhirnya mereka membuat satu kelompok.
Kelompok inilah yang sering membuat kekacauan di daerah-daerah terluar dari kekaisaran, apalagi setelah berita kaisar tidak pernah muncul lagi karena sakit.
Kelompok ini semakin berani dan akhirnya dengan berani menyerang desa Bunga, desa terluar.
"Kakek Lu, kenapa pihak istana tidak mengirim bantuan ke desa Bunga?"
Lu Ping menggeleng plan, "Jangankan istana, kota Kenanga saja yang letaknnya paling dekat tidak bisa berbuat banyak. Bukan tidak mau, tapi desa Bunga Itu masih terlalu jauh, kau sendiri sudah tau akan hal ini."
"Aku mengerti," ucap Ye Chen. Yang Ia pikirkan adalah penduduk desa yang memang sebagian besar sangat akrab dengannya. "Song Fei, aku harap kau baik-baik saja." batin Ye Chen.
"Ye Chen, apa kau masih berminat dengan desa Bunga? aku tak mau kau menyesal nantinya."
"Keputusanku sudah bulat kakek Lu, apalagi setelah mendengar apa yang menimpa desa itu."
"Baiklah nanti akan kusampaikan langsung pada kaisar. Perihal nona Jiao, jangan pikirkan yang lain, aku tidak tega melihatnya setiap kali datang."
Ye Chen hanya diam di tempatnya menatap kepergian Lu Ping.
Ia telah memutuskan akan mengobati Lu Jiao, selesaikan dulu satu masalah baru memikirkan masalah lain pikirnya.
Obrolan singkat dengan Lu Ping banyak membuka pikirannya, masalah baru yang muncul karena masalah lama selesai pasti akan selalu ada, bagaimanapun kondisinya.