
Pertemuan tiga sekte.
Keadaan bukan semakin back tapi malah semakin panas, tidak ada yang mengalah, semuanya ingin mendapat wilayah yang lebih luas. Patriark Hauw sendiri atas anjuran Ye Chen meminta wilayah satu sekte dengan alasan Ia ikut andil dalam kehancuran dua sekte.
"Patriark Hauw, bagaimana kondisi anda saat ini? aku lihat anda telah sembuh dari racunku." patriark Tikus Gurun mencoba memancingnya sementara Macan Angin diam saja.
"Bagus, kalian bertempurlah." batin Macan Angin, lalu berkata pada Tikus Gurun. "Racunmu tidak cukup kuat, itu hanya mainan anak-anak, bukan begitu patriark Hauw?"
"Macan Angin, jangan banyak mulut, apa kau ingin merasakan racunku hah?"
"Hahaha kita lihat saja." sahut Macan Angin.
Akhirnya pertemuan bubar tanpa ada kata sepakat. Patriark Hauw langsung kembali ke sektenya di sana Ye Chen sudah menunggu untuk kembali mengatur rencana.
Sekte Tikus Gurun.
"Patriark, kami menangkap mata-mata dari Macan Angin." lapor salah satu anggota. "Ia mengacau tambang kita di gurun selatan." lanjutnya.
"Hoho mereka mulai bergerak ternyata. Bagus, segera kirim anggota ke tempat mereka. Pastikan mengacaukan mereka."
Sekte Harimau Terbang.
"Bagaimana pertemuannya patriark?" tanya Ye Chen yang berada di sana.
"Hah itu cuma pertemuan basa-basi saja, tak mungkin ada kesepakatan di antara kami semua." patriark Hauw.
"Tuan Ye, apakah anda sudah membuat rencana?" lanjut patriark Hauw lagi.
Ye Chen tersenyum dan berkata, "Tentu saja, nanti anda bisa begini... lalu aku akan... tapi ini semua bisa berubah, tergantung situasinya nanti."
Patriark Hauw mengangguk, Ia telah mendengar garis besarnya, sekarang waktunya memulihkan diri untuk pertempuran selanjutnya.
Tiga hari berlalu ketika pesan dari Jiang Kun datang, dalam pesannya, semua telah siap tinggal menunggu rencana selanjutnya. Ye Chen tersenyum lalu berkata kepada patriark Hauw, "Dendammu akan segera terbalas, bersiaplah."
Patriark Hauw tersenyum senang lalu mengepalkan tangannya, "Baik, kalau begitu aku akan segera pergi ke sekte Macan Angin."
Di sekte Macan Angin, patriark Hauw yang sudah tiba langsung disambut oleh patriark. "Apa yang membuatmu memberikan dukungan padaku? Jangan berpikir untuk memanfaatkan situasi ini keuntunganmu sediri." tanya Macan Angin yang curiga dengan niat patriark Hauw. Di kota ini tak ada yang namanya kawan, tak ada orang yang akan dengan senang hati membantu tanpa mengharap imbalan.
Patriark Hauw menghela nafasnya sebelum berkata ingin membalas dendam kepada Tikus Gurun karena telah meracuninya. Namun jawaban ini belum bisa memuaskan hati Macan Angin.
"Kudengar mereka menyewa seorang kultivator tingkat Suci yang lain, tenang saja, orang-orang sekteku yang akan maju lebih dulu." bujuk patriark Hauw mencoba meyakinkan Macan Angin.
Melihat Macan Angin yang masih ragu-ragu, patriark Hauw mengatakan lagi bahwa anggota sektenya sudah bersiap. "Kalau begitu tak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku akan ke Tikus Gurun saja." lanjutnya lalu berdiri dan berjalan keluar dari tempat pertemuan.
"Tunggu...!"
"Hahaha kau terlalu cepat mengambil keputusan, aku bahkan belum mengatakan apa-apa." ucap Macan Angin sambil melangkah mendekati patriark Hauw yang terlihat tenang tapi sebenarnya tidak karena kalau strategi ini gagal maka semua usahanya juga akan gagal.
"Jadi apa keputusanmu?" tanyanya.
Macan Angin tersenyum ramah, "Sebaiknya kita duduk dulu." ajaknya dan mempersilahkan patriark Hauw duduk kembali. "Aku setuju," ucapnya tanpa basa-basi. "Tapi aku harus mendengar rencanamu, kau sendiri tau Tikus Gurun itu sangat ahli dalam racun, aku khawatir semua akan sia-sia kalau Ia menggunakan racunnya."
Patriark Hauw tertawa lebar, "Lihat aku, racunnya sekarang bukan apa-apa, baru-baru ini aku bertemu seorang ahli yang bisa menetralkan dan mengobatiku."
"Jadi kau sudah sembuh?" kata Macan Angin dengan tatapan bingung.
"Tentu saja, nah ini penawar racunnya." sahut patriark Hauw yang kemudian memberikan beberapa pil pada Macan Angin. "Patriark, kalau ini berhasil kau boleh mengambil bagian lebih banyak dari gudang harta Tikus Gurun dan wilayah lebih besar dari penguasaan kota."
Macan Angin kembali tertawa senang, dalam pikirannya sekarang adalah harta. Ia tak bisa menolak godaan harta dan kekuasaan yang patriark Hauw tawarkan.
"Orangku sudah ada di sana, termasuk ahli racun yang aku sebutkan tadi. lanjut patriark Hauw.
Macan Angin menyanggupi permintaan patriark Hauw, "Sampai ketemu besok patriark." kata Macan Angin sambil mengantar tamunya keluar halaman.
Esoknya Macan Angin membawa semua anggota sektenya menyerbu sekte Tikus Gurun, jalan menuju ke sana yang biasanya penuh dengan kesibukan hari ini terlihat lengang. "Heh Tikus Gurun! keluar kau sekarang bersiaplah menerima hukumanmu hahaha." ucapnya dengan lantang di depan sekte Tikus Gurun.
Sementara Tikus Gurun yang memang sudah mendengar ini sudah bersiap menyambut kedatangan mereka. Mulanya Ia masih berniat damai dan membicarakan ini dengan Macan Angin tapi seseorang dari kelompoknya tiba-tiba berteriak.
"Seraaang...!" orang ini segera melepas panah, diikuti beberapa yang lain sehingga perang pun akhirnya pecah dengan sendirinya.
"Sial, siapa yang bertindak tadi?" gumam Tikus Gurun sambil terus menghindari serangan dari anggota sekte Macan Angin.
"Heh Tikus! aku lawanmu." bayangan Macan Angin melesat, menyerang Tikus Gurun dengan kekuatan penuhnya.
Tikus Gurun tidak tinggal diam saja, tangannya terkepal menyambut serangan lawan dan berhasil mengenai dada Macan Angin. "Eh, apa... apa yang terjadi? kenapa racunku tidak bereaksi padanya?" gumam Tikus Gurun.
"Hahaha racunmu tidak ada gunanya padaku." ejek Macan Angin. "Huff untung saja patriark Hauw memberikan pil penawar sebelumnya." batin Macan Angin yang sempat merasa khawatir.
Sementara itu patriark Hauw dengan santai menghabisi para anggota Tikus Gurun, kultivasi yang tinggi membuat mudah melakukannya. Begitu juga dengan Ye Chen, satu persatu anggota sekte Macan Angin habis dibantai. "Patriark, saatnya membereskan kepalanya." kata Ye Chen yang bergerak di dekat patriark Hauw.
Tanpa menunggu, Ye Chen membantu Tikus Gurun menyerang Macan Angin. "Patriark, ayo kita potong ekor Macan ini."
Dikepung dua tingkat Suci dengan cepat merubah arah pertempuran mereka, tampak Macan Angin mulai goyah, beberapa bagian tubuhnya terluka. "Patriark, kuserahkan padamu, aku akan mengejar anggotanya." Tikus Gurun mengangguk, "Hahaha Macan Angin, sekarang bagaimana, kau tak lebih dari Macan ompong." ucapnya angkuh melihat Macan Angin telah terluka.
Namun tawanya terhenti ketika patriark Hauw datang membantu Macan Angin. "Tidak kusangka, kalian benar-benar bekerja sama, majulah jangan dikira aku, Tikus Gurun takut pada kalian."
Patriark Hauw tidak langsung menyerang, Ia memberikan pil pemulih pada Macan Angin dan menunggunya sedikit pulih. "Kau harus kuat, kita bisa membunuhnya bersama." ucapnya menyemangati Macan Angin.
Seperti yang telah direncakan, Jiang Kun datang membantu. Meskipun tidak banyak yang bisa Ia lakukan tapi berkat bantuannya yang kerap mengirim pukulan jarak jauh, akhirnya Tikus Gurun menyerah dan tewas di tangan patriark Hauw.