Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Perseteruan di Dalam Ruang Lelang


Jangan pernah menawar kalau tidak punya uang dan tentu saja, yang punya uanglah yang bisa berbicara di rumah lelang


Kira-kira begitulah aturan yang tidak tertulis di setiap acara lelang di adakan.


Acara lelang dimulai, pembawa acara adalah penanggung jawab rumah lelang, Lao Yifeng.


"Saudara sekalian, kami ucapkan selamat datang di puncak lelang tahun ini," sambutnya. "Baiklah, tanpa membuang waktu lagi, acara ini kami buka dengan menampilkan barang pertama dari sepuluh barang yang akan kami lelang."


Dari belakang panggung, muncul seorang wanita membawa kotak kecil.


"Ini adalah mutiara laut hitam, kami mendapatkannya dari suku nelayan di utara. Dibuka dengan harga seratus keping emas, penawaran berikutnya dengan kelipatan seratus"


"Tuan, apa anda ingin menawar?" tanya Chu Xiong.


"Dimana laut hitam itu? tanya Ye Chen sambil memperhatikan mutiara kecil di panggung. "Hanya penasaran saja, benda itu tidak begitu bagus."


Chu Xiong yang memang lebih berpengalaman menjelaskan laut hitam adalah laut di daerah benua utara.


Wilayah itu adalah satu-satunya tempat yang tidak terpengaruh cuaca dingin.


"Menarik." ucap Ye Chen pelan.


Akhirnya mutiara kecil ini jatuh ke kamar vip nomor sepuluh.


Barang kedua sampai kelima juga sama, tidak ada yang cukup menarik perhatian Ye Chen.


"Jangan menungguku, kalau ada yang ingin kalian inginkan, tawar saja." kata Ye Chen pada Chu Xiong dan Cia Sun.


"Selanjutnya adalah sebuah belati," sebuah belati berwarna hitam muncul di panggung. "Ditemukan di sebuah reruntuhan kuno, tapi sayang sekali kami tidak bisa menentukan tingkatannya."


"Lima ratus keping emas." suara tawaran Ye Chen terdengar tepat setelah Lao Yifeng selesai bicara.


"Saudara Chen apa anda mengenal belati kecil itu?" Cia Sun.


"Aku hanya merasa tertarik saja." jawab Ye Chen sedikit berbohong. Sejak belati itu keluar, auranya sudah membuatnya tergerak, ditambah lagi getaran yang terus-menerus Ia rasakan dari cincin dimensinya.


"Enam ratus keping emas." suara lain dari kamar vip tujuh, tepat disamping kamar Ye Chen yang menempati kamar delapan.


"Tujuh ratus."


"Satu juta."


Belum sempat menawar lagi, seseorang mengetuk pintu kamar Ye Chen.


"Tuan yang di dalam, ketua kami hendak bicara."


"Satu juta lima ratus."


Ye Chen tidak peduli orang di pintu, Ia melanjutkan tawarannya.


"Saudara Chen, apa tidak apa-apa?" Cia Sun bertanya dengan sedikit khawatir.


"Hahaha kuatir apanya, yang perlu dikuatirkan adalah kalau tidak punya uang." Ye Chen sengaja mengeraskan suaranya sampai terdengar ke bawah panggung.


Dari kamar sebelah, terdengar suara wanita yang seperti merajuk. "Paman, aku mau belati itu, bukankan paman berjanji memberikanku sebuah belati?"


"Tuan puteri, nanti akan kucarikan sebuah belati yang lebih baik."


"Tidak mau, aku mau belati itu"


"Satujuta lima ratus pertama, kedua, ketiga. Selamat kamar delapan memenangkan belati." Lao Yifeng yang melihat ini mengambil keputusan yang terkesan buru-buru. Tak mau mengambil resiko dari perseteruan ini.


Ia kemudian mengambil inisiatif mengantar sendiri ke ruangan Ye Chen.


"Tuan Ye, silahkan, ini barang anda," ucapnya. "Hati-hatilah, mereka itu rombongan dari akademi kekaisaran."


"Tidak usah kuatir lanjutkan saja acaranya." ucap Ye Chen sambil menimang belati hitam di tangannya.


Lao Yifeng kembali ke panggung, suasana kembali tenang tapi tak berlangsung lama ketika barang ketujuh diumumkan.


Benih apel ungu, salah satu sumber daya langka yang sangat sulit di dapatkan, Apel ungu ini bisa meningkatkan kultivasi tingkat Bumi dan jika di olah dengan baik, bisa dijadikan bahan pembuatan pil Langit.


Ye Chen masih terus melamun sampai Chu Xiong menyadarkannya. "Tuan, apa anda tidak tertarik dengan benih itu?"


"Tentu saja." jawab Ye Chen sadar dari lamunannya.


"Kalau begitu cepatlah, lihat kamar lima hampir mendapatkannya."


Kamar lima ini adalah kamar kelompok alkemis. Tak ada yang mau bersaing dengannya. Tapi Ye Chen berbeda, Ia juga seorang alkemis.


"Satu juta keti...


"Satujuta lima ratus."


Bahkan Lao Yifeng juga kaget, Ia tau Ye Chen adalah alkemis tapi tak menyangka Ia berani melawan kelompok alkemis.


Habis sudah, bukan hanya akedemi kekaisaran tapi kelompok alkemis juga.


Orang ini sungguh berani, pikir para peserta lelang.


"Satujuta lima ratus pertama." Ye Chen yang tidak sabar melihat Lao Yifeng diam.


"Dua juta." kelompok alkemis menaikkan tawarannya, namun dengan cepat dibalas Ye Chen tiga juta.


"Tuan, bisakah anda mengalah saja? kami sangat membutuhkan benih ini.


Tak ada jawaban, Ye Chen mengacuhkan ucapan dari kelompok alkemis.


Dan karena tak ada yang menawar lagi, benih apel ungu akhirnya jatuh ke tangan Ye Chen.


"Tuan Ye, hais pokoknya anda harus hati-hati. Kelompok alkemis itu tidak pernah melepas apa yang mereka inginkan." kata Lao Yifeng yang lagi-lagi mengantar sendiri ke kamar Ye Chen.


"Dan aku juga tidak pernah melepas barang yang kuinginkan." ucap Ye Chen datar.


Ye Chen bukan orang bodoh yang tidak bisa berpikir. Ia sadar betul masalah yang menantinya di depan, menyinggung dua kekuatan ini bukanlah hal yang sepele.


Masalahnya Ia tidak mau kehilangan barang bagus dan langka, untuk apa ke pelelangan kalau tidak membawa pulang barang yang disukai.


Barang kedelapan adalah pil Bumi puncak milik Ye Chen, semua peserta lelang telah menunggu pil ini keluar.


Pada pelelangan terakhir, banyak yang kecewa karena tidak bisa mendapatkannya.


Ye Chen tersenyum, "Sudah waktunya."


"Maksud anda tuan?" tanya Chu Xiong heran.


"Lihat tuanmu yang cerdas ini." ucap Ye Chen lalu membuka tawaran lima juta.


Dengan cepat harga pil melonjak ke angka sepuluh juta, dan dimenangkan oleh pemimpin kota Qingyun dan kelompok alkemis.


Barang kesembilan adalah sebuah pedang tipis, pedang ini sangat cocok untuk wanita.


"Chu Xiong, coba lihat apa itu cocok untuk Song Fei?"


"Sepertinya cocok tuan, nona Song juga belum mempunyai senjata yang bagus." jawab Chu Xiong lalu menawar harga atas permintaan Ye Chen. Ye Chen sendiri diam-diam memasang aray pelindung, sekedar berjaga-jaga.


"Sial kamar itu lagi." seorang perempuan paruh baya dengan marah mengirim aura pembunuh ke kamar Ye Chen.


Ia adalah tetua sekte Yin, sekte yang Sebastian besar anggotanya adalah perempuan.


Kamar Ye Chen bergetar karena karena aura yang dilepaskan tetua sekte Yin. "Jangan berhenti, kita harus mendapatkannya."


"Tetua, sabarlah, kita masih punya waktu untuk merebutnya kembali." seorang anggota sekte mengingatkan tetuanya. "Kalau perlu bunuh saja kalau Ia tak mau menyerahkan pedang itu." kata tetua sekte.


Pedang tipis kembali jatuh ke tangan Ye Chen dengan harga lima belas juta.


Barang ke sepuluh. Ye Chen kembali berseteru dengan hampir semua yang berada di kamar vip. Memperebutkan mutiara inti siluman Elang yang setara dengan kultivasi tingkat Suci.


Tapi lagi-lagi dimenangkan Ye Chen dengan harga dua puluh juta keping emas.