Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Mengundurkan Diri


Alam Peri sangat luas, lebih dari sepuluh kali lebih luas dari alam rendah. wilayah Nannan meskipun menempati lebih dari separuh bagian utara dan timur tapi itu belum seberapa, hanya sebagian kecil saja dari seluruh alam Peri ini. Tempatnya tidaklah strategis karena letaknya yang sangat jauh dari istana atau kota lain maupun perkampungan dari suku yang lain.


Tapi kalau menyebut kata indah, mungkin wilayah Nannan ini adalah yang terindah dari seluruh alam Peri. Di bagian timur terdapat garis pantai yang membentang jauh, ada juga sebuah danau yang sangat luas dan dalam, sungai-sungai yang langsung bermuara ke laut, gunung-gunung dan tentu saja puncak es di bagian utara yang menjadi ciri khas dari wilayah ini.


Sayangnya tempat itu berantakan, di mana-mana terdapat lubang besar, hutan yang dulu sangat lebat kini hanya ditumbuhi pohon-pohon kecil yang baru tumbuh. Sungai-sungai banyak yang kering, hanya mengalirkan sedikit air. Kering dan gersang, mungkin kata itulah yang paling cocok untuk menggambarkan situasi wilayah Nannan.


Suatu hari, utusan dari istana datang untuk melihat-lihat keadaan di sana. Mereka datang bersama keluarga prajurit yang ikut pindah.


Sebelumnya Paman dan Lin Yungtao serta para prajurit kembali ke istana dengan niat mengundurkan diri. Mulanya sang kaisar dan petinggi militer terutama ayah dari Lin Yungtao menolak, apalagi setelah melihat seratus prajurit yang baru beberapa hari saja sudah berada di tingkat Surgawi awal. Pasukan ini akan sangat kuat.


Melalui perdebatan yang panjang antara Paman dan para pemimpin di istana, akhirnya kaisar meluluskan permintaan pengunduran diri. Paman sejak kepergian puteri Jia bisa dibilang tidak ada pekerjaan tetap yang dilakukannya, panglima muda dengan alasan akan melanjutkan pelatihannya dan mungkin akan kembali ke akademi Langit sementara para prajurit itu tentu saja mengikuti komandan mereka.


"Paduka, saya kira kita terlalu berlebihan jika menganggap Chen'er atau kami suatu hari nanti akan berkhianat. Lalu apa bedanya tempat itu dan tempat lain dinegara ini, seperti kota atau wilayah suku-suku yang benyak tersebar di alam ini." kata Paman saat itu, sewaktu membela kepentingan wilayah Nannan.


Menteri yang paling tidak setuju adalah menteri urusan sumber daya, menteri Kun. Ia kerap kali mengajukan pertanyaan yang kadang tidak masuk akal, menjebak dan memojokkan.


"Apa keputusanmu sudah bulat?" di wilayah Nannan, panglima besar yang juga merupakan ayah dari Lin Yungtao mengajak puteranya berbicara empat mata.


"Keputusanku sudah bulat ayah. Aku rasa dengan mengikuti tuan Chen, aku akan lebih cepat berkembang daripada harus menjadi panglima. Oh ya apa ayah tau bagaimana prajurit-prajurit itu bisa menerobos?" Lin Yungtao lalu menceritakan kembali pengalamannya sejak pertama bertemu Ye Chen sampai ketika Ye Chen memasak Kirin untuk mereka semua.


"Kau kalah? tidak mungkin, aku lihat, dia hanya tingkat Suci puncak saja. kalau tidak menggunakan artefak, pasti dia menggunakan trik tertentu dan kau terjebak."


"Jangan tertipu ayah, aku pun sama seperti ayah waktu pertama melihatnya. Aku rasa kultivasinya jauh di atasku." sahut Lin Yungtao.


Cukup lama kedua ayah dan anak ini berbincang, sampai ketika Paman datang, mengabarkan jamuan sambutan sudah siap. Ye Chen telah menyiapkan semuanya, sebagai tuan rumah tentu saja Ia harus menjamu tamunya.


Panglima besar masih terkejut, meskipun sebelumnya sudah diberitahu bahwa masakan Ye Chen sangat spesial. "Ini di luar perkiraanku, kalau begini terus, wilayah Nannan ini bisa menjadi sangat kuat." batinnya, yang meskipun energi dalam masakan itu dengan cepat mengisi energi di dalam tubuhnya tapi pengaruhnya hanya sedikit.


Ia sesekali melirik ke arah Ye Chen yang menurutnya sangat ramah dan sopan, bahkan tidak ada yang tidak duduk di meja. hanya beberapa pelayanan dan prajurit yang bertugas membawa makanan saja yang tidak duduk. Ini membuktikan bahwa Ye Chen sama sekali tidak memandang status. Sangat pantas dan cocok untuk dijadikan seorang pemimpin dan Lin Yungtao tidak salah jika ingin mengikutinya.


"Panglima, silahkan... tambah lagi, jangan sungkan." kata Ye Chen ramah. Ia sendiri tidak ragu untuk makan, Ia dengan sangat senang memakan semua yang ada di depannya.


"Paman, apa keponakanmu ini juga seorang ahli makan?" bisik panglima beaae yang memang duduk di sebelah Paman.


"Oh ya Paman, aku dengar dari Yungtao, keponakanmu memasak Kirin, apakah ini daging Kirin?"


"Aku juga tidak tau, tapi aku rasa bukan karena rasanya berbeda dari yang kemarin."


"Betul Paman, itulah sebabnya aku bertanya, yang aku tau, pasti daging Kirin jauh lebih besar energinya dari pada ini. Huff, sayang sekali... kenapa aku baru datang sekarang."


Waktu berlalu, acara makan-makan selesai dan saat ini, panglima Besar ditemani Paman dan anaknya berjalan-jalan, melihat keadaan wilayah Nannan.


"Ayah, itu kebun herbal kami. Tapi maaf tuan Chen tidak membolehkan siapa pun masuk kesana."


"Oh benarkah? kenapa begitu, apakah ada yang Ia sembunyikan?"


"Ayah... bukan begitu, kami semua mencari dan mengumpulkan semua sisa sumber daya yang dapat kami temukan dan menanamnya bersama-sama. Menurut tuan Chen, kehadiran kita di dalam akan mengganggu tumbuh kembang herbal-herbal itu." Lin Yungtao menjelaskan detail pembuatan tempat itu.


Sumber daya herbal yang mereka temukan hampir semuanya rusak, harapan untuk tumbuh sangat kecil. Itulah kenapa Ye Chen melarang mereka masuk. Setelah ditanam, Ye Chen memasang aray pelindung sekaligus hukum waktu di dalam sana.


Sebagian herbal itu Ye Chen semai terlebih dahulu di kebun herbal pribadinya, yang ada di dalam dimensi cincin. Karena di dalam ada pohon kehidupan yang bisa merangsang pertumbuhan herbal tersebut. Setelah disemai, Ye Chen membaginya untuk di tanam di dalam dan untuk dikembangkan di kebun wilayah Nannan.


"Paman, maaf sebelumnya." Paman hanya mengangguk, Ia tau panglima besar ingin melihat ke dalam melalui kesadaran jiwanya. Kalau dari luar dapat terlihat jelas aura kuat dari setiap tanaman herbal, Ia penasaran seperti apa tampilan di dalam sana.


Uhukk...


Panglima besar terbatuk, matanya memandang nanar dan tanpa sadar berjalan mundur beberapa langkah. dadanya berdegup tidak beraturan.


"Bagaimana? apa anda puas?" pertanyaan Paman yang terdengar ambigu ini menyadarkan panglima besar.


Panglima besar menghela nafas, lalu menggeleng dan berkata, "Aku sama sekali tak bisa masuk dan ketika aku memaksa, sebuah kabur hitam mengurungku." kata panglima besar. "Apa itu tadi? kenapa aku merasa takut?" ucapnya dalam hati.


Ditempat lain, Ye Chen yang menyadari tindakan panglima besar ini tidak marah. Ia hanya ingin sedikit memberi pelajaran karena ingin melihat kebunnya walupun sudah diperingatkan.


"Buka" dari jauh Ye Chen bergumam dan Mengaktifkan penjara kegelapan. Untung saja panglima besar cepat sadar dan berjalan mundur, kalau tidak, Ia saat ini pasti sudah terkurung di dalam penjara kegelapan.