
Ketua Bong juga mengatakan kalau dengan izinnya, Ye Chen atau siapa pun bisa mempelajari teknik di lantai tiga tanpa ada masalah dengan pengurus sekte.
"Ini sangat memalukan, tapi aku akan jujur, kultivasi ku berhenti dan mengalami kemunduran. Kalau tidak aku mungkin sekarang tidak hanya menjadi ketua murid terluar. Jangankan menjadi tetua, menjadi wakil pemimpin sekte saja bukanlah hal yang mustahil."
Ye Chen tidak heran, ini membuktikan kenapa ketua Bong bebas menjelajah seluruh bagian sekte, bahkan para tetua masih bersikap sungkan padanya, meskipun tidak sedikit juga yang memandang rendah padanya.
"Yah, itu karena aku mengorbankan diriku untuk kejayaan sekte."
Dulu sekte Api Abadi hampir musnah karena berperang, ketua Bong yang saat itu berada di puncak kultivasinya berjuang sendiri dan akhirnya berhasil membawa kemenangan bagi sekte tapi itu dibayar mahal dengan kemunduran kultivasi karena terluka.
"Kalau begitu, tingkatkan dulu kultivamu. Paling tidak kamu harus berada di ranah Dewa."
"Senior, kurasa anda tidak mengerti. Kultivasi ku mengalami kemunduran. dulunya aku adalah seorang Dewa Raja tapi sekarang berada di ranah Surgawi. Jangan menggodaku." Sahut ketua Bong sedih.
"Katakan saja, kau mau atau tidak? Kalau tidak mau ya sudah, aku juga tidak akan memaksamu tapi teknik Debu Api mustahil kau pelajari di tingkatanmu yang sekarang."
Ye Chen tidak berbohong, tingkat Dewa bahkan tidak akan bisa menguasai teknik itu karena membutuhkan Qi dan inti api yang kuat. Hanya karena ketua Bong sebelum nya pernah menginjak ranah Dewa Raja makanya Ia menjadi pengecualian, pemahamannya tentang teknik kultivasi sudah mendalam meskipun sekarang sudah jauh menurun.
"Tentu saja aku mau, tapi sayangnya di alam ini tidak ada lagi yang bisa membantuku. Semua jalan telah aku coba tapi tidak ada yang berhasil."
"Tentang saja, serahkan padaku."
"Benarkah?" ketua Bong masih tidak percaya, namun melihat keyakinan Ye Chen, dia merasa ada sedikit harapan.
"Ambil ini, kalau kamu berhasil melewatinya, datang padaku untuk langkah selanjutnya."
Ye Chen memberikan secarik kertas berisi resep herbal untuk berendam beserta tiga pil.
Dikatakan bahwa dia harus berendam ramuan herbal selama tiga kali dengan interval dua hari. Jadi selama satu minggu ini, ketua Bong harus berendam sambil menelan sebuah pil.
"Senior, terima kasih. Aku akan mengingat ini." kata ketua Bong dengan tulus.
"Ingat, jangan berhenti di tengah jalan. Setelah kamu mencoba yang pertama, maka tidak ada kata mundur lagi atau akibatnya tidak akan bisa kamu bayangkan."
"Baik!"
Mereka lalu berpisah, Ye Chen kembali ke kediamannya untuk mempelajari teknik lain yang diambilnya dari lantai tiga.
Kediaman Ye Chen sekarang jauh lebih baik, Ketua Bong menyerahkan rumah yang biasa dia tempati sementara dia sendiri menempati rumah lain.
Mula-mula Ye Chen membuka kembali Teknik Debu Api, tahap pertama dari teknik belum terlalu dikuasainya saat bertarung melawan tetua Kun namun, pemahaman nya bertambah berkat pengalaman itu.
"Oh ternyata begitu. Jadi memang aku salah di titik itu." gumammya dengan lirih.
Ye Chen cukup melakukan simulasi kecil untuk memantapkan tahap pertama ini dan setelah yakin tidak ada yang terlewat, dia masuk ke cincin semesta untuk praktek langsung.
Tak lama kemudian tahap pertama telah sempurna, lanjut ke tahap kedua, sempurna lalu tahap ketiga.
"Ini butuh waktu." kembali Ye Chen berkata lirih, dia tak memaksakan diri lagi. Mungkin akan lebih baik jika digunakan langsung dalam pertempuran, pikirnya.
Ye Chen terus mengolah teknik-teknik lain.
Seminggu kemudian, dia baru keluar dengan senyum lebar sambil mengelus cincinnya. Seperti yang Ia perkirakan sebelumnya, cincin itu tidak ditolak ketika melintas ke alam ini.
"Senior, apa anda di dalam?"
Itu suara ketua Bong.
Ye Chen pun segera keluar, mengangguk puas melihat tampilan ketua Bong. "Kamu berhasil. Masuklah."
Mereka langsung berjalan sampai ke halaman belakangan. "Ketua Bong, bagaimana rasanya ... "
"Senior Ye, terima kasih."
Belum selesai Ye Chen berbicara, ketua Bong sudah memotongnya dengan berlutut dan berterima kasih dengan tulus. Setitik harapan muncul dalam matanya, betapa tidak, puluhan tahun Ia telah berusaha namun tak ada yang berhasil.
Kalau saja Ia tidak bertemu dengan Ye Chen atau jika saja Ye Chen tidak menjadi murid terluar, dia akan tetap menjadi dirinya. Bahkan ucapan terima kasih saja tidak akan cukup untuk mengungkapkan perasaannya.
"Bangunlah... perjuanganmu belum selesai. Selanjutnya tidak akan sesulit itu."
Ketua Bong mengangguk, "Senior, metode anda sangat di luar dugaan. Aku hampir saja tewas di sana."
"Oh benarkah? aku tak menyangka akan sekuat itu hehe. Jujur saja metode itu terlintas begitu saja dan aku juga tidak tau akan berhasil atau tidak. Untungnya kemauan ketua Bong memiliki kemauan yang tinggi hehe."
"... " Ketua Bong.
"Sudahlah. Ayo, saatnya menaikkan kultivasimu. Di sini ada dua pil, pertama telanlah pil ini, setelah kamu meridianmu terbuka, kamu harus menelan pil ini."
Begitulah, ketua Bong akhirnya memulai kembali kultivasinya yang mengalami kemunduran di bawah pengawasan Ye Chen.
Dua hari kemudian, ketua Bong sudah benar-benar berhasil melaju ke tahap Dewa.
"Sesuai janjiku, aku akan memberimu teknik Debu Api. Berlatihlah."
Ye Chen menjentikkan jarinya, sebuah kitab lalu muncul di tangannya. "Aku telah merangkum teknik Debu Angin, jangan khawatir aku hanya menyesuaikan agar sesuai dengan kultivasi mu, seiring dengan meningkatnya kultivasi mu nanti, pemahaman mu juga akan semakin baik."
Ketua Bong buru-buru membuka kitab di tangannya. Matanya langsung berbinar cerah.
Dia pernah melihat dan mencoba memahami teknik itu, namun hanya tahap pertama saja yang dapat Ia pahami, itu pun tidak lebih dari lima puluh persen. Sungguh tidak layak untuk disebut.
Sedangkan kitab di tangannya ini, hanya membaca sekilas saja dia sudah merasa bisa melakukannya. Ketua Bong mengalihkan pandangan nya, dia melihat Ye Chen dengan pandangan kagum.
"Tidak usah begitu kagum dan memujiku lagi, aku memang hebat tapi aku tidak suka dibilang hebat hehe." kata Ye Chen, dia berdiri dengan sikap keren.
" ... " Ketua Bong.
"Sudahlah, aku akan berlatih kembali. Sebaiknya kamu berlatih juga. Cari aku kalau ada yang kurang jelas."
Setelah itu Ye Chen masuk lagi ke dalam ruangannya dan mulai mempelajari kembali teknik sekte Api Abadi.
Beberapa hari pun berlalu, dua orang beda generasi terlihat sibuk melatih teknik beladiri tingkat tinggi. Saat ini Ye Chen telah cukup memahami teknik yang diambil dari lantai tiga dan karena tidak ada yang perlu Ia pelajari lagi, Ia pun beralih pada sebuah kitab usang yang secara acak diambilnya dari lantai dua.
Kitab itu tergeletak begitu saja di sebuah rak buku dekat tangga.
"Teknik Meciptakan Api."