Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Kembali ke Desa Ye


Ye Chen memang sengaja tidak segera keluar, Ia ingin memeriksa artefak pangeran kegelapan atau kalau mungkin akan mengambilnya, sekaligus mengambil dua batu hitam yang dipakai sebagai portal masuk ke dimensi markas sekte kegelapan.


Di gedung utama, Ye Chen berdiri di depan artefak, tangannya terulur memegangnya dan hal tidak terduga tiba-tiba saja terjadi.


Artefak ini seolah menyerap seluruh dimensi, uap hitam tipis berkumpul dan menyatu ke dalamnya lalu perlahan masuk lagi ke dalam tubuh Ye Chen melalui tangannya.


Ye Chen yang ingin menarik tangannya tapi tidak bisa akhirnya hanya membiarkannya saja.


Tak ada rasa sakit atau tertekan dari energi yang begitu besar ini, Ia hanya menikmatinya saja dan...


Bumm...


Ledakan kecil di dantiannya meledak, naik satu tahap lagi menjadi tingkat Langit tahap menengah.


Hanya saja energi yang asalnya dari alam kegelapan ini sedikit mengganggu keseimbangan Qi yang Ia miliki.


Menyadari ini, Ye Chen segera mengaturnya, menyelaraskan sampai tidak ada masalah baginya.


...


Di luar dimensi markas sekte kegelapan.


Panglima Cia dan Lu Pin beserta seluruh pasukannya telah pergi.


Mereka tidak menunggu Ye Chen, karena harus cepat-cepat kembali untuk melaporkan peristiwa ini.


"Senior, Akhirnya kau keluar juga."


"Oh jadi kalian menungguku? maaf ada sesuatu yang ingin aku pastikan sebelum keluar." ucap Ye Chen.


"Saudara Chen? apa rencanamu selanjutnya? tanya Cia Sun.


Ye Chen tampak berpikir. Banyak hal yang harus Ia pastikan sebelumnya, sekarang ditambah lagi dengan adanya sekte kegelapan yang Ia yakini masih ada yang lain.


"Aku akan membangun tempat ini, paling tidak ada sebuah bangunan dan gerbang masuk desa."


"Bagus, aku akan membantu." sahut Ma Dong.


Ye Chen kemudian memilih taman di belakang desa dan merubuhkan semua bangunan yang ada sebelumnya.


"Tuan, karena tidak ada keperluan lagi, kami mohon pamit kembali ke paviliun." ini adalah suara pelindung paviliun yang turut membantu Ye Chen.


"Sampaikan salamku pada ketua Gu, setelah urusan di sini beres, aku akan berkunjung," balas Ye Chen lalu mengeluarkan dua kantong penuh dengan kepingan emas. "Ini bekal perjalanan anda, jangan menolak, itu adalah harta rampasan sekte."


"Baik aku mengerti, akan kusampaikan pesan anda."


Yang tersisa setelah kepergian pelindung paviliun teratai pergi adalah Chu Xiong, Song Fei, Cia Sun, Ma Dong dan Lu Jia Li.


Satu bulan berlalu, bangunan pertama di desa Bunga telah berdiri kokoh.


"Sayang sekali, betapa bagusnya kalau ada portal teleportasi di sini." batin Ye Chen. Ia hanya bisa membuat aray pelindung dan aray ilusi di sekeliling desa sebelum meninggalkannya.


"Baiklah, saatnya kembali," kata Ye Chen. "oh ya nona Song, dimana Angsa Pelangi itu, kenapa aku tidak pernah melihatnya?"


"Ada tuan, masih ingat dengan telaga tempat dulu Ia ditemukan? di sana ada sebuah gua, aku menyuruhnya tinggal di sana. Sebentar aku menjemputnya dulu."


"Angsa Pelangi...! wah kau tambah besar, dan lihat bulumu, aih kau makin cantik saja haha...." Ye Chen berteriak-teriak senang bertemu kembali dengan siluman Angsa Pelangi. pun demikian dengan Angsa Pelangi yang mengenali Ye Chen.


"Nah kau bersiaplah, kita akan pulang." kata Ye Chen sambil mengusap bulu lembut Angsa Pelangi."


"Tuan, apa anda tidak pamit dulu dengan nona Ji Li dan Ma Dong?" Chu Xiong.


"Bukankah minggu kemarin kita sudah berpamitan dengan semuanya? sayang sekali mereka tidak bisa ikut."


Ma Dong tidak bisa ikut karena masih harus mengurus sektenya sendiri, sebagai seorang jenius tentu saja Ia harus ikut membangun sektenya. Sedangkan Lu Jia Li, karena pertimbangan kultivasinya yang masih di tingkat Bumi tahap tinggi.


Ye Chen sendiri memutuskan untuk kembali ke desanya, Ia akan memulai semuanya dari sana.


Disamping itu, Ia juga kehabisan kristal bening, yang tersisa sudah Ia gunakan semua untuk memperkuat aray pelindung desa Bunga.


Kwaaak...


Dari jauh Rajawali tunggangan Ye Chen berteriak nyaring, terbang mendekat dan berdiri dengan gagah di dekat Ye Chen.


"Sudah kenyang?" tanya Ye Chen yang di angguki oleh Rajawali seolah mengerti ucapannya. "Bagus, kita berangkat sekarang."


"Nona Song, kau ikut denganku. Biarkan saja dua batangan itu bersama-sama hehe...." Chu Xiong dan Cia Sun hanya tersemyum, sedangkan Song Fei berjalan tertunduk dengan muka memerah mendengar candaan Ye Chen.


Sebelum berangkat, Ye Chen memberikan kepingan emas kepada mereka. "Simpanlah, jangan menolak, semua yang ikut dalam perang melawan sekte kegelapan sudah mendapat bagian." ucapnya.


Sepanjang perjalanan, Ye Chen hanya diam. Ia kembali sibuk di dalam dimensi cincinnya, berlatih berbagai macam tehnik yang Ia ketahui dan melatih aura membunuhnya yang kian pekat sejak menyerap artefak pangeran kegelapan beserta seluruh aura hitam yang ada di sana.


"Tuan, apa arah yang kita tempuh ini sudah benar?" tanya Chu Xiong ketika suatu hari mereka beristirahat.


Ditanya begini, Ye Chen malah bingung. "Bukannya kau yang menunjukkan jalannya?"


Chu Xiong lebih bingung lagi. "Hhe, aku kan belum pernah ke sana?"


"Tapi kau yang paling tua, masa tidak bisa memprediksi arah?" balas Ye Chen.


Song Fei dan Cia Sun yang baru saja kembali berburu bertanya heran tapi Ye Chen hanya diam, Song Fei lalu bertanya pada Chu Xiong.


"Paman Chu ada apa?"


"Jangan tanya padaku, tanya tuan mudamu itu."


"Aku juga tidak tau."


"Bukannya anda yang memimpin jalannya?" sahut Chu Xiong.


"Betul, tapi kau juga setuju saja dan itu kuanggap kau tau jalan." bantah Ye Chen.


"Sebenarnya dimana letak desa Ye, benua timur kan?" Cia Sun ikut berbicara.


"Benua tengah, tapi dekat dengan benua timur." jawab Ye Chen.


"Kalau begitu kita ke benua timur saja." kata Cia Sun.


Yang Ye Chen tidak tau adalah perbatasan desa Ye terdekat adalah kekaisaran Zhao dan yang terjauh adalah kekaisaran Han.


Dalam pikirannya, asalkan mengambil arah timur maka desa Ye akan mudah ditemukan, apalagi bisa langsung memantau dari atas.


Perdebatannya dengan Chu Xiong bukanlah apa-apa, Ia hanya merasa sedikit bosan.


Baginya tidak masalah turun dimana saja asal itu di benua timur.


"Lihat ada rumah penduduk," teriak Song Fei. Bagaimana apa kita turun dulu?" lanjutnya.


Pemukiman itu telah ditinggalkan, lewati saja." sahut Chu Xiong. Ye Chen mengangguk setuju. "Aku rasa sebentar lagi akan ada pemukiman lain."


Beberapa hari setelah itu, dari atas nampak sebuah kota kecil yang cukup ramai.


Chu Xiong mengarahkan Angsa Pelangi diikuti Rajawali untuk turun jauh di luar tembok kota. Perjalanan akan dilanjutkan dengan berjalan kaki untuk menghindari perhatian penjaga.