
"Giro! menjauh!"
Dari dalam kabut hitam, Ye Chen berteriak keras. Sesaat kemudian sebuah ledakan yang sangat keras terdengar. Ye Chen kembali meledakkan artefak tingkat tinggi lainnya yang Ia tanam secara khusus untuk menjebak Sirio.
Sirio yang tidak memiliki kesempatan bertahan hanya bisa memperkuat perisai tubuhnya. Ia lalu mengigit bibirnya bersiap melancarkan pukulan lain.
"Tapak Semesta."
Sebuah tapak besar tiba-tiba muncul dari langit, menekan Sirio yang tidak jadi melancarkan serangan karena harus memfokuskan semua tenaganya untuk bertahan.
Sementara Ye Chen yang melihat Sirio mengangkat kedua tangannya ke atas untuk menahan tapak semesta membuat gerakan lain, Ia mengaktifkan teknik tarian pedang yang merubah pedang hitam menjadi sepuluh. Bayangan pedang ini mengepung Sirio dari segala sisi dan berhasil membuat Sirio berkeringat dingin.
"Apa aku terlalu memandang rendah bocah ini?" batinnya.
Sirio mengesampingkan pikirannya, tak ada waktu untuk berpikir. Terlambat sedikit saja, Ia pasti terluka parah.
Sepuluh aura pedang hitam bergerak semakin dekat tanpa mengeluarkan suara. Sirio menarik kedua tangannya lalu mendorongnya ke atas, mengirim gelombang kejut untuk menahan tapa semesta Ye Chen. Setelah menarik kembali tangannya, Sirio lalu merentangkan nya dan berputar, mengirim gelombang kejut lainnya.
Blarr...
Blarr...
Ledakan keras terdengar, mengguncang tempat itu. Kabut hitam pun sedikit tersibak lalu hilang sepenuhnya.
Karena duel itu tinggal satu-satunya yang tersisa, maka semua mata menyaksikannya, "Sungguh pertarungannya yang dahsyat." ucap seseorang.
"Aku belum selesai!" Sirio memaksa berdiri setelah menahan dua serangan Ye Chen yang sangat kuat. Tangan Sirio bergerak cepat, mengambil sesuatu lalu menelannya.
Ye Chen tak tau yang Sirio lakukan lalu tanpa peduli dengan kondisinya yang tak jauh berbeda dengan Sirio, Ia kembali membuka tapaknya, menghantam lurus ke arah Sirio dan melemparkan belati Iblis di tangan kirinya.
"Gawatt! Pergii...!!"
Sirio mengeluarkan momentumnya dan Ye Chen yang menyadari ini berteriak keras agar semua yang ada di sana menjauh.
"Sepertinya kau benar-benar menyukai mereka semua." kata Sirio, mulutnya tersenyum sinis.
Bamm....
Sirio memukul tanah dengan kedua tangannya, Ia mengerahkan semua kekuatannya, yang tadi ditelannya adalah pil darah, pil khusus untuk menambah kekuatan berkali lipat dalam waktu singkat.
Akibat perbuatan nya ini, seluruh tempat itu bergetar seperti sedang terjadi gempa disertai gelombang kejut yang lebih kuat dan ganas sampai lebih dari 500 meter, setiap yang ada dalam radius itu meledak menjadi kabut darah.
Kecuali Giro dan pasukan seratus, mereka hanya muntah darah dan terluka parah bahkan Ye Chen pun terpental dan terluka.
Ye Chen perlahan-lahan berdiri, Ia tidak menelan pil pemulih karena sudah tidak ada waktu lagi. Keadaan Sirio sekarang adalah waktu terbaik untuk mengalahkannya. Dengan kekuatan tersisa, Ye Chen mengangkat sebelah tangannya.
"Badai Api Phoenix."
kretak... kretak...
Terdengar suara seperti ranting terbakar di atas langit, tepat di atas Sirio. lalu, Brammm....
Hujan api menghantam Sirio, membakar setiap inci tubuhnya. Ia berteriak tapi suara yang keluar terdengar seperti jeritan yang membuat bulu kuduk berdiri. Ye Chen mengambil kesempatan ini untuk menelan pil pemulih sambil terus mengontrol badai api yang terus menerus dipatahkan oleh Sirio dengan pukulan tangannya.
Ini adalah puncak dari pertarungan antara Ye Chen dan Sirio, siapa yang kehabisan energi terlebih dahulu maka dialah yang akan celaka.
Kalau digambarkan dari sudut lain, ini seperti pertunjukan api yang dilakukannya oleh seorang ahli. Ahli itu membuat kubah yang selalu hancur oleh api, terkadang kubah itu naik tinggi ke udara namun tak jarang pula kubah itu berada di atas kepala sang ahli. Dan api yang menyentuh kubah itu akan memantul jauh membentuk titik-titik api yang kecil. Sangat indah.
"Hebaaat..."
Kembali seseorang berseru, suara ini tentu saja mewakili setiap orang yang ada di sana hanya saja tak ada yang bisa bersuara. Namun entah siapa yang memulai, para prajurit Istana dan semua yang ada di sana berteriak memberi semangat pada Ye Chen.
"Hidup tuan Chen!"
"Hoo!"
"Hidup tuan Chen!"
"Hoo!"
Awalnya hanya sedikit yang berteriak namun akhirnya ribuan orang itu berteriak bersama-sama, seperti sebuh kor prajurit.
"Panglima Lin, sebenarnya seberapa tuan Chen ini?"
Paman yang sudah mengenal Ye Chen lama dan sudah pernah melihatnya bertarung masih saja tidak mengerti seberapa kuat Ye Chen sebenarnya. Dia selalu membuat Paman kagum.
"Hehe tentu saja sangat kuat Paman, asal Paman tau waktu aku bersama senior Chen bahu membahu melawan ribuan musuh di dalam sebuah dimensi." Lin Yungtao mulai bercerita, awalnya Ia bercerita dengan sungguh-sungguh tapi lama-lama ceritanya melenceng jauh, berbagai pertarungan yang tidak pernah terjadi pun Ia ceritakan dan Paman juga percaya.
"Paman, aku rasa tak ada yang sanggup mengalahkan senior Chen di alam ini." kata Lin Yungtao pada akhirnya.
"Aku juga berpikir begitu." sahut Paman tanpa menyembunyikan rasa takjubnya.
Sirio mulai melemah, berbeda dengan Ye Chen yang setiap saat bisa mengambil kesempatan menelan pil pemulih, Sirio bahkan tidak punya kesempatan itu. kedua tangannya terlalu sibuk menahan hujan api.
"Teknik tubuh Kirin."
Ye Chen melihat kesempatan lain dan mendekati Sirio setelah terlebih dahulu mengaktifkan teknik tubuh kirin, teknik yang membuat tubuhnya diselimuti api yang berkobar.
Teknik ini Ye Chen gunakan untuk mengalihkan Sirio darinya.
Ye Chen khawatir kalau Sirio mendeteksi dirinya mendekat, Sirio ini akan membuat trik lagi. Bertarung dengan Iblis seperti Sirio yang licik dan memiliki seribu akal tentu harus waspada, celah sekecil apapun harus ditutup.
"Kakak Chen....! oh tidak tidak, Ayah, Ibu... tolong kakak Chen." putri Jia yang melihat Ye Chen terbakar menjadi panik, Ia meminta setiap orang yang ada di sana untuk menolong Ye Chen.
Baru saja Ibu Ratu hendak berbicara, putri Jia langsung melesat cepat, niatnya adalah menolong Ye Chen. Untungnya Paman segera menyusul dan dengan berhasil menahannya. "Tuan Chen tidak apa-apa, lihatlah." kata Paman.
"Paman....
"Apa kau lupa dengan Kirin di alam atas dulu?"
Paman mencoba mengingatkan putri Jia saat Ye Chen bertarung dengan Kirin. "Ya, aku rasa itu adalah teknik tubuh api kirin." kata Paman lagi.
"Tenanglah, coba rasakan lagi dengan perlahan." lanjut Paman lagi. Setelah itu putri Jia pun tersenyum sambil menundukkan kepalanya. "Maaf Paman." ucapnya pelan.
"Penjara Kegelapan."
Ye Chen bergumam pelan, penjara kegelapan sudah di aktifkan dan langsung mengurung Sirio.
Pertarungan itupun berhenti, menyisakan Ye Chen yang masih berdiri tegak di sana. Ia masih terus berjuang menahan dan membelenggu Sirio dalam penjara kegelapan.