Pendekar Sadis

Pendekar Sadis
Sambutan Penjaga Desa Ye


"Tuan Ye anda darimana saja," sapa tetua Kam saat Ye Chen tiba di rumah lelang. "Apa anda mendengar anak menteri Wu dihajar oleh seseorang dan mematahkan kakinya? tanyanya lagi dengan penuh selidik, karena melihat noda merah seperti darah di pakaiannya.


Cepat juga beritanya pikir Ye Chen. "Tebakan anda tidak salah, tapi bukan aku yang memulai. Tapi dia duluan yang mencari masalah dengan pengawalnya."


"Lalu bagaimana dengan pengawalnya? kenapa membunuhya?"


"Tetua Kam, anak manja itu menyuruh pengawalnya mematahkan kakiku, tapi yang terjadi adalah mereka berniat membunuh. Oleh karena itu aku membunuhnya, kira-kira begitu hehe." ucap Ye Chen sambil menggaruk kepala.


Tetua Kam hanya menggeleng, sekarang dia sedikit mengerti karakter Ye Chen ini. Benar-benar tidak memberi ampun jika ada yang mengganggunya.


Esok harinya Chu Xiong, Cia Sun dan Song Fei akhirnya tiba di ibukota, dengan mudah mereka menemukan jejak Ye Chen di rumah lelang. Tetua Kam lah yang membawa mereka ke rumah lelang, sayangnya Ye Chen masih tidur ketika mereka datang. Sorenya baru bisa bertemu langsung.


"Kalian istirahat dulu, dua hari lagi kita berangkat." kata Ye Chen mengakhiri pertemuan mereka lalu masuk kembali ke ruangannya diikuti Cia Sun dan Song Fei.


"Tuan Chu, apakah itu anda?" tanya tetua Kam saat mereka hanya tinggal berdua saja, pertanyaan yang sejak awal ingin Ia tanyakan tapi ragu.


"Tetua Kam, waktu cepat berlalu."


"Ah tidak baik berbicara di sini, ayo kita ke dalam," ajak tetua Kam. "Bagaimana kabar benua utara? oh ya sebelumnya selamat sudah berhasil menerobos tingkat Langit."


Chu Xiong menghela nafas. "Aku sudah lama tidak kembali, mungkin tidak akan kembali. Seperti yang anda lihat, aku telah mengangkat tuan Ye menjadi tuanku."


"Apa tuan Ye tau siapa kau sebenarnya?"


"Aku rasa tidak perlu, dia hanya tau aku adalah seorang kepala perampok. Kalau pun tau, aku yakin tidak akan berpengaruh padanya." Chu Xiong berhenti sebentar lalu bertanya pada tetua Kam. "Lalu kenapa anda berada di sini? sepertinya anda juga mengangkat tuan mudaku menjadi tuanmu."


"Tuan Chu, anda tau, aku ini sangat menyukai alkemis. Tuan Ye berbaik hati memberikan beberapa ilmunya dalam alkimia, jadi aku memutuskan untuk mengikuti nya."


Pembicaraan mereka berakhir setelah setelah puas menceritakan pengalaman masing-masing setelah perang besar. Tetua Kam yang masih penasaran kemudian bertanya lagi untuk terakhir kalinya. "Tuan Chu, setelah mendengar cerita anda, akupun ingin ikut bersama ke desa Ye."


Dua hari berlalu, Ye Chen memimpin rombongan yang akan segera berangkat, di sana juga ada tetua Kam yang ingin ikut serta. Setelah berpamitan kepada Lao Kang dan pengurus rumah lelang yang lain, merekapun berangkat.


"Tuan Ye, bagaimana dengan puteri Han Meilan?" tanya tetua Kam sesaat setelah mereka pergi.


"Maksud anda tetua?"


"Aku sempat bertemu Han Le, dan sepertinya puteri itu menyukai anda."


"Aku tak memikirkan itu tetua Kam, kuakui dia cantik tapi bukan berarti aku tertarik. Sebaiknya kita terbang sekarang." jawab Ye Chen dan terbang menggunakan tehnik pedang terbang meninggalkan tetua Kam sendiri, karena dia belum bisa menggunakan tehnik pedang terbang.


"Tuan muda...."


"Paman Chu, kalau mau, temani saja dia berlari. kita bertemu diluar hutan sana." ucap Ye Chen tanpa menoleh, sudah tau apa yang akan dikatakan Chu Xiong.


"Hebat!" puji tetua Kam melihat Ye Chen dan yang lain terbang dengan pedangnya.


"Tetua Kam, tehnik itu diciptakan tuan muda, sesampainya di desa Ye nanti, anda juga bisa mempelajarinya." Tetua Kam mengangguk dengan senang mendengar perkataan Chu Xiong yang terpaksa menemani tetua Kam berlari.


Dari kejauhan, desa Ye nampak makmur. Benar-benar tertata dengan sangat baik, semua ini dapat terlihat lebih jelas dari atas. Mereka semakin dekat, dan akhirnya memasuki kawasan desa, Ye Chen yang berdiri paling depan menjulurkan tangannya membuka aray pelindung yang dulu Ia pasang.


"Berhenti!" tetap di tempatmu."


Ye Chen dan rombongan yang masih di udara dihadang sekelompok penjaga yang juga terbang menggunakan pedang. Ye Chen hanya tersenyum melihat ini, ada perasaan bangga di hatinya. Mau tidak mau Chu Xiong dan yang lain takjub dan bangga, di seluruh benua, mungkin hanya penjaga desa Ye saja yang bisa terbang dan tingkat kultivasi yang tinggi, semua di tingkat Bumi puncak.


Perlahan Ye Chen turun diikuti yang lain, namun begitu sampai di bawah Ye Chen mencabut pedang hitamnya.


"Tuan muda, apakah anda akan menyerang orang sendiri?" ucap Song Fei yang berada di sampingnya bingung.


Ye Chen mengabaikannya. "Hah desa Ye, apanya yang hebat, aku datang untuk menghancurkan tempat kalian." ucapnya kemudian melesat menyerang para penjaga.


Tidak main-main, Ye Chen menyerang menggunakan tehnik tarian pedang. Penjaga yang juga turun tidak gugup, mereka mengatur formasi bertahan, saling melindungi.


Syuut...


Syuut...


Belasan anak panah melesat, bukan hanya menyerang Ye Chen tapi juga Chu Xiong dan yang lain yang dengan terpaksa mencabut senjata masing-masing untuk menangkis anak panah.


"Minggir!"


Pasukan penjaga pertama melompat mundur digantikan sepuluh penjaga lain. Tetua Kam yang sejak awal memperhatikan para penjaga kaget ketika melihat salah satu dari mereka tiba-tiba saja hilang. Ia berusaha mendeteksi tapi hasilnya nihil seolah penjaga itu hilang ditelan bumi. "Apakah itu tehnik teleportasi?" batinnya.


"Tehnik tapak jiwa...."


Sepuluh penjaga dengan kekuatan penuh menghantam ke depan, kekuatannya tidak main-main. Qi berbentuk tapak tangan menghantam bersama.


Blaarr...


Ini belum seberapa, belasan anak panah lalu menyusul. Kali ini berbeda, anak panah ini terbentuk dari Qi dengan daya hancur yang lebih besar.


"Bertahanlah kalau tidak ingin terluka hehe." ucap Ye Chen kepada rekannya.


"Tuan muda, hais...." gerutu Chu Xiong sambil memasang perisai. Tidak Ada waktu membalas, serangan yang penjaga desa Ye lancarkan tidak pernah putus. Mereka secara teratur bergantian menyerang dan dengan bantuan pil pemulih Qi, para penjaga ini seolah tak pernah kehabisan tenaga.


"Tetua Sun, nona Xiao, anda datang." kata salah satu penjaga.


"Bagaimana situasinya? apakah kau tau mereka siapa?" tanya Xiao Yun yang baru saja tiba. Bukan penjaga yang menjawab tapi Sun Yi, "Nona Xiao, bukankah itu tuan muda...?" ucapnya sedikit ragu.


Xiao Yun tersenyum. "Hehe lihat saja, tetua Sun hantam mereka dengan kekuatan penuhmu, aku akan menyiapkan sebuah kejutan."


Tanpa pikir panjang, Sun Yi melepaskan tapak jiwa dengan kekuatan penuhnya. "Target kalian pemuda yang di depan itu." ucap Xiao Yun pada pasukan pemanah yang datang bersamanya. Sementara Ia sendiri mengambil busur andalannya dan membuat tiga anak panah Qi yang transparan.


"Tuan muda, jangan mati hehe." lanjutnya lagi lalu melepas anak panah yang tersamar di antara anak panah yang lain.